Kesederhanaan Presiden Joko Widodo : Biarkan Foto Yang Berbicara

0
1173
Presiden Joko Widodo saat mengunjungi korban bencana alam di Banten, (Foto Biro Pers Setpres)

JAKARTA (LINTAS PAPUA) –  Hampir dua tahun silam, hari Rabu (1/3/2017) masyarakat Indonesia menyaksikan lewat layar televisi, Presiden Jokowi memayungi Raja Arab Saudi Salman bin Abdulaziz di Istana Bogor, di tengah guyuran air hujan.

Sementara tangan kiri memegang payung, tangan kanan Jokowi menggandeng erat Raja Salman. Lengan kiri Jokowi pun basah terkena hujan. Saat Jokowi tak lagi memegang payung karena sudah memasuki selasar Istana, tangannya tetap menggandeng Raja Salman.

Payung hitam itu tak cukup untuk menghindari curahan air hujan yang begitu lebat. Sampai di beranda Istana, peci dan jas hitam Jokowi basah; begitu pula dengan Raja Salman. Raja ketujuh Kerajaan Arab Saudi itu bahkan mengganti pakaian dari yang sebelumnya bernuansa emas menjadi hitam.

“Hujan lebat menyambut Raja Salman bin Abdulaziz di Istana Bogor. Setiap tetes hujan adalah berkah dari Allah SWT. Semoga pertemuan ini menjadi berkah bagi Indonesia dan Arab Saudi,” kata Jokowi lewat akun Facebook resminya pada waktu itu.

Beberapa bulan kemudian, hari Sabtu, 16 Desember 2017, Jokowi mengantar pulang presiden ke-3 Indonesia, BJ Habibie, ke kediamannya di Patra Kuningan, Jakarta. Ini dilakukan setelah Jokowi menghadiri acara Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), yang juga dihadiri Habibie, di Tangerang, Banten.

Kegiatan Jokowi mengantar pulang Habibie ditulis dalam status di akun Twitter Jokowi. “Mengantar Bapak BJ Habibie sampai ke kediamannya di Komplek Patra Kuningan. Semoga Pak Habibie sehat terus,” ujarnya melalui akun Twitter-nya pada Sabtu malam, 16 Desember 2017.

Hari Jumat (25/12-2018) kemarin, kita, masyarakat Indonesia kembali melihat di layar televisi kerendahatian Jokowi. Jokowi memayungi Quraish Shihab, seorang ulama, cendekiawan muslim Indonesia, dan juga mufasir (ahli tafsir) Al-Quran. Kedua tokoh itu berjalan berdampingan. Dengan tangan kanan, kiri, ke kanan lagi, Jokowi memayungi ulama kondang itu. Kemduian tangan kanan menggandeng tangan kirinya Quraish Shihab.

Foto itu berbicara sangat banyak. Foto itu sangat sarat makna. Foto tersebut mengirim pesan begitu dalam. Juga foto Jokowi memayungi Raja Salman, dan Jokowi mengantar Habibie, mengandung makna sekaligus ajaran tinggi.

Budaya Indonesia sangat beragam. Budaya Indonesia mengandung nilai-nilai luhur. Setiap suku bangsa mempunyai nilai luhur budaya. Misalnya, kebudayaan Minangkabau mengandung nilai luhur tangguh dalam berdagang. Nilai luhur kebudayaan Bugis yaitu mandiri sehingga berani merantau sampai ke mancanegara.

Nilai luhur kebudayaan Batak yaitu berani berterus terang dalam menyampaikan maksud sehingga tidak salah paham. Nilai luhur kebudayaan Jawa yaitu tekun bekerja. Nilai luhur kebudayaan Sunda yaitu lemah lembut tetapi pantang untuk ditaklukkan. Nilai-nilai luhur budaya suku bangsa Indonesia harus dipertahankan untuk kemajuan bangsa Indonesia.

Tentu, sebagai orang Jawa, Jokowi sangat menjunjung tinggi etika, sama juga semua suku di negeri ini yang menjunjung tinggi nilai-nilai etika. Baik secara sikap maupun berbicara. Dalam keseharian sifat andap asor, rendah hati terhadap yang lebih tua akan lebih di utamakan.

Kita semua mengenal istilah “budi luhur.” Istilah budi luhur, budi pekerti, dan etika adalah tiga hal yang saling terkait. Dalam Ensiklopedi Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa (2006:12) disebut budi luhur berasal dari kata ”budi” artinya upaya, tabiat atau kelengkapan kesadaran manusia.

”Luhur” berarti tinggi atau mulia. ”Budi” juga berarti kesadaran tinggi berisikan cahaya Ketuhanan yang memberikan sinar terang. Adapun ”luhur” terkandung pesan sikap mental dan nilai yang mengandung kebaikan dan hal terpuji. Budi luhur dapat diartikan sebagai hasil kesadaran menuju pada kemuliaan hati.

Budi luhur di kalangan Jawa, dapat dipandang sebagai mainstream ajaran kejawen. Dalam kaitan ini, Magnis-Suseno (1984:144) menyatakan bahwa budi luhur bisa dianggap sebagai rangkuman dari segala apa yang dianggap watak utama oleh orang Jawa.

Siapa saja yang berbudi luhur seakan-akan dalam diri manusia itu menyinarkan kehadiran Tuhan kepada sesama dan lingkungannya. Budi luhur tidak lain merupakan sebuah ideologi kejawen, sebagai falsafah hidup dalam berperilaku.

Akan tetapi, sekarang berlaku umum; artinya tidak hanya merupakan ideologi kejawen, tetapi menjadi ciri kharekteristik utama orang Indonesia; manusia Pancasila.

Aktualisasi budi luhur dalam perilaku diwujudkan melalui budi pekerti. Budi pekerti berasal dari kata ”budi” dan ”pekerti.” Kata ”budi” berarti kesadaran mulia, yang diejawantahkan berupa etika atau norma kehidupan, sedangkan kata ”pekerti” menurut Yatmana (2000:9) diturunkan dari akar kata Sanskerta ”kr” yang berarti bertindak.

Dari pengertian tersebut dapat diketengahkan budi luhur adalah hal ihwal yang dicita-citakan, dimimpikan, bersifat abstrak, dan akan diwujudkan ke dalam kehidupan dalam bentuk budi pekerti. Adapun budi pekerti adalah etos pekerti atau bingkai tindakan yang membentuk etika kehidupan.

Sedangkan etika adalah keseluruhan norma dan penilaian yang dipergunakan oleh masyarakat yang bersangkutan untuk mengetahui bagaimana manusia seharusnya menjalankan kehidupannya (Magnis-Suseno, 1984:6). Pengertian ini memuat pandangan bahwa etika itu merupakan rambu-rambu normatif untuk menilai apakah pekerti seseorang dianggap mencerminkan budi luhur atau tidak.

Penyimpangan terhadap etika berarti juga sekaligus pengingkaran terhadap nilai budi luhur. Begitu pula etika kebijakan Jawa, tentu dapat diartikan sebagai norma yang digunakan masyarakat Jawa untuk menilai pekerti seseorang dalam kehidupannya.

Menurut konsep Clifford James Geertz, antropolog asal AS (The Interpretation of Cultures: Selected Essays, 1973), budi luhur dapat diposisikan berada pada tataran ”ought” (yang seharusnya) dan budi pekerti pada tataran ”is” (yang nyata ada).

Sedangkan etika adalah seperangkat norma yang membingkai pekerti. Dalam kehidupan orang Jawa, antara budi luhur sebagai world view, budi pekerti sebagai ethos, dan etika sebagai norma hidup, seharusnya harmoni sampai tataran ”cocok.”

Jelaslah bagi kita, betapa pentingnya nilai-nilai luhur yang dimiliki bangsa ini, yang terkandung dalam budaya dan tradisi masing-masing suku di negeri ini. Serangan dan gempuran budaya asing, nilai-nilai asing jangan sampai melumpuhkan, bahkan mematikan nilai-nilai luhur bangsa. Tetapi, justru harus sebaliknya, semakin membuat kita semua memperkokoh diri, membetengi diri dengan nilai-nilai luhur bangsa Indonesia.

Sikap melupakan dan mengabaikan nilai-nilai luhur bangsa yang bersumber dari khasanah agama, budaya, tradisi akan mengakibatkan manusia akan menjadi semakin kurang manusiawi. Maka adanya usaha untuk kembali menghidupkan dan menghayati lima nilai-nilai luhur yang terkandung dalam kelima sila Pancasila.

Pancasila merupakan kristalisasi nilai-nilai luhur bangsa Indonesia. Karena Pancasila merupakan sumber nilai di Indonesia, maka semua nilai yang berkembang tidak boleh bertentangan dengan Pancasila, termasuk penghormatan yang lebih muda kepada yang lebih tua, seperti yang ditunjukkan oleh Jokowi. (https://jokowidodo.app/post/detail/foto-yang-berbicara)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here