JAYAPURA (LINTAS PAPUA)  – Dalam sebuah postingan di halaman facebook Marinus Yaung tertulis sebuah surat kepada Ketua DPR Papua dari seorang ibu yang anaknya sedang kuliah di Amerika, namun belum mendapatkan biaya pendidikan secara baik dan terancam di deportasia dari Amerika.

Adapun Surat tersebut yang ditujukan kepada Bapak Yunus Wonda selaku Ketua DPR Papua di Jayapura, pada Jumat, 4 Januari 2019.

“Pertama-tama mohon maaf yang sebesar-besarnya saya telah memberanikan diri untuk mengirim pesan WA ini kepada Bapak. saya Yves Papare adalah orangtua (ayah kandung) dari anak *Yvette Helene Papare* Mahasiswa Papua yang saat ini sedang studi di George Mason University di Virginia USA bersama 5 Mahasiswa Papua lainnya yaitu: *Lucia Deda, Kezia Nunaki, Ade Olua, Julio Kbarek, Prishella Pandori*, yang sejak tahun 2015 dikirim dan didanai (beasiswa) oleh Pemerintah Papua untuk studi ke Amerika Serikat,” ujar Yves Papare dalam suratnya yang kini telah diviralkan di masyarakat, agar pimpinan Provinsi Papua bisa melihat dan sikapi masalah  tersebut.

Dikatakan, saat ini anak  Yvette dan rekan-rekannya sedang diperhadapkan dengan masalah serius menyangkut belum dibayarnya uang kuliah mereka (tuition) untuk semester baru 2019 oleh Pemda Papua ke pihak George Mason University di Virginia sampai detik ini, termasuk: _Uang Tempat Tinggal untuk Semester Baru, Uang Asuransi Kesehatan Akhir 2018 & Awal 2019, dan Uang Saku yang belum mereka terima sejak Oktober 2018._

“Permasalahan yang sedang mereka hadapi ini sangat serius, dan ini dapat berakibat fatal bagi mereka karena jika hal ini tidak diselesaikan/dibayar hingga Minggu kedua Januari 2019 maka mereka terancam dideportasi oleh Pemerintah Amerika Serikat,” tuturnya.

Saat ini dalam keadaan cemas dan gusar mereka berencana untuk berjuang pergi menjumpai pihak Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Washington, D.C. untuk mengajukan pengaduan dan berupaya mencari solusi tentang permasalahan sulit yang sedang mereka hadapi ini.

Melalui pesan WA ini, kami sebagai orangtua turut menjadi cemas dan penuh kuatir, sehingga saat ini akan berupaya menghubungi pihak-pihak terkait di Pemerintah Papua, dan terlebih-lebih secara khusus kepada Dewan Perwakilan Rakyat Papua, agar dapat berbuat sesuatu serta bertindak dengan segera untuk menyelamatkan anak-anak ini, yang adalah aset SDM Papua saat ini dan untuk masa mendatang.

“Mohon maaf yang sebesar-besarnya atas kiriman pesan WA saya ini (termasuk mewakili para orangtua yang lain), dan jika Bapak sebagai Ketua DPRP tidak berkeberatan dapat membukakan Pintu untuk menerima kami untuk berjumpa guna memberikan penjelasan tentang permasalahan ini,” harapnya, yang dikegtahui surat tersebut juga di konfirmasi melalui  Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Washington, D.C. di Amerika Serikat.

 

“Demikian dari saya. Atas perhatian Bapak, saya sampaikan terima kasih. Tuhan Yesus Kristus memberkati,” kata Yves Pierre Papare, mewakili para orang tua yang mengakhiri surat tersebut.

Informasi terakhir yang diterima, pihak Pemerintah Provisi Papua melalui Biro Otsus akan melakukan pertemuan dengan dirinya untuk melihat masalah yang terjadi, tentunya masalah ini harus mendapatkan jawaban yang bijaksana dalam upaya membangun sumber daya manusia di Tanah Papua. (Eveerth Joumilena / lintaspapua.com )