<
Lintaspapua.com

Mengenal IMAPA USA, Wadah Mahasiswa Papua di Amerika Serikat

LINTAS PAPUA - Jumat, 28 Desember 2018 - 00:20 WITA
Mengenal IMAPA USA, Wadah Mahasiswa Papua di Amerika Serikat
Wadah embrio IMAPA US yang dikoordinir Billy dan kawan-kawannya ini pada Desember 2017 sempat mengadakan ibadah perayaan natal bersama di Kota Porland, Oregon. Setelah balik ke Tanah Papua, Billy bersama beberapa temannya masih mengelola grup medsos Facebook IMAPA US yang anggotanya sudah mencapai 300-an lebih. Jumlah tersebut bukan lagi para anggota yang merupakan mahasiswa/i penerima beasiswa dari Pemda Provinsi Papua. Tapi juga mahasiswa Papua yang pernah atau sedang studi di AS dengan beasiswa lain maupun para senior komunitas Papua di AS yang sengaja dimasukan ke dalam grup untuk mengikuti dan dapat membantu proses studi dari mahasiswa/i Papua. (Foto Julian Howay ) ()
Penulis
|
Editor

AMERIKA (LINTAS PAPUA)  – IAKATAN Mahasiswa/i Papua United States of America atau disingkat IMAPA USA telah lahir dua tahun lalu, tepatnya pada 16 Desember 2016. Tanggal ini diketahui dari arsip pembuatan grup media sosial di Facebook yang diberi nama “Ikatan Mahasiswa Pelajar Papua (IMAPA) US.”

Awal munculnya grup itu erupakan hasil inisiatif beberapa mahasiswa Papua di AS. Salah satunya adik Billy B. Bonay, mahasiswa jurusan teknik pertambangan (mining engineering) pada University of Nevada Reno, Nevada.

Dari sejumlah cerita tentang sejarah berdirinya wadah ini, ide untuk membuat grup IMAPA US di media sosial (medsos) itu dipandang perlu, guna menghimpun dan mengkoneksikan pelajar dan mahasiswa Papua yang tersebar di sejumlah kota studi dan negara bagian (state) di AS.

Saat itu mahasiswa yang menjadi target untuk dihimpun adalah mereka yang studi melalui program beasiswa dari Pemerintah Provinsi Papua. Sebab sebagian besar dari mereka sudah saling mengenal dan terkoneksi dengan medsos yang ada.

Jika mengulas sedikit sejarah program beasiswa dari Pemerintah Provinsi Papua itu, dulunya di zaman Barnabas Suebu,SH menjadi Gubernur Papua (periode 2006-2011) diberi nama “Program 1000 Doktor.” Ide Bas Suebu mencetuskan program ini pun punya sejarah tersendiri.

Tapi intinya, pria Papua asal Kampung Ifale di pinggiran Danau Sentani yang pernah menjadi Gubernur Provinsi Irian Jaya di tahun 1988-1993 punya visi besar dengan menyekolahkan anak-anak Papua sampai ke luar negeri atau ke berbagainegara. Ini demi kemajuan peradaban dan pembangunan Tanah Papua kelak.

Jadi bukan cuma ke negara Paman Sam saja! Tapi ke Australia, Selandia Baru dan negara-negara Eropa. Program ini diimplementasikan dalam bentuk penyeleksian, perekrutan, pelatihan hingga menyekolahkan anak-anak Papua mulai dari jenjang strata satu (S1) hingga ke jenjang doktor (PhD).

Ide besar dari dicetuskannya program ini juga adalah mengatasi kesenjangan kualitas pendidikan antara manusia Papua dengan manusia Indonesia lainnya. Terutama dalam hal orang Papua juga bisa mendapatkan kesempatan mengecap pendidikan berkualitas di luar negeri dan dapat memberi kontribusi nyata bagi pembangunan Tanah Papua seusai studi.

Sesuai namanya, program ini ditargetkan dapat menghasilkan 1000 orang lulusan doktor (PhD) atau lebih selama beberapa tahun dan  merupakan lulusan luar negeri. Dulu sewaktu Bas Suebu jadi Gubernur Papua, program itu ditangani instansi bernama Badan Pengembangan SDM Papua atau disingkat BPSDM.

Tapi di zaman Lukas Enembe menjadi Gubernur Papua untuk periode I (2013-2018), instansi itu dirubah namanya menjadi Biro Otonomi Khusus (Otsus). Perubahan itu seiring polemik di tahun 2017 yang mendera “Program 1000 Doktor” peninggalan Suebu itu. Yakni masalah terhambatnya pengiriman biaya studi dan biaya hidup mahasiswa/i Papua di luar negeri.

Bagaimana nama IMAPA USA bisa digunakan?

Yang jelas, ada sejumlah wadah organisasi mahasiswa Papua di beberapa kampus di Pulau Jawa yang menggunakan nama yang sama, yakni IMAPA atau Ikatan Mahasiswa/i Papua sebagai kepanjangannya. Misalnya IMAPA di Universitas Indonesia (UI) yang juga menghimpun mahasiswa/i Papua di sekitar wilayah Jabodetabek.

Anggotanya beragam. Bukan hanya para mahasiswa reguler yang sedang menempuh pendidikan strata satu (S1), tapi juga mahasiswa/i Papua yang menempuh program strata dua (S2/Magister) dan program Doktor (S3).

Yang menarik dari keanggotaan dan kepengurusan IMAPA UI adalah bahwa pengurus dan anggotanya tidak hanya diisi anak-anak asli Papua. Tapi diisi juga oleh anak-anak non Papua kelahiran Tanah Papua. Atau mereka yang sedang bertugas di Tanah Papua lalu menuntut ilmu di pulau Jawa.

Di Tahun 2015 sewaktu saya berdomisili di Depok Jawa Barat bersama sejumlah dosen muda dari Universitas Cenderawasih (Uncen) yang saat itu sedang melanjutkan studi di UI, saya juga sempat terlibat dalam kegiatan ‘kumpul-kumpul bareng IMAPA UI.’

Salah satu kegiatan informal yang menarik adalah berkumpul di sekitar area hijau kampus UI sambil berbincang-bincang lepas (cerita-cerita). Atau berekreasi di sekitar taman kampus, berolah raga, sampai acara makan papeda bersama sambil cerita-cerita guna membangun keakraban dan rasa persaudaraan sesama mahasiswa Papua di tanah rantau.

Yang tidak kalah menarik, IMAPA UI juga pernah menyelenggarakan sejumlah kegiatan bertajuk seminar (loka karya) ilmiah. Sebab di dalam wadah ini pun beranggotakan para dosen Uncen yang berstatus mahasiswa UI. Mereka telah ikut menopang keberadaan pusat studi Papua Center UI (PACE UI) yang juga melibatkan sejumlah guru besar di universitas ini.

Lalu terkait nama IMAPA USA. Kemungkinan nama ini diambil dari nama IMAPA yang sudah pernah ada atau masih eksis. Misalnya nama wadah IMAPA UI itu. Kemudian tinggal menambahkan nama US atau USA dibelakangnya sebagai singkatan dari United States of America, sebagai negara dimana mahasiswa Papua menuntut ilmu.

Sejak digagas 16 Desember 2016 silam, wadah IMAPA USA saat itu masih dalam bentuk embrio grup media sosial Facebook bernama “Ikatan Mahasiswa Pelajar Papua (IMAPA) US.” Dengan begitu belum ada susunan pengurus yang dapat bekerja untuk mengkonsolidasi dan menghimpun mahasiswa Papua se AS.

Saya ingat betul, ketika mahasiswa Papua di AS dan beberapa negara yang studi melalui biaya Pemda Papua (Program 1000 Doktor) mengalami kendala terlambatnya pengiriman biaya studi di tengahan 2016 hingga awal 2017, anggota grup Facebook IMAPA US telah berusaha mengkomunikasi persoalan yang mereka hadapi dengan keterbatasan yang ada.

Saat masalah itu muncul, saya yang saat itu mengambil studi jurnalisme di Scottsdale Arizona dari beasiswa Aminef Fulbright, juga sudah dimasukan sebagai anggota grup tersebut. Dari grup inilah saya bisa berteman, membaca dan berkomunikasi secara langsung mendengar keluhan adik-adik mahasiswa/i yang saat itu sedang mengalami kesulitan biaya studi dan biaya hidup di AS. Ini gara-gara uang beasiswa mereka terlambat dikirim selama berbulan-bulan.

Buntut dari persoalan ini menyebabkan bukan hanya sejumlah mahasiswa Papua di AS yang nasibnya terlunta, menderita hingga harus menyimpan koper pulang kampung, tapi hal serupa juga dialami mahasiswa Papua di negara lain seperti Australia, Selandia Baru, Kanada, China dan Eropa.

Situasi ini bahkan sempat menjadi polemik yang disinyalir mengandung “wabah korupsi” yang sedang menggerogoti kepemimpinan Lukas Enembe sebagai Gubernur Papua dan jajarannya yang mengelola beasiswa bagi anak-anak Papua di luar negeri.

Akhirnya Enembe bisa merespon situasi ini sehingga masalah yang muncul cukup teratasi. Walaun begitu, ada sejumlah mahasiswa/i Papua yang tidak dapat melanjutkan kuliahnya akibat masalah ini.

Terbentuknya Kepengurusan IMAPA USA

Setelah polemik keterlambatan pengiriman beasiswa dari Pemda Papua bagi mahasiswa/i Papua di luar negeri telah teratasi, di awal 2018 saya mendapat kabar dari adik Billy B. Bonay sebagai salah satu penggagas grup Facebook IMAPA US. Ia memberi tahu bahwa dirinya telah selesai studi di AS dan kini sudah berada di Jayapura, Tanah Papua guna melanjutkan karirnya.

Wadah embrio IMAPA US yang dikoordinir Billy dan kawan-kawannya ini pada Desember 2017 sempat mengadakan ibadah perayaan natal bersama di Kota Porland, Oregon. Setelah balik ke Tanah Papua, Billy bersama beberapa temannya masih mengelola grup medsos Facebook IMAPA US yang anggotanya sudah mencapai 300-an lebih.

Jumlah tersebut bukan lagi para anggota yang merupakan mahasiswa/i penerima beasiswa dari Pemda Provinsi Papua. Tapi juga mahasiswa Papua yang pernah atau sedang studi di AS dengan beasiswa lain maupun para senior komunitas Papua di AS yang sengaja dimasukan ke dalam grup untuk mengikuti dan dapat membantu proses studi dari mahasiswa/i Papua.

Kemudian pada 10 Juli 2018, digagas lagi satu pemilihan terbuka secara online di grup ini untuk memilih kepengurusan IMAPA US. Para calon yang mengajukan diri diharuskan menyampaikan gagasan visi-misi.

Dari hasil pemilihan online itu, terpilih kepengurusan IMAPA US yang terstruktur. Disini adik Michael Anis Labene dipilih sebagai presiden IMAPA USA untuk periode 2018-2019, kemduian Harina Fernanda Ainaga sebagai sekertaris dan Cecilia Mehue menjadi bendahara.

Kepengurusan itu dilengkapi sejumlah bidang (devisi) dan koordinatornya guna mendukung program kerja wadah ini. Sementara untuk mendukung wadah ini dalam mengkonsolidasi dan menghimpun keanggotaannya yang tersebar di sejumlah kota studi dan negara bagian, sempat dilakukan beberapa kegiatan yang menjadi ajang berkumpul dan mempererat tali persaudaraan sesama mahasiswa/i Papua di tanah rantau AS.

Salah satu bentuknya dengan menggelar acara pesta bakar batu dan makan bersama sebagai ajang mempererat kebersamaan ketika ada sejumlah mahasiswa/i Papua yang berhasil menyelesaikan pendidikannya.  Misalnya pada Oktober 2018, digelar pesta bakar batu di Corban University di Oregon untuk merayakan kesuksesan sejumlah mahasiswa/i Papua yang telah diwisuda atau berhasil menyelesaikan studi.

Selanjutnya yang menjadi moment terpenting adalah digelarnya ibadah perayaan natal bersama IMAPA USA yang kedua pada 23 Desember 2018, bertempat di Community Church of God, Everett, negara bagian Washington. Tema natal dalam perayaan natal ini adalah “Yesus Kristus sebagai sumber hikmat.”

Dimana nats pembimbing Alkitab dalam perayaan natal ini terambil dalam Kitab Yesaya 9 : 1-7 yang disampaikan pastor Aseri Kunnawave dari Community Church of GOD, suatu komunitas gereja orang-orang Fiji di Everett, Washington.

Moment natal ini telah menjadi ajang pertemuan dan pengikat persaudaraan yang kental diantara sesama mahasiswa Papua yang tersebar di beberapa kota studi dan negara bagian di AS. Turut hadir perwakilan komunitas Papua di AS, perwakilan Konsuljen RI di San Francisco California maupun keikut sertaan komunitas Fiji dari jemaat Community Church of God, Everett, Washington.

Selepas perayaan natal ini, dilanjutkan dengan pertemuan konsolidasi pada 24 Desember 2018 guna membenahi dan memantapkan wadah organisasi IMAPA US ke depan. Hasilnya, terdapat sejumlah pokok pikiran penting yang menjadi rekomendasi bagi pembenahan wadah IMAPA USA secara internal maupun bagi Pemerintah Provinsi Papua secara eksternal.

Dengan demikian, diharapka IMAPA USA dapat menjadi wadah yang tidak hanya menghimpun mahasiswa/i Papua di AS, tetapi juga dapat menjadi media yang mampu berkiprah secara nyata untuk membantu memberikan kontribusi pembangunan di Tanah Papua. (Laporan : Julian Howay dari Amerika)

 

Tinggalkan Komentar

Close Ads X
123