<
Lintaspapua.com

INJIL GAGAL PERSATUKAN PAPUA !! ?? Refleksi Advokasi Kasus Nduga

LINTAS PAPUA - Jumat, 28 Desember 2018 - 09:00 WITA
INJIL GAGAL PERSATUKAN PAPUA !! ?? Refleksi Advokasi Kasus Nduga
 ()
Penulis
|
Editor

 

Hari ini, ketika saya lihat video Pdt. DR. Benny Giay (Ketua Sinode KINGMI) turun jalan memimpin demo untuk membela dan melindungi umatnya di Nduga tanpa dukungan pemimpin gereja lainnya, maka saya berpendapat bahwa dalam bidang rekonsiliasi di Tanah Papua kita sedang berjalan mundur.

Yosef Rumaseb, dalam sebuah kesempatan. (Foto Pribadi)

Tidak ada dukungan Ketua Sinode lainnya. Tidak ada dukungan Uskup. Tidak ada dukungan MUI. Mereka masing-masing sibuk dengan urusannya seperti dalam kata-kata lagu natal anak Sekolah Minggu “anak masing-masing di sudutnya”.

Kotak-kotak denominasi gereja dan kotak-kotak agama cair dalam issue-issue yang memihak pemerintah misalnya ketika bikin Aksi 1000 Lilin untuk bela Ahok yg adalah sahabat dekat Joko Widodo Presiden RI tapi bungkam (atau cari selamat) di sudut masing-masing ketika hak azasi rakyat Papua, rakyat di negeri di mana mereka berkhotbah tentang keadilan dan perdamaian, sedang dicabik-cabik. Misalnya dalam kasus Nduga (Desember 2018).

—–×××—-

Sebenarnya dinamika ini menunjukkan kemunduran. Sebab pada dua dekade lalu, antara tahun 1994 – 2000, para pimpinan lembaga gereja dan MUI berani bekerja sama untuk membela hak azasi orang Papua bahkan pada persoalan yang sangat kritis terhadap pemerintah sekalipun. Misalnya dalam issue Papua Merdeka dan issue peran militer melindungi investasi multinasional coorporation.

Dua contoh berikut merupakan bukti.

Suasana politik nasional di penghujung 1990-an pasca tumbangnya Rezim Soeharto pada 21 Mei 1998 ambur adul. Tim Tim merdeka lepas dari RI dengan bayaran banyak jiwa raga. Berbagai situasi chaos terjadi secara nasional.

Di Tanah Papua terjadi berbagai aksi penyampaian aspirasi merdeka. Tidak luput jatuh korban jiwa. Lalu dibentuklah Tim 100 yang kemudian dikukuhkan sebagai Presidium Dewan Papua (PDP) pada Kongres Nasional Papua II yang difasilitasi Presiden Gus Dur sebagai

Sebelum itu, tahun 1994 – 1995, pelanggaran HAM di wilayah Freeport dibongkar oleh Uskup Munninghoff. Pelanggaran HAM terjadi akibat pendekatan militeristik dalam pengamanan Freeport.

Pada kedua peristiwa itu ada kerja keras di balik layar untuk rekonsiliasi masyrakat Irian Jaya waktu itu. Dalam bidang politik, Forum Rekonsiliasi Masyarakat Irian Jaya (FORERI) yang dipimpin oleh Almarhum Willy Mandowen melakukan peran penting.

Pada proses advokasi HAM di area operasi Freeport, Uskup Munninghoff tampil terdepan tapi dia didukung oleh beberapa gereja besar di Papua (GKI, Baptis, KINGMI, GIDI) dan MUI. Dan berbagai LSM nasional.

Upaya keras untuk mendudukkan para pimpinan lembaga agama itu dilakukan oleh John Rumbiak yang kemudian mendirikan Elsham atau Lembaga Study dan Adbokasi HAM (1997) dan Elsham melahirkan FORERI.

Elsham adalah anak kandung dari gereja. LSM yang dibentuk oleh beberapa lembaga gereja (khususnya Sinode GKI di Tanah Papua dan Gereja Katolik Keuskupan Jayapura) untuk memberi ruang bagi para profesional untuk advokasi HAM.

—×××—

Saat ini kerja sama antar berbagai pimpinan umat beragama menonjol pada dua aspek. Pertama, pada issue yang ramah di mata pemerintah. Mungkin karena dogma “pemerintah itu wakil Allah” jadi kesalahan “wakil Allah” seperti di Nduga harus diterima sebagai perwujudan perintah Allah. Mungkin. Saya tidak tahu persis.

Dan kedua, komunikasi di dunia maya. Banyak tokoh agama senang bicara justice and peace di WA Group dll. Istilahnya “gaul di milenium industri 4.0”. Tapi ketika Dr. Benny Giay turun jalan membela justice and peace di Nduga, dia turun sendirian. Mungkin karena dia kurang berkoordinasi dengan pimpinan gereja dan agama lainnya atau mungkin karena sekat-sekat “lue lue, gue gue” sudah sangat melekat.

Satu hal yang jelas adalah bahwa sinar rekonsiliasi yang pernah ada mulai sirna. Para pemimpin gereja seperti memperlihatkan bahwa Injil telah gagal mempersatukan orang Papua. Sudah hitam dan keriting dengan suku kebudayaan yang majemuk ditambah lagi Kristen dengan kotak-kotak denominasi yang sulit bekerja sama.

Itulah kita.

Biak 27 Desember 2018

Selamat natal

Hormat Yosef Rumaseb

Tinggalkan Komentar

Close Ads X
123