Respon Positif George Saa Atas Jawaban Pemprov Papua : Terimakasih Atas Dukungan, Mari Bangun Dunia Pendidikan

449
Bersama sahabatnya, George Saa (baju batik Papua ), kini sebagai Penulis essay sosial, ekonomi dan pendidikan dan merupakan putra Papua pertama pemenang lomba First Step to Nobel Prize in Physics pada tahun 2004 dari Papua, Indonesia. Makalahnya berjudul Infinite Triangle and Hexagonal Lattice Networks of Identical Resistor. bahkan rumus Penghitung Hambatan antara Dua Titik Rangkaian Resistor yang Ditemukannya diberi namanya sendiri yaitu “George Saa Formula” (Foto Pribadi)

Membuka respon saya kepada Bapak Sekda Provinsi Papua, Hery Dosinaen, saya ingin sampaikan demikian,

“Thank you from the bottom of my heart for listening to me and offering your support to such an unremarkable, ordinary person like me.”

Keinginan saya untuk menyampaikan surat saya kepada Bapak/Ibu tuan pemimpin negeri ini saya sampaikan untuk beberapa tujuan. Pertama, mohon bapak buka ruang, waktu dan hari khusus bagi siapa saja pekerja pendidikan, kesehatan dan budaya/bahasa dan bidang lainnya, sehingga mereka dapat berinteraksi dengan bapak Gubernur Papua.

Tujuannya, mereka dapat meng-update apa saja isu di akar-rumput dan pekerjaan apa saja yang mereka kerjakan, dengan itu, peran Bapak sebagai wakil pemerintah dapat langsung bersinergi. Saya kasih contoh kita punya Jungle Chef, Charles Toto yang hebat, namun dia lebih sering jalan sendiri tanpa support yang konsisten.

Juga, kita punya seorang Samuel Tabuni yang mengerjakan pendidikan bahasa, dimana apa yang dikerjakan, beliau dapat memberikan update apa saja yang dia kerjakan dan apa yang perlu bapak support. Juga ada seorang Yan Matuan yang bekerja untuk mendorong berbagai aspek transparasi pengunaan anggaran negara dan juga pemberantasan HIV AIDS.

Ada juga Demi Wasage yang mengerjakan bisnis trek Papua yang hari ini perlu sentuhan bantuan. Juga, ada kelompok generasi muda akar-rumput KOPKEDAT yang hari ini mendorong dukungan pendidikan dan kesehatan di tanah Korowai. Juga paling penting itu, banyak dari generasi muda yang sudah sangat qualified untuk dapat disekolahkan ke luar negeri namun mereka ini selalu susah tembus ‘sistem’ dikarenakan mereka ini ‘out of system’ dan sangat tidak mudah mereka dapat mendapatkan akses.

 

Kedua, mungkin ketika bapak Gubernur Papua ketika menyimak wawancara saya di TV Papua, akhir tahun 2017, saya mengungkapkan betapa rumitnya mendapatkan informasi beasiswa dalam dan luar negeri yang disediakan Pemprov Papua lewat Biro Otonomi Khusus (Otsus). Saya minta kesediaan Bapak untuk membentuk ‘special task force’ untuk memastikan semua keluhan yang selama ini terjadi dan sudah berlarut-larut agar di selesaikan oleh tim khusus ini.

Perbincangan di kalangan kami di lintas kelompok/group, susahnya mendapatkan akses informasi yang pasti untuk bersekolah lewat pembiayaan pemerintah/negara itu sesuatu yang rumit. Saya harapkan dari seruan saya lewat surat terbuka kemarin, hal-hal begini harus dapat di intervensi. Sekiranya bila bapak membuka ruang yang terjadwal tiap minggu untuk dapat berinteraksi rutin dengan kelompok pekerja berbasis kreatif ini, bapak akan mendorong perubahan di tanah ini dengan drastis.

 

Ketiga, hal yang tersirat dalam surat saya itu adalah kepastian berkarir. Dalam aspek perluasan lapangan kerja, saya harapkan pemerintah melihat potensi-potensi orang Papua yang hari bekerja di dunia perbankan, entah di Bank Papua atau bank swasta, sudah banyak orang Papua yang menjadi pemimpin-pemimpin di bank-bank ini.

Perluasan lapangan kerja lewat pembukaan usaha-usaha(kecil/menengah) ini sudah sangat diperlukan, mereka yang bekerja di bank ini adalah aktor utama juga untuk membantu lahirnya entrepreneur-entreprenur orang Papua dan harapan saya, orang asli Papua yang sudah pimpin beberapa kantor bank-bank ini, agar di panggil dan ikut memberikan advise kepada bapak dan pemerintah yang bapak wakili.

Ke empat untuk pendidikan, saya sebenarnya hanya seorang diri, yang ordinary, dan kurang lebih ingin ikut mendorong perubahan signifikan, namun hal ini saya tahu kalau butuh effort terorganisasi. Di Papua Barat, gubernurnya menginstruksikan agar beasiswa luar negeri (New Zealand dan Australia) itu di manage oleh Universitas Negeri Papua dengan kuncuran dana yang besar.

Disini, saya lihat UNIPA akhirnya dapat berbenah diri karena di kasih kepercayaan yang luar biasa. Hal yang sama saya sampaikan bapak tolong lihat Universitas Cenderawasih (UNCEN) serta universitas-universitas lain di Papua ini, agar dapat diberikan mandat yang sama.

Kelima, untuk bapak dan semua kalangan yang sudah ikut meneruskan surat terbuka saya, saya ingin sampaikan kalau penyampaian saya itu tidak bermaksud mendiskreditkan pemerintahan Bapak Lukas Enembe ataupun semua bapak/ibu yang sedang mendorong pembangunan di tanah Papua ini.

Saya ingin kasih ingat kita semua kalau saat ini, kita fokus bangun manusia Papua saja lewat pembenahan institusi pendidikan di tanah ini, serta mendorong lahirnya dosen-dosen muda baru yang berpendidikan tinggi (hingga S3 di dalam dan luar negeri). Untuk bapak ketahui, banyak komentar balik yang mendiskreditkan saya kalau saya ini datang untuk perhatian khusus.

Saya mau sampaikan kepada bapak dan juga semua kalangan, bahwa kondisi yang saya alami ini [minim dukungan] itu juga di alami oleh sedikit-banyaknya generasi muda saat ini yang sedang bersusah payah merubah dirinya lewat pendidikan dengan upaya sendiri. Beberapa kali saya berinteraksi dengan mereka untuk mendapatkan dukungan dari pemerintah dan hal inilah yang mereka utarakan.

 

Memang banyak juga yang ‘tipu-tipu’ namun hal ini sebenarnya bisa di mitigasi dengan adanya tim kerja dengan instrument kerja yang jelas untuk mengidentifikasikan mereka-mereka yang memang benar-benar mampu akademik dan membutuhkan sentuhan bantuan.

Keenam dan poin saya paling akhir yang ingin saya sampaikan dan perlu dipikirkan, beasiswa ke luar negeri untuk S1 dan S2 itu, contohnya ke Amerika Serikat, ada hal fundamental yang perlu di lihat ulang. Universitas-universitas di luar negeri itu mereka mempunya sistem pendidikan yang di arahkan untuk mengisi industri-industri di negara mereka sendiri. Ilmu yang di ajarkan ini sangat dasar dan di tujukan untuk penguasaan dasar-dasar teori dengan sedikit praktek.

 

Ketika universitas-universitas ini meluluskan mahasiswanya, mereka terserap dalam industri-industri yang sudah memiliki program induksi kerja yang jelas/lengkap dalam membantu proses adaptasi mahasiswa/i lulusan ini untuk dapat melihat apa saja aplikasi-aplikasi real yang dapat di terapkan. Ya, aplikasi dasar ilmu pengetahuan mahasiswa/i ini akan mereka dapatkan setelah masuk dalam dunia kerja disana.

Ini mengindikasikan, apabila anak-anak kita(Papua/Papua Barat) di kirimkan selevel S1 saja tidak melanjutkan hingga S2/S3, maka akan susah bagi mereka untuk dapat kembali dan mengaplikasikan ilmunya untuk membawa kemajuan di Papua.

Sudah begitu, minimnya pengalaman kerja di negara studi mereka, dimana hanya diberikan durasi 1 tahun saja, itu akan tidak cukup untuk mengkompensasi mereka ketika balik dan mencoba untuk beradaptasi di Indonesia/Papua. Sudah begitu, pola hidup dan budaya kerja di negara tempat mereka studipun akan membuat mereka mengalami kesulitan untuk kembali dan beradaptasi bekerja di Indonesia/Papua.

Saran saya kepada bapak Sekda, tolong anak-anak ini diberikan keleluasan bekerja di luar negeri dengan batasan tahun yang jelas (15-20 tahun). Mereka ini perlu di dukung dengan pengacara-pengacara imigrasi yang bagus, sehingga status visa mereka dapat di rubah saat mereka ingin menetap dan bekerja di negara studi mereka.

Apabila mereka ingin membuka usaha (build company), bapak bisa ikut mendorong mereka lewat implementasi dana-dana khusus untuk memodali mereka. Saya pikir dengan kontrak sosial (social contract) juga kontrak hukum (by law), kita bisa tetap mengikat mereka dan merekapun secara terbuka setuju/terikat untuk mengkontribusi kembali ke Papua dengan backingan finansial dan pengetahuan yang solid.

Saya sampaikan di atas ini sebenarnya hal ke dua. Bagi saya, penguatan institusi pendidikan lokal di tanah Papua ini harus menjadi prioritas utama. Konsep pendidikan, struktur hingga program serta tenaga pengajar berkualitas dari luar negeri atau dari negara maju sudah saatnya di rekrut untuk menrevitalisasi kampus-kampus di tanah Papua ini.

Sistim ‘sister campus’ dapat di wacanakan juga, agar lulusa lokal di Papua ini dapat berijazah ganda (Indonesia dan negara lain, e.g. Inggris Raya). Ini sebenarnya hal yang paling esensi di banding kita keluarkan ratusan miliaran rupiah tiap tahun keluar ke Jawa, Inggris, Amerika ataupun Eropa.

Semua yang saya sampaikan di atas ini adalah bagian dari mengapa saya ingin dapat di kasih ruang untuk menyampaikan hal ini. Saya mohon maaf karena harus lewat surat terbuka.

Untuk dana penelitian, saya sendiri sudah di bantu dan terbantukan oleh donatur dari Group WA, The Spirit of Papua, juga Group WA “Papua Care” lewat gerakan ‘kilat’ dari Kakak Victor Abaidata, juga Saudara Benyamin Gurik, Bank Papua, serta donasi tunggal dari seorang pendonor di Jakarta yang sangat peduli kemajuan pendidikan saya sebagai wujud kepeduliannya kepada kemajuan pendidikan di Papua.

Saya hanya ingin Bapak, pemerintah, Gubenur dan semua pejabat Papua ini untuk tidak melihat surat saya itu hanya sebuah surat dari George Saa, namun itu surat dari kami generasi milenial saat ini yang ingin mendapatkan layanan yang baik dari Bapak/Ibu wakil pemerintah di tanah ini. Kami semua ini bukan pengemis karena bapak/ibu politisi, ASN, TNI/Polri, itu pelayan kami rakyat/masyarakat. Mohon kami dilayani. (Penulis Adalah George Saa)