Pernikahan Usia Dini di Kab. Jayapura Terus Meningkat : 5.324 Pasangan Muda Menikah di Usia 15 Hingga 19 Tahun

61
Kepala Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP2KB) Kabupaten Jayapura, Drs. Derek Timotius Wouw, M.Si, mengatakan bahwa pihaknya mencatat hingga akhir tahun 2018 ini angka perkawinan usia dini atau pernikahan di bawah umur masih tinggi. (Irfan / HPP)

SENTANI (LINTAS  PAPUA) – Tingkat perkawinan usia dini dilaporkan telah meningkat dari tahun ke tahun di beberapa kabupaten di Provinsi Papua, yang menimbulkan kekhawatiran pemerintah setempat.

Kepala Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP2KB) Kabupaten Jayapura, Drs. Derek Timotius Wouw, M.Si, mengatakan bahwa pihaknya mencatat hingga akhir tahun 2018 ini angka perkawinan usia dini atau pernikahan di bawah umur masih tinggi.

“Jadi perkawinan usia dini di Kabupaten Jayapura ini sering terjadi pada anak-anak usia sekolah. Kebanyakan mereka itu diantara umur 15 hingga 19 tahun,” Derek saat ditemui wartawan usai membuka Kegiatan Pembinaan Program KKBPK Bagi Masyarakat Oleh Kader, di Aula Lantai II Kantor Bupati Jayapura, Sentani, Kabupaten Jayapura, Kamis (06/12/2018) pagi.

“Hal ini terjadi lantaran anak-anak muda ini ingin coba-coba,” sambung Derek.

Beberapa bulan lalu, DP2KB pernah turun ke lapangan untuk duduk dan berdiskusi bersama 50 orang anak yang ada di wilayah Distrik Sentani.

Hasil dari pertemuan itu, ungkap Derek, sekitar 70 persen dari 50 anak tersebut sudah pernah melakukan hubungan intim.

“Ya, itu mereka bilang ingin coba-coba saja.” imbuhnya.

Dirinya menjelaskan, pada saat muda-mudi ini melakukan hubungan intim layaknya suami-istri itu, sebenarnya mereka belum mengetahui resiko apa saja yang bisa terjadi apabila berhubungan intim di usia yang masih sangat muda sekali.

“Resiko hubungan intim di usia muda itu banyak sekali, selain hamil di usia muda, juga penularan penyakitpun bisa terjadi. Oleh sebab itu, kami memberikan bimbingan kepada para Kader BKKBN yang di tingkat Kampung, untuk selalu senantiasa memberikan pemahaman kepada masyarakat agar dapat menjaga dan mendidik anak-anaknya untuk tidak melakukan hubungan seks di usia muda,” tegas Derek menjelaskan.

Derek mengungkapkan, jika pernikahan di bawah umur ini terjadi, maka akan ada kerawanan terhadap yang bersangkutan. “Contonya di kesehatan, apabila hamil di usia muda bisa saja terjadi pendarahan karena usia kandungannya belum siap,” paparnya.

Selanjutnya adalah perceraian, dikatakan Derek, ini terjadi karena pernikahan muda itu bukan atas dasar cinta. Tetapi, akibat dari coba-coba sehingga terjadi kecelakaan (hamil di luar nikah).

“Sehingga dari pada orang tua malu terhadap lingkungan sosial, maka disitulah orang tua menikahkan mereka dan disitulah menyebabkan angka perceraian juga menjadi tinggi,” katanya.

Berdasarkan data yang DP2KB ambil dari Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Jayapura, hingga tahun 2018 ini tercatat ada 5.324 pasangan yang menikah di usia muda diantara usia 15 hingga 19 tahun.

“Itu baru data sementara yang kita ambil dari Pencatatan Sipil, kita belum mengambil data dari Badan Pusat Statistik (BPS) soal jumlah penduduk di Kabupaten Jayapura” tandas Derek Wouw.

Meski masih menggunakan data dari Dispendukcapil, Derek Wouw memastikan, bahwa data yang ada di Capil dan BPS itu tidak akan jauh berbeda. (Irfan / Harian Pagi Papua)