Maria Bano Harap Mama Papua Pengrajin Noken Harus Mandiri

0
557
Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DPPA) Kabupaten Jayapura, Dra. Maria Bano didampingi Pelaksana Kegiatan Pelatihan Noken, Bilha Demtu S.E, ketika melepas tanda peserta dari dua orang perwakilan pada penutupan kegiatan pelatihan Noken, di Aula Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Provinsi Papua, di Yahim, Kota Sentani, Kabupaten Jayapura, Rabu (31/10/2018) kemarin siang. (Irfan / HPP)

SENTANI (LINTAS PAPUA) – Noken merupakan tas Tradisional Papua yang aslinya dibawa dengan kepala dan berbentuk rajutan atau anyaman dari bahan serat kulit kayu atau benang memiliki cita rasa seni tinggi. Itulah sebabnya jadi tren. Mulai dari pegawai kantoran, mahsiswa, anak sekolah, wartawan, aparat keamanan hingga pedagang sekalipun menggemarinya. Biasanya dipakai untuk membawa barang.

Hal ini membuat pemerintah terus mendorong agar mama-mama Papua, utamanya para pengrajin Noken ini mampu menjadi sosok yang mandiri dan dapat meningkatkan kualitas tas Noken agar dapat memberi nilai tambah.

 

“Kami berharap setelah mengikuti pelatihan selama tiga hari mereka (mama-mama Papua) harus menjadi sosok yang mandiri,” kata Kepala Dinas Pemberdayan Perempuan dan Perlindungan Anak (DPPPA) Kabupaten Jayapura, Dra. Maria Bano kepada wartawan usai menutup pelatihan Noken bagi 50 orang Mama-mama Papua, di Aula Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Papua, di Yahim, Kota Sentani, Kabupaten Jayapura, Rabu (31/10/2018) siang.

Soal hasli Noken yang dibuat mama-mama Papua peserta pelatihan, Maria Bano menyampaikan jika melihat hasil Noken yang mereka buat itu sudah cukup bagus, walaupun dikerjakan dengan menggunakan tangan atau secara manual tanpa menggunakan mesin. Kalau dilihat dari tiga hari pelatihan ini ada Noken yang sudah dihasilkan oleh mereka, walaupun kerja dengan tangan yang mereka taruh di atas meja dengan hasilnya cukup bagus.

 

“Saya harap ke depan mama-mama Papua (pengrajin Noken) terus meningkatkan kualitas Noken untuk meningkatkan nilai tambah serta mempunyai nilai jual yang cukup baik. Ini agar masyarakat semakin meminati dan bangga pada tas Noken yang merupakan kearifan lokal Papua,” papar Maria Bano.

 

Pihaknya memang tidak memberikan bantuan modal kepada mama-mama Papua pengrajin Noken dan hanya sebatas memberikan pelatihan Noken kepada mereka saja. Namun diharapkan dengan hasil yang mereka kerjakan buat tas Noken ini nilai jualnya itu bisa menambah penghasilan ekonomi keluarga.

 

“Kami di DPPPA sudah memiliki program pemberdayaan perempuan untuk pelatihan Noken bagi mama-mama Papua yang rutin kita laksanakan setiap tahun. Untuk itu, di lima tahun kepemimpinan dari Bupati Jayapura Mathius Awoitauw dan Wakil Bupati Jayapura Giri Wijayantoro, maka ke depan untuk kegiatan seperti ini tetap di biayai dari dana Otsus dan berlanjut setiap tahunnya, serta mereka tetap menjadi binaan kami di DPPPA Kabupaten Jayapura,” tukasnya. (Irfan / Koran Harian Pagi Papua)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here