Oleh : Krist Ansaka

 

MALAM itu, setahun yang lalu (15 Agustus 2016), laut  Depapre tidak bersahabat. Gelombang dan angin kenjang dari lautan Pasifik, menghantam pesisir Utara Kabupaten Jayapura. Tak ada seorang pun yang berani melaut.

Ketika itu, penduduk Kampung Kendate,  sedang waspada. Tapi dari balik diding rumah yang terbuat dari papan itu, terdengar jeritan seorang perempuan muda. Yosina Oyaitou (18), nama perempuan muda yang menjerit karena akan melahirkan.

Krist Ansaka, Mantan Jurnalis di Papua. (Foto Pribadi)

Sementara itu, Jimmy – suami dari Yosina, menghubungi Kepala Kampung, Ibrahim Waisamon  untuk memohon bantuan dana kampung untuk biaya perahu kotor tempel yang akan disewa ke Puskesmas di Distrik Depapre. Jarak tempuh dari Distrik Kendate ke Depapre jika tak ada gelombang, sekitar 35 menit. Tapi jika ombak sedang “mengamuk”, perjalanan Yokari – Depapre bisa ditempuh selama 1 jam.

Sesuai kesepakatan dengan warga kampung, dana kampung digelontorkan. Perahu motor tempat sudah siap. Yimmy menggendong Yosina ke atas perahu motor sewaan.  “Dalam hati, saya bertanya, apakah anaknya akan lahir di atas perahu motor ataukah kita semua akan tenggelam tertelan deburan ombak Lautan pasifik yang sedang marah saat itu ?” kata Jimmy.

Pertanyaan Jimmy itu hilang bersamaan dengan hempasan angin dan gelombang. Perahu motor yang ditumpanginya itu, terus melaju menerjang ombak menuju Teluk Tanah Merah yang menghimpit Kampung Waya, Ibu Kota Distrik Depapre. Saat itu, mentari mulai menampakkan cahayanya dari balik Gunung Rafenirara (sebutan orang Tapra/Depapre untuk Gunung Cycloop).

Sekitar pukul 05.45 Waktu Papua, perahu yang ditumpangi Yemmy dan Yosina merapat di Dermaga Depapre. Yimmy tak membuang waktu lagi. Yosina pun dituntun ke Rumah Tunggu Kenabise. Saat itu, Bidan Lena dari Puskesmas Depapre, masih setia melayani ibu-ibu yang sudah dan mau melahirkan di Rumah Tunggu Kenabise.

Ketika dilakukan pemeriksaan awal, Ibu Yosina diberi makan oleh Rumah Tunggu Kenabise. Sekitar Pukul 13.00 Waktu Papua, 16 Agustus 2016 lalu, terdengar jerit tanggis sang bayi dari balik ruang persalinan di Rumah Tunggu Kenabise. Bayi perempuan itu akhirnya diberi nama Agusta, sama seperti neneknya.

“Sudah banyak kasus, ibu-ibu terpaksa melahirkan di atar perahu, karena gelombang. Susah ditolong karena anak kecil itu lahir di atas perahu.” Kata Bidan Lena.

Lena melanjutkan, Rumah Tunggu Kenebise ini tidak hanya melayani ibu hamil dari delapan kampung di Depapre tapi ibu-ibu hamil dari distrik lain di sekitar Depapre, seperti Distrik Rafenirara, Distrik Yokari, bahkan ada yang datng dari Distrik Sentani Barat. (***)

(Krist Ansaka, Mantan Jurnalis di Papua )