Bupati Mathius Awoitauw : Hari Sumpah Pemuda Momentum Tempatkan Diri Sebagai Potensi

0
473
Bupati Jayapura, Mathius Awoitauw, SE, M.Si, ketika ditanya wartawan dalam sebuah kegiatan. (Irfan / LPC)

SENTANI (LINTAS  PAPUA) – Momentum peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-90 pada tanggal 28 Oktober 2018 seharusnya menjadi ajang bagi pemuda menempatkan diri sebagai andalan dan potensi untuk menjawab tantangan-tantangan atau persoalan-persoalan di masa-masa yang akan datang dalam proses pembangunan yang dijalani Pemerintah Kabupaten Jayapura.

Jadi, pemuda saat ini sudah menempatkan diri sangat tepat dan pemuda sudah harus ikut serta dalam pergumulan-pergumulan dari setiap masalah-masalah pembangunan di saat ini, ujar Bupati Jayapura Mathius Awoitauw, S.E, M.Si, ketika ditanya wartawan mengenai harapan Pemkab Jayapura terhadap para pemuda di momen Hari Sumpah Pemuda Tahun 2018, di Hotel Grand Allison, Kota Sentani, Kabupaten Jayapura, Sabtu (27/10/2018) siang pekan kemarin.

Bupati Jayapura, Mathius Awoitauw, SE, M.Si, ketika ditanya wartawan mengenai harapan Pemkab Jayapura terhadap para pemuda di momen Hari Sumpah Pemuda Tahun 2018, di Hotel Grand Allison, Kota Sentani, Kabupaten Jayapura, Sabtu (27/10/2018) siang pekan kemarin. (Irfan / HPP)

Nah, inilah yang kita harap. Mudah-mudahan dalam momentum Hari Sumpah Pemuda tanggal 28 Oktober 2018, pemuda bisa melihat kembali peran dan fungsinya serta tanggungjawab yang akan diperankan di waktu-waktu yang akan datang, sambungnya.

Menurut Mathius, pemuda harus memahami kondisi sekarang baik di Indonesia maupun di Papua seperti apa, dan bagaimana tantangan kedepannya. Merefleksikan situasi itu yang penting saat ini.

Nah, mereka harus merumuskan sendiri pikiran-pikiran itu. Saya beri contoh, bahwa dunia sekarang ini sedang menghadapi revolusi industri 4.0, dan dalam waku dekat itu semua berbasis IT. Bagaimana mereka mempersiapkan diri menghadapi tantangan tersebut, tuturnya.

Karena itu, kata Mathius, kerja-kerja kreatif itu sudah mulai dibangun di lingkungan pemuda sekarang ini. Bagaimana cara memulainya, mereka bisa turun langsung ke kampung masing-masing dengan pemuda yang ada di kampung itu bisa membuat kreativitas-kreativitas tertentu.

Apakah itu di bidang ekonomi kerakyatan, di bidang seni, di bidang budaya. Atau menggali potensi-potensi lain, misalnya untuk pengembangan pariwisata. Jadi, mereka sudah mulai masuk dalam dunia bisnis itu. Tapi, juga berbicara mengenai lingkungan kampung yang bisa lestari untuk masa depan, katanya.

Cotohnya, ada pemuda di Nimbokrang yang melindungi kawasan hutan sebagai tempat burung Cenderawasih bermain. Ada juga yang menata dan membina keluarga untuk kulinernya serta home stay. Kemudian mereka menggunakan IT untuk mempublikasikan tentang keindahan alam, hutan dan burung Cenderawasih.

Sehingga orang datang dari mana-mana, itu tidak perlu lagi lewat pemerintah. Begitu di publikasikan, orang-orang langsung datang dan turun ke kampung. Dari sanalah mereka melayani tamu-tamu yang datang dan juga masyarakat di kampung yang merasakan manfaatnya. Saya pikir gerakan-gerakan seperti ini sangat penting, karena tantangan dunia kedepan itu seperti IT, ekonomi kreatif dan ekonomi ekstraktif maupun aktraktif itu akan menjadi andalan kita untuk masa depan Papua, imbuhnya.

Bupati Jayapura, Mathius Awoitauw, ketika menerima bunga Valentine Day dari KNPI Distrik Sentani, Rabu (14/2/18) siang. (Irfan / Koran Harian Pagi Papua)

Mathius berujar, ekonomi aktraktif adalah bagaimana pemuda hidup dengan sumber daya alam yang begitu luar biasa di Papua untuk di kelola, di lindungi dan di apresiasi serta di publikasikan ke dunia luar.

 

 

 

Karena orang luar sedang membutuhkan itu sekarang. Apalagi dunia pariwisata membutuhkan keunikan, kekhususan yang tidak ada di tempat lain, bahkan orang akan tetap mencarinya serta berapapun nila atau biayanya orang tetap akan membayarnya demi kebutuhan akan hal-hal yang unik tersebut, ujar Mathius Awoitauw. (Irfan / Koran Harian Pagi Papua)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here