Memperingati 62 Tahun GBGP
17 Oktober 1956.
SEJARAH SINGKAT GERAKAN PENTAKOSTA MENEMBUS TANAH PAPUA 30 SEPTEMBER 1948 YANG MELAHIRKAN GBGP SEBAGAI ANAK SULUNG GEREJA PENTAKOSTA DI TANAH PAPUA

Penulis : Indra Karubaba

Gerakan Pentakosta Modern

Charles W. Conn: Asal mula gerakan Pantekosta modern tahun 1889 di suatu “Camp Meeting” yang diadakan di Cherokee Country, North Carolina di bawah pimpinan William F. Bryant. Pada Kebangunan Rohani tersebut, umat Tuhan yang kebanyakan terdiri dari kaum “Holiness” mencari hadirat Allah dan tiba-tiba mereka mengalami baptisan Roh Kudus dengan berkata-kata dalam bahasa asing.

Klauda Kendrick berkata: Gerakan ini berasal dari bagian selatan Amerika, dimulai oleh Charles Fox Parham, Direktur Sekolah Alkitab Bethel di Topeka, Kansas Amerika Serikat, tepatnya pada saat seorang gadis yang bernama Agnes Osman berkata-kata dalam bahasa asing. Ini terjadi pada tanggal 1 Januari 1901.

Donald Gee menunjuk pada pertemuan di gereja tua di jalan Azusa, Los Angeles, Amerika Serikat sebagai tempat pertama munculnya gerakan Pantekosta modern pada tahun 1906. Pada tahun ini juga terjadi di Wales, Inggris di bawah pimpinan Evanz Roberts.

Semua kalangan Pantekosta sependapat bahwa pengalaman Pantekosta bukanlah suatu “inovasi agama” sebab bentuk pengalaman ini telah dinyatakan di sepanjang sejarah Kekristenan.

Berkata-kata dalam bahasa asing pertama-tama terjadi pada Gereja Rasul-rasul (Apostolic Church) seperti tertulis dalam tulisan-tulisan Lukas dan Paulus. Setelah terjadi pencurahan Roh Kudus yang dahsyat di Yerusalem di hari Pantekosta, dapat kita perhatikan jejak kemunculannya di Kaisarea (Kisah 10 : 44-48), di Efesus (Kisah 9:1-7), dan Korintus (I Korintus 12 : 14).

Penyebaran Pentakosta Modern Ke Seluruh Dunia

Florence Crawford
Ia membawa berita Pantekosta ke Amerika Utara bagian barat. Ny. Crawford sebelumnya adalah pengerja di bawah oengawasan William Seymour. Ia mengambil nama “Apostolic Faith’ dari pelopor Pantekosta tersebut. Gerakan ini berkembang menjadi satu dominasi.

William Durham
Pada tahun 1907, Durham membawa ajaran tentang “berbicara dengan bahasa lidah” dan baptisan Roh Suci.

G.B. Cashwell
Cashwell membawa berita Pantekosta ke bagian Selatan Amerika Serikat. Ia berasal dari Dunn, North Carolina. Ia adalah bekas pendeta Metodis. Kemudian pada tahun 1903 ia bergabung dengan Gereja Holiness

C.H. Mason
Mason dan pengikut-pengikutnya memakai nama “Church of God in Christ”, dan pimpinan Young memakai nama “The Church of Christ”.
“Church of God in Christ” berkembang dengan pesat menjadi “Group Pantekosta Negro” yang terbesar di dunia. Kebanyakan pendiri-pendiri “Asemblies of God” (kulit putih) pada tahun 1914 telah dilantik oleh Mason.

Inggris Tahun 1891-1907
Gerakan “Holiness” menghasilkan “Keswick Convention” dan “Pentecostal Leaque.” Kedua organisasi ini menekankan pertobatan.

R.A. Torrey yang memperkenalkan baptisan Roh Kudus.

Evans Roberts, pemuda berusia 26 tahun memimpin Kebangunan rohani di Wales tahun 1904, dalam kebaktian itu 30.000 orang bertobat dan 20.00 orang diantaranya merupakan anggota Gereja yang benar-benar baru.

Norwegia 1916
T.B. Barrat, seorang bekas Pendeta Metodis di Oslo, membawa pentakosta pertama kali. Ia mendirikan “Krintiana by Mission”. Pada tahun 1916, Barrat mendirikan “Philadelphia Church”; sebuah gereja terbesar, setelah Gereja Protestan di Norwegia.

Swedia 1907
Lewi Petrus seorang pendeta Baptis, melalui pelayanan T.B. Barrat, bulan Januari 1907 ia pergi ke Norwegia. Di sana ia menerima Roh Kudus. Sekembalinya dari Norwegia, ia mempengaruhi ribuan orang Swedia untuk menerima kuasa Pantekosta.
T.B. Barrat juga pergi ke Denmark. Di Denmark, seorang artis bernama Auna Larsen bertobat melalui pelayanannya, dan kemudian menjadi penginjil terkenal bersama dengan suaminya.

Jerman dan Swiss 1907

Jonathan Paul dari Berlin dan Edward Meyer dari Hamburg. Mereka datang ke Oslo dan mendapatkan pengalaman Pantekosta.
Dagmar Gregersen dan Agnes Thelle, dua penginjil Norwegia, bersama-sama dengan T.B. Barrat pergi ke Jerman dan Swiss untuk memproklamasikan berita Pantekosta.
Tahun 1907-1908 adalah tahun pembentukan dan perkembangan gerakan Pantekosta di Jerman.
Desember 1908; konferensi pertama Gereja Pantekosta diadakan di Hamburg.

Finlandia 1911
Dikunjungi T.B. Barrat pada tahun 1911. Publikasi yang dilakukan T.B. Barrat sangat berpengaruh di seluruh Eropa yaitu melalui buku yang berjudul ”Victory of The Cross”.

Rusia 1901
Pada periode tahun 1901-1911 aliran Pantekosta belum berkembang, sampai komunis mengambil alih kekuasaan di negara itu. Tetapi sekarang terdapat banyak pengikut aliran Pantekosta sebagai hasil dari kampanye tahun ‘50-an’.

Perancis 1900
Frank Bartlemen, satu di antara pemimpin kebangunan rohani di Los Angeles datang ke Prancis tahun 1900; pada waktu itu hanya ada satu misi Pantekosta, yang bertempat di Rosny Sous Bois (10 km dari Paris).

Belanda 1907
Menerima berita Pantekosta melalui majalah dari Amerika. Istri Pendeta R.G. Polman menerima baptisan Roh Kudus pada tahun 1907. Kemudian suaminya juga menerima baptisan Roh Kudus pada tanggal 6 Oktober tahun itu pula. Sejak saat itu tempat berbakti mereka “Immanuel Haus” menjadi pusat dari Gereja Pantekosta di seluruh Belanda.

Austria 1923
Austria menerima berita Pantekosta tahun 1923. Sedangkan Polandia dan Negara-negara Baltik lainya menerima pada tahun 1925.

India 1906
Paudita Ramabai, mengajak beberapa gadis untuk pergi ke desa-desa dengan mengadakan kebaktian penginjilan. Beberapa gadis bersaksi tentang baptisan tersebut, “Peristiwa itu ditandai dengan tubuh yang gemetar, menari, melihat visi dan bermimpi”. Mereka mengalami karunia Roh Kudus.

Cina 1908
Pengalaman Pantekosta muncul di Cina pada tahun 1908 di sekolah “Wuchow”. Ini terjadi waktu seorang misionaris bernama Netti Moo mendapat di Macau dan berkhotbah di hadapan sekelompok misionaris Baptis dan CMA beserta orang-orang pribumi Cina. Mereka di baptis dengan Roh Kudus dan mulai berkata-kata dengan bahasa asing.

Pada musim gugur 1908, A.G. Garr bersama istrinya dari Los Angeles tiba di Hongkong. Setiap malam mereka mengadakan kebaktian. Sekitar 300 orang berkumpul untuk menerima kepenuhan Roh Kudus.
Kemudian A.G. Garr pergi ke Jepang dan pekerjaan di Cina diteruskan oleh Tuan Mok (Lai Chai), seorang bekas pegawai pemerintah yang cerdik.

Tokyo Jepang 1913
Missi pertama Pantekosta pada tahun 1913, di Tokyo, ketika Assemblies of God Amerika Serikat mengutus C.F. Juergensen, istri dan 2 anaknya, Marie dan Agnes ke Jepang. Perkembangan Gerakan Pantekosta di Jepang agak terhalang.

Tahun 1949 tujuh orang missionaris dan 16 orang pekerja nasional mengadakan pertemuan dan menata organisasi Assemblies of God di Jepang. Saat itu ada 13 gereja yang terhimpun dalam persekutuan dan 3 gereja yang bersifat otonom.

Konggo Afrika
Penginjil Amerika bernama John G. Lake dan Thomas Hezmal Halch adalah yang memperkenalkan berita Pantekosta ke Benua Afrika. Pada tahun 1913 kedua penginjil ini meninggalkan Afrika dan pekerjaan selanjutnya diteruskan Peter Louis Le Roux, bekas Misionaris dari “Dutch Reformed Church”. Kemudian gereja itu didaftarkan pada pemerintah dengan nama “Apostolic Faith Mission of South Africa”. Nama itu tidak ada hubungannya dengan “Apostolic Faith Mission” di Amerika.
Penginjil Amerika lain yang datang ke Afrika Selatan adalah Charles Chawner. Berita Pantekosta di Afrika Tengah dibawa oleh William Burton dan James Salter dari Preston, Inggris. Mereka mendirikan “Conggo Evangelistic Association”.

Chili Amerika Latin 1907
Delapan dari sepuluh orang Inggris di Amerika Latin adalah penganut aliran Patekosta, terutama di negara Brasil dan Chili. Kedua negara ini telah diterobos gerakan Pantekosta pada awal abad XX. Gerakan pantekosta muncul pada tahun 1907 di Gereja Metodis di Valparaiso.

Brasil 1910
Gerakan Pantekosta mulai masuk ke Brasil pada tahun 1910. Waktu itu Louis Francesson dari Amerika Serikat mengunjungi Sao Paulo dan mendirikan Gereja Pantekosta. Dalam waktu yang singkat anggota gereja itu menjadi 5000 orang.
Selain Louis, Daniel Bey dan Gunner Wingreen, dua orang penginjil keturunan Swedia – Amerika, datang ke Para, Brasil. Mereka mengorganisir perkembangan Gerakan Pantekosta dan mendirikan sidang-sidang baru.

Australia 1921
Perkembangan Pantekosta di Australia sedikit lambat. Beberapa penginjil yang mengadakan Kebaktian Kebangunan Rohani disana antara lain : Smith Wigglesworth (1921), Aimee Sample Mc. Pherson (1922) dan A.C. Valdez (1925). Mereka mengadakan serangkaian kampanye penginjilan di Melbourne, Victoria, Sydney, New South Wales dan Brisbane, Queensland.
Di daerah Brisbane, Gerakan Pantekosta berkembang di bawah pimpinan George Burns.

Papua New Guinea (PNG) 1947
Pada tahun 1947 Konferensi National mendirikan “Commonwealth Bible Collage”. Sekolah ini kemudian mengirimkan missionaris ke suku terasing Papua Nugini. Dalam waktu 1 tahun badan missi ini telah mempunyai 30 orang missionaris dengan 40 buah cabang Misi.
Selain Assemblies of God terdapat juga Apostolic Church of Wales, Wlim Foursquare Gospel Church dan satu organisasi di bawah pimpinan Ray Jackson, The Mission of Church of Australia dengan Calvary Bible College di Melbourne, juga The Christian Church of New Zealand yang memiliki 200 sidang jemaat.

Penyebaran Pentakosta Di Indonesia
Bali Indonesia Januari 1921 – Juni 1923
Gereja Bethel Temple Seatle Amerika Serikat mengirim dua misionaris keturunan Belanda bernama Rev. Cornelius E. Groesbeck dan Rev. Richard van Claveren, dua missionaris dari Amerika memperkenalkan ajaran Pantekosta pertama kalinya di Indonesia ketika mereka mendarat di Bali pada tahun 1921. Mereka dikirim oleh Pdt. W.H. Offiler dari “Bethel Temple Inc” di Seatle, Washington, Amerika Serikat.

Pemerintah Hindia Belanda melarang penginjil-penginjil memasuki Bali. Atas perintah pemerintah kedua missionaris itu terpaksa pindah ke Surabaya tahun 1922.

Hasil pelayanan Groesbeck, F.G van Gessel, S.I.P. Lumoindong, dan A.E. Siwi menyerahkan diri dibaptis dan melayani Tuhan.

Tahun 1923, Groesbeck pindah ke Surabaya dan van Gessel meneruskan pelayanan di Cepu, sedang van Loon menjadi Gembala di Bandung.

Pada tanggal 30 Juni 1923 de Pinsktergemente In Nederlandsche Indie (sekarang GPdI) diakui oleh pemerintah Hindia Belanda.

Horstman membuka pelayanan di Malang. A.E. Siwi melayani ke daerah Sumatera, Wasel ke Kalimantan (1932), E. Lesnusa ke Ambon, H.N. Runkat ke Pasuruan (1928, dan J. Repi, A. Tambuwun, Y. Lumenta ke Manado (1929).

Tahun 1932 keluarga W.W. Patterson, utusan Injil dari Bethel Temple, Amerika, membuka Sekolah Alkitab di Embong Malang Surabaya. Sekolah Alkitab ini mendidik banyak hamba Tuhan Pantekosta dengan berita Pantekosta termasuk Jonathan Itaar perintis dan pioneer GBGP Papua dididik disana. Dari Surabaya Sekolah ini kemudian dipindahkan ke Lawang, dan akhirnya ke Beji, Batu-Malang.

Keluarga Richard van Klaveren berangkat ke Surabaya, kemudian menuju ke Batavia. Di Surabaya, Rev. Cornelius E. Groesbeek berkenalan dengan Ny. Wijnen yang mempunyai seorang keponakan yang bekerja di BPM Cepu (Shell), bernama F. G. van Gessel. Dengan Perantaraan Ny. Wijnen yang telah menerima kesembuhan Ilahi lewat pelayanan Rev. Cornelius E. Groesbeek, maka F.G van Gessel dapat berjumpa dan berkenalan dengan beliau.

30 Maret 1923
Diadakannya baptisan air di Pasar Sore Cepu dan jumlah yang dibaptis sebanyak 13 orang. Baptisan ini dilakukan oleh Rev. Cornelius E. Groesbeek dan dibantu oleh Rev. J. Thiessen, seorang misionaris dari Belanda. Di antara 13 orang itu terdapat suami Istri F. G. van Gessel, suami istri S.I.P. Lumoindong dan Sdr. Agust Kops.

Antara tahun 1923-1928, jemaat di Cepu 16 hamba Tuhan yang menjadi pioner-pioner Gereja Panekosta di Indonesia dan kemudian menyebar ke Sumatra, Jawa, Sulawesi dan Maluku. Diantara mereka adalah F. G. van Gessel, S.I.P. Lumoindong, W. Mamahit, Hessel Nogi Runkat, Effraim Lesnussa, Frans Silooy, R. O. Mangindaan, Arie Elnandus Siwi, Julianus Repi, Alexius Tambuwun, G. A. Yokom dan J. Lumenta.

8 Nopember 1929,
Keluarga J. Lumenta tiba dari Surabaya dan mendarat di Pelabuhan Amurang, dan pada bulan yang sama tiba pula Sdr. E. Lesnussa.

Manado Sulawesi Utara 1 Desember 1929
Baptisan air pertama ini diikuti oleh 42 orang yang terdiri dari 14 orang dari langowan dan 28 orang dari Ranomea – Amurang.

Januari 1930
Datang Keluarga Albert Jocom ke Manado.

Tahun 1933
Pdt. Runtuwailan dan Sdr. L.A. Pandelaki ke Sulawesi Utara untuk memperkuat barisan hamba-hamba Allah.

Tahun 1930,
Datang tiga penginjil perempuan dari Seattle diantaranya Inice Presho, Iris Bowe dan Eileen English. Setelah di Magelang, mereka melayani kebaktian rumah-ke rumah di Solo. Inice Presho kemudian mengadakan pelayanan di Surabaya.

Tahun 1931, Louis Johnson dan Arland Wasell berlayar dari Bethel temple dan melayani di Kalimantan, mereka menyeberangi banyak sungai-sungai besar menuju ke pedalaman dari pulau tersebut melebihi dari penginjil-penginjil lain yang pernah lakukan sebelumnya.

4 Juni 1924
Pemerintah Hindia Belanda kemudian mengakui gerakan pentakosta itu dengan mengakui eksistensi sebuah persekutuan jemaat yakni “de Pinkster Gemeente in Nederlansch Indie” sebagai sebuah “Vereeniging” (perkumpulan) yang sah.

4 Juni 1937
Pemerintah meningkatkan pengakuannya kepada pergerakan Pantekosta menjadi “Kerkgenootschap” (persekutuan gereja) berdasarkan Staatblad 1927 nomor 156 dan 523, dengan Beslit Pemerintah No.33 tanggal 4 Juni 1937 Staadblad nomor 768 nama “Pinkster Gemente” berubah menjadi “Pinksterkerk in Nederlansch Indie”. Pada zaman pendudukan Jepang tahun 1942, nama Belanda itu diubah menjadi “Gereja Pantekosta di Indonesia”. Pdt. H.N Runkat sebagai ketua Badan Pengurus Umum (Majelis Pusat) kala itu.

Kemudian dari Pinksterkerk in Nederlansch Indie melahirkan juga beberapa organisasi gereja besar lainnya diantaranya:
R.M. Devin dan R. Busby mendirikan gereja Sidang jemaat Allah (Assemblies of God) tahun 1936
Pdt. Tan Hok Tjoan membentuk Gereja Isa Almasih 1946
Pdt. Van Gessel mendirikan gereja GBIS pada tahun 1950
Pdt. Jonathan Itaar mendirikan GBGP tahun 1956
Pdt. Ishak Lew mendirikan gereja GPPS pada tahun 1959
Pdt. Ho Liong Seng (Dr. H.L Senduk) mendirikan GBI 1970

Peranan para pioner karena perjuangan mereka telah bertumbuh dengan lebat, mereka antara lain : Pdt. H.N. Runkat yang merambah ladang di Pulau Jawa, (Jakarta, Jabar, Jateng, dll),

Tahun 1929
Pdt. Yulianus Repi dan Pdt. A. Tambuwun disusul oleh Pdt. A. Yokom, Pdt. Lumenta, Pdt. Runtuwailan menggempur Sulawesi Utara,

Tahun 1939,
Dari Sulut dan Ternante Pdt. E. Lesnussa ke Makasar dan sekitarnya.

Tahun 1926
Pdt. Nanlohy menjangkau kepulauan Maluku (Amahasa) yang kemudian disusul oleh Pdt. Yoop Siloey, dll.

Tahun 1928
Pdt. S.I.P Lumoindong ke D.I Yogyakarta

Tahun 1933
Pdt. A.E. Siwi membawa pentakosta ke pulau Sumatera Selatan, Lampung, Sumatera Barat.

Tahun 1939 Pdt. A.E. Siwi membawa pentakosta ke pulau Sumatera Utara,

Tahun 1932
Pdt. RM Soeprapto mulai membantu pelayanan di Blitar kemudian Singosari dsk, tahun 1937 ke Sitiarjo Malang Selatan.

Tahun 1935
Pdt. Siloey dkk, merintis pelayanan ke Kupang NTT,

Tahun 1930
Pdt. De Boer disusul Pdt. E. Pattyradjawane dan A.F Wessel ke Kalimantan Timur.

Tahun 1940
Pdt. JMP Batubara menebas ladang Kalimantan Barat (Pontianak),

30 September 1948
Pdt. Jonathan Itaar membawa obor pentakosta menembus Nederlands Nieuw Guinea (Papua) lalu kemudian melahirkan GBGP.

GERAKAN PENTAKOSTA MENEMBUS TANAH PAPUA
Adalah Jonathan Itaar seorang anak asli “Papua” ketika usianya ke 25 tahun ia mulai merantau dari kampungnya dI Tobati menuju kota Ternate.

Ia mengikuti keluarga bapak Ham Tung yang juga adalah guru injil di Nederlands Nieuw Guinea, yang hendak kembali ke Ternate. Keberangkatan Jonathan Itaar saat itu mengikuti keluarga itu dengan tujuan bekerja sebagai karyawan pabrik.

Tetapi sesampainya di Ternate Jonathan Itaar mengalami pengalaman lain, ia mengalami baptisan Roh Kudus ketika ia sedang sendirian duduk sambil merenungkan firman Tuhan. Waktu itu di Ternate ia belum ada gereja pentakosta yg resmi. Pada waktu yang sama seorang sahabatnya yang sudah ada lebih dahulu di kota Amurang Menado yakni Yohanes Hanasbei, bermimpi melihat api jatuh diatas kota Ternate.

Karena itu ia memohon pamit dari majikannya untuk meninggalkan kota Amurang menuju kota Ternate. Di Ternate Yohanes Hanasbei bertemu dengan Jonathan Itaar yang kemudian menceritakan pengalamannya berbicara dalam bahasa aneh. Yohanes Hanasbei tahu bahwa ia sedang dipenuhi dengan Roh Kudus.

Tahun 1932 Yohanes Hanasbei mengajak Jonathan Itaar ke kota Menado dan disanalah Jonathan Itaar menerima baptisan air di Tondano dan namanya terfaftar sebagi orang kedua yang dibaptis kala itu.

Selama setahun Jonathan Itaar ada di Amurang Menado ia belajar firman Tuhan aktif dalam pelayanan pengajar sekolah minggu dan paduan suara.

Tahun 1933, Jonathan Itaar mengikuti keluarga Pdt. Patirajawane kembali ke Ternate. Di kota Ternate itulah Jonathan Itaar mendengar bahwa akan dibuka sekolah alkitab yang pertama di Indonesia di Surabaya. Keluarga Ham Tung di Ternate mengirim Jonathan Itaar ke Surabaya sekaligus membiayainya mengikuti Bible Institute di jalan Embong malang Surabaya yang dipimpin oleh direkturnya Pdt. W.W. Patterson

Surabaya Jawa Timur Tahun 1933
Jonathan Itaar kemudian mengikuti studi di sekolah alkitab Nederlands Indie Bethel Institute (NIBI) Surabaya.
Ia kemudian ajukan permohonan Kepada Gubernur Jenderal di Batavia untuk mendapatkan surat izin untuk mengadakan pelayanan.

Batavia 12 Februari 1941
Keluarlah sebuah Besluit (Keputusan) atau izin dari Gubernur Jenderal Nederlands Indie di Batavia atas permohonan Jonathan Itaar. Untuk dua kota saja yakni Fakfak dan Manokwari dikarenakan kedua tempat itu yang memiliki kedudukan keresidenan.

Tahun 1942
Jonathan Itaar kembali ke Menado dan ditempatkan di Karengasem Tonsea Kabuaten Minahasa. Disana Jonathan Itaat menghasilkan 10 jemaat baru dan menggembalakan 11 jemaat sekaligus.

Di Menado Jonathan Itaar dipercayakan membuka sebuah kursus alkitab bersama Pdt. Situ Sui Yen teman sekelasnya sewaktu di NIBI Surabaya.

Manado 4 Oktober 1947
Jonathan Itaar melamar seorang gadis asal Menado bernama Frida Rempowatu dan menikahinya.

17 Juni 1948
Ibu Frida Rempowatu bermimpi menerima telegram dengan ini isi berita: “Kamu harus segera berangkat, Aku yang mengutus kamu..”

Manado 17 Juli 1948
Sebulan kemudian tepatnya tanggal 17 Juli 1947 Jonathan Itaar mendapat telegram dari NNGPM Sorong atas permohonan 20 orang karyawannya yang asal gereja Pantekosta di Manado yang lebih dahulu telah mengenalnya di Manado, Dengan pertimbangan karena Jonathan Itaar adalah seorang putra asli Nederlands Nieuw Guinea. Ke 20 orang diantaranya: Hendrik Assa dan keluarganya sebagai penggagas, Wim Tumbol dan keluarganya, P. Winokan keluarganya, W. Wakari keluarganya, Masengie keluarganya, Wiliam Ladeng dan 5 kepala keluarga dan lain bujangan.

Manado 20 Agustus 1948
Jonathan Itaar dan isterinya bertolak meninggalkan kota Manado. F. G. van Gessel yang sudah ada di Manado kala itu memberikan kepada Jonathan Itaar suatu ayat dari Mazmur 126 sebagai ayat panggilan ke Nieuw Guinea.

Perairan Sorong Nederlands Nieuw Guinea 30 September 1948
Jonathan Itaar bersama Isterinya Frida Rempowatu menumpang kapal KM. Kasimbar dan untuk pertama kali memasuki perairan Nieuw Guinea (Papua) dan tiba pada tanggal 30 September 1948 di Sorong. Di Sorong Jonathan Itaar langsung memberitakan firman Tuhan dengan urapan Roh Kudus.

Sorong 22 Januari 1949
Jonathan Itaar hendak dikembalikan oleh NNGPM dan HPB di Sorong Doom ke Menado karena hasutan beberapa aliran gereja-gereja non Pantekosta yang telah lebih dahulu sudah beroperasi di Sorong.

Jonathan Itaar keberatan untuk dirinya dikembalikan ke Manado. Atas prakarsa beberapa teman-teman sepelayanan di Batavia Jonathan Itara meminta bantuan maka mereka melaporkan persoalan tersebut kepada Gubernur Jenderal di Bataviai (Jakarta). Gubernur Jenderal kemudian memerintahkan kepala H.P.B yang mengusir Jonathan Itaar segera meninggalkan Nieuw Guinea. Jonathan Itaar akhirnya tidak sempat dipulangkan ke Manado tetapi tetap berada di Sorong dengan terus mengadakan pelayanan Firman Allah.

Sorong Doom, 30 Januari 1949
Dikarenakan belun adanya ijin sehingga Jonathan Itaar mengadakan kebaktian dengan tertutup. Namun 30 Januari 1949 jam 05.00 di tepi pantai belakang kopleks pemakaman kuburan Doom Jonathan Itaar melaksanakan baptisan air untuk pertama kali di Tanah Papua. Tercatat 9 jiwa dibabtis yaitu: Johanis Wainggai, Albertus Wainggai, Josep Repasi, Simon Kaiba, Justus Menanti, Daniel Arompayai, Siliwanus Mara, Wim Tumbol, William Ladeng.

Sorong Tahun Maret 1952
Jonathan Itaar kembali melaksanakan babtisan air kepada mereka diantaranya: Frits Karubaba dan istri, Yan Wanggai dan istri, Lukas Rumi dan istri, Joshua Maniani dan istri. Dan mereka semua akhirnya terpanggil untuk merlayani Tuhan dan meniggalkan pekerjaan mereka semula di NNGPM.

Tahun 1946
Johanes Hanasbey, Hermanus Korarey dan Kippuw tiba di Holandia dan langsung mengadakan kebaktian secara tertutup di rumah pribadinya.

14 Desember 1948
Jacob Merauje seorang pioneer Pantekosta yang sudah bertobat dan menerima Tuhan lewat air Babtisan di Ternate tiba di Hollandia. Di Hollandia Jacob merauje bersama rekan-rekan hamba-hamba Tuhan lainnya langsung mengadakan pelayan bersama.

Hollandia Tahun 1949
Walau dengan cara tertutup namun dari hasil pelayanan Johanes Hanasbey, J. Kippuw dan Jacob Merauje, Hermanus Korareri di Hollandia, maka berlangsunglah upacara baptisan air yang pertama bagi 30 jiwa yaitu: Thomas Itaar dan istri, Lukas Youwe dan istri, Hanok Hamadi dan Istri, dan lain-lainnya.

22 Februari 1949
Paul Dave Mariar datang dari Balikpapan (Borneo). Ia seorang Hoofd Agen Politie dan guru pada Sekolah Kepolisian Centrale Algemene di Base G tiba di Hollandia Kedatangannya di Hollandia juga mengadakan kebaktian-kebaktian di tempat kediamannya sekarang asrama Polisi Tanjungria Jayapura.

29 September 1949
Jonathan Itaar tiba di Hollandia.

14 Oktober 1951
Pdt. M.A Alt dari Gereja Utusan Pantekosta (Pinkster Zending) mengadakan pelayanan untuk pertama kali d Manokwari.

10 Februari 1951
Jonathan Itaar membangun gedung ibadah untuk jemaat yang pertama kali di Kampung Baru. (Sekarang GPdI Batu Penjuru Kampung Baru, Sorong)

Tahun 1951
Ny. Coory Leman / Hoffman membuka pelayanan untuk pertama kali di kota Biak, yang kemudian melahirkan Jemaat di Biak Kota. Jiwa-jiwa yang dimenangkannya antara lain Yonas Ronsumbre, Kristian Kawer dan lain-lain.

15 April 1954
F.G. van Gessel yang terkenal dengan pelajarannya “Studi Tabernakel” dari Gereja Bethel Injil Sepenuh (GBIS) Surabaya tiba Hollandia

Selasa 5 Januari 1956
Jonathan Itaar bersama Hermelina Karubaba/Marani dan Frits Karubaba menuju Waren hingga kampong Sanggei, dan terlaksanakanlah babtisan air yang pertama untuk daerah Waropen.

Minggu, 10 Januari 1956
Berlangsungkan babtisan air yang pertama kali di kampung Kawipi oleh hasil kesaksian Jonathan Itaar itu menghasilkan dua jemaat berturut-turut yaitu jemaat Kawipi dan Jemaat Ambai.

22 Januari 1956
Resmi berdiri 3 jemaat di Waropen yakni jemaat Sanggei, Nubuai dan Mambui.

Sarawandori Yapen 1957
Obor api Pentakosta pertama masuk dengan perahu dayung yang ditumpangi oleh Jonathan Itaar, Frits Karubaba Yunus Muabuai dan Josias Wainggai. Dari hasil pelayanan Jonathan Itaar jiwa pertama yang dimenangkan adalah Pilep Karubaba dan isterinya Ester Wainggai yang menerima air babtisan. Beberapa jiwa yang menyusul dibabtis diantaranya Abiatar Karubaba, Frerdik Karubaba dll, kurang lebih ada 5 keluarga. Setelah Sarawandori dibuka dan jiwa-jiwa dibabtis, maka Yunus Muabuai dipercayakan untuk menjadi Gembala Jemaat pertama kali di kampung itu.

Mantembu Serui 1957
Jonathan Itaar mengutus Frits Karubaba membuka kampung Mantembu untuk pertama kali dengan ajaran Pantekosta. Sebanyak 40 orang menerima air baptisan yang dilangsungkan di kali Mantembu oleh Frits Karubaba. Mereka yang dibaptisan kala itu diantaranya Boas Wandamani, Gad Airei, Margaretha Wanggai dan lain sebagainya.

Pembentukan GBGP Di Tanah Papua
Beberapa hamba-hamba Tuhan dari aliran gereja pentakosta lainnya menyusul Jonathan Itaar ke Nederlands Nieuw Guinea juga mengingingkan surat izin dari pemerintah bagi pelayanan mereka.

23 September 1955
Berlangsung Mubes Pertama. Terbentuklah suatu komisi yang kemudian membentuk suatu badan organisasi gereja dengan nama Badan Penghubung Pinkster Gemeente, yang berkedudukan di Hollandia Nieuw Guinea. Pada Mubes pertama itu mereka yang duduk jabatan:
Ketua Lukas Jouwe, Sekretaris Thomas Itaar, Bendahara Chistian van Thiel, Komisaris Y.P.G. Trouwerbach dan Badan Penasehat F.G. van Gessel dan Jonathan Itaar

28 Februari 1956
Jonathan Itaar mengajukan suatu surat permohonan tertanggal 28 Februari 1956 untuk mendapat pengakuan (Besluit gouvernementsblaad) dari Pemerintah Nederlands Nieuw Guinea.

Maret 1956
Jonathan Itaar mengadakan pelayanan ke Serui, mendelegasikan kepengurusan surat ijin sepenuhnya kepada Lukas Jouwe. Tanpa sepengetahuan Jonathan Itaar, F.G van Gessel mencantumkan nama Bethelkerk di depan nama Pinsterkerk Gemente.

14 Juni 1956
Pemerintah Nederlands Nieuw-Guinea menerima permohonan Lukas Youwe dan kawan-kawan.

23 September 1956
Pemerintah Nenderlands Nieuw Guinea di Holandia menginginkan semua permohonan dari aliran pentakosta bergabung harus dalam satu organisasi yakni, Bethel Injil Sepenuh, Pinkster Gemente, Bethel, Tabernakel Bethel Zending dan lain sebagainya. F.G van Gesel mengusul nama Bethel didahulukan didepan nama Pinksterkerk. Hanya sayang gereja ini dibatasi area pelayanannya sebatas terbatas di Holandia saja pada waktu itu.

17 Oktober 1956
Keluarlah badan hukum gereja dari pemerintah Nederlands Nieuw Guinea dengan No. 279 dengan nama “de Bethelkerk ( de Pinksterkerk) te Hollandia van Nederlands Nieuw Guinea.

Oktober 1957
Jonathan Itaar mengetahui bahwa gereja telah berganti nama menjadi Bethelkerk (te Pinkterkerk), ia kemudian mengadakan rapat untuk menganti nama itu kembali ke Pinkster Gemente, namun tidak berhasil.

Tahun 1959
Mubes ke II dilaksanakan di Hollandia, yang dihadiri oleh Jonathan Itaar, Frida Rempowatu, Lukas Youwe, Paul D. Mariar, Thomas Itaar, Michael Hannas, Hoofman, Ch. Toteis, Frits Karubaba, dan lain-lain

16 November 1962
Suatu delegasi dari GPdI di Jakarta, tiba di Bandara Sentani Hollandia. Mereka diantaranya: E. Lesnussa, Ien Yaap, (Isteri E. Lesnussa), R.M. Suprapto, Gidion Sutrisno, W.H. Bolang, The Kim Koei, E. Pattirajawane dan Nicky J. Sumual

18 November 1962
E. Lesnussa, dan kawan-kawan diutus oleh Majelis Pusat ke Holandia dengan misi meleburkan Bethelkerk te Pinksterker ke dalam satu wadah yakni Pinksterkerk In Indie (sekarang GPdI).

Frits Karubaba menyatakan sikap tidak bergabung tetapi tetap mempertahankan GBGP dengan Besluit 279. Ia mendapat dukungan dari Lukas Jouwe dan dan beberapa hamba-hamba Tuhan lainnya.

Holandia 2 Desember 1962
Lukas Jouwe dipanggil ke Jakarta untuk menjalankan tugas baru sebagai anggota MPR utusan perwakilan Irian Barat. Kepemimpinan GBGP dijalankan sepenuhnya oleh Frits Karubaba.

Januari 1963
Tanah Nieuw Guinea mulai dikuasai Pemerintah UNTEA. Sejalan dengan mobilisasi umum pemerintah Indonesia juga mulai menguasai Nieuw Guinea, pernyataan kemerdekaan Negara Papua Barat dukungan pemerintah Belanda yang ditentang pemerinta Indonesia serta repatriasi warga negara Belanda oleh desakan militer Indonesia agar segera meninggalkan Nieuw Guinea kembali ke Belanda.

16 Juni 1964
Memanfaatkan situasi itu beberapa oknum berupaya menghasut GBGP dengan memberikan stigma gereja OPM ke pemerintah RI hingga hal itu mengakibatkan beberapa gembala-gembala jemaat meralami ketakutan hingga pada akhirnya mengalihkan aset gerejanya beserta anggota jemaat serta hamba-hamba Tuhan ke organisasi gereja lain.

30 Juni 1965
Kegiatan organisasi GBGP seakan berjalan ditempat,

17 Oktober 1966
Puncaknya organisasi GBGP mengalami kelumpuhan total.

Januari 1967
Frits Karubaba mempelopori kebangkitan GBGP dari keterpurukan 4 tahun lamanya. Bersama sejumlah hamba-hamba Tuhan lainnya diantaranya Lukas Youwe dan Paul Dave Mariar diadakanlah Mubes ke III. Saat itulah konsolidasi organisasi dilakukan setiap hamba-hamba Tuhan dihimpunkan kembali jemaat-jemat baru didirikan lagi

24-25 Januari 1968
Berlangsunglah Mubes GBGP yang Ke III di Biak Frits Karubaba terpilih sebagai Ketua Majelis Besar merangkap Ketua Badan Penghubung Pusat GBGP.

12 Oktober 1970
Hasil musyawarah besar itupun disampaikan ke pemerintah RI di Jakarta maka keluarlah suatu Pengakuan Pemerintah RI dengan Surat Nomor Dd/P/VII/55/724/70 tanggal 12 Oktober 1970 menyatakan bahwa Bethelkerk (Pinksterkerk) yang berpusat di Holandia Nederlands Nieuw Guinea kini masih kedapatan di Irian Barat.

17 Oktober 1970
Di gedung gereja Jemaat Filadelfia Overtoom. Digelar Mubes IV, Frits Karubaba sebagai Ketua BPP. Pada saat itu dibentuklah Badan Penghubung Daerah (BPD) untuk pertama kali.

17 Oktober 1972
Mubes V dilangsungkan di gedung gereja Filadelfia Ofertoom Jayapura.

17-19 Juni 1976
Mubes VI dilaksanakan di gedung gereja GBGP jemaat Dok VIII Bawah dengan hasil memilih kembali Frtis Karubaba sebagai Ketua Umum BPP GBGP.

17 Oktober 1978
Mubes VII berlangsung di GBGP Filadelfia Overtoom Jayapura, Frits Karubaba terpilih sebagai Ketua Umum.

17 Oktober 1982
Di kota Biak tahun 1982 Mubes ke VIII dilaksanakan N.R. Mofu terpilih sebagai Ketua BPP.

17 Oktober 1986
Mubes ke IX dilaksanakan di GBGP Jemaat Dok VIII Bawah, Elias Papirindey mantan Wakil Gubernur Provinsi Irian Jaya kala itu terpilih sebagai ketua BPP.

17 Oktober 1988
Mubes ke X di laksanakan di kota Sorong tahun 1988 menghasilkan Paulus Budiono terpilih sebagai ketua BPP GBGP. Kepemimpinan Paulus Budiono hanya berjalan kurang lebih 1 tahun, ia kembali ke Surabaya. Paul Dave Itaar sebagai ketua I akhirnya mengambil alih kepemimpinan di tubuh GBGP.

17 April 1993
Mubes XI pada dilaksanakan di Kotaraja Jayapura. Paul D. Itaar terpilih menjadi ketua BPP.

17 Oktober 1997
Mubes ke XII dilaksanakan di kota Biak. Paul Itaar terpilih memimpin GBGP. Tuhan Berkati.

(Dsadur Ulang dan dikutip dari laman facebok : Pdt. Indra Karubaba)