Anggota DPR Papua, Yan Peremas Mandenas, S.Sos, M.Si. (Rambat/HPP)

JAYAPURA (LINTAS  PAPUA)  –   Anggota DPR Papua, Yan Peremas Mandenas, S.Sos, M.Si., menyatakan, perusahaan penerbangan di Papua perlu dilakukan audit, lantaran selama ini sering terjadi kecelakaan pesawat yang melayani rute lokal di Papua.

 

Yan Mandenas mengatakan, sejak hampir dua periode duduk di DPR Papua, sama sekali belum pernah tahu atau mendengar adanya audit sistem transportasi udara penerbangan lokal di Papua.

“Sampai sekarang saya belum dengar ada audit penerbangan lokal yang dikelola swasta dan misionaris dilakukan. Semacam pemeriksaan maintenance dan standar operasional pesawat,” kata Mandenas.

Selain itu, kata Yan Mandenas, laporan tahunan atau triwulan terkait dengan pelayanan operator penerbangan dalam mengatur frekwensi penerbangan di seluruh daerah di Papua yang dimasuki pesawat juga tak ada.

 

Padahal, kata Mantan Ketua Komisi IV DPR Papua periode lalu ini, mestinya perlu diatur dengan baik, termasuk diperiksa mana yang sudah memenuhi standar sistem sesuai ketentuan dan mana yang belum.

Dikatakan, kecelakaan pesawat di Papua, bisa saja karena murni kecelakaan atau human error atau karena dipaksakan. Karena di Papua ini penerbangan lokal dipaksakan meski tak sesuai standar operasional.

 

Bahkan, ujarnya, kadang meski cuaca buruk, angin kencang dipaksakan terbang, akhirnya terjadi ha-hal yang tak diinginkan.

“Tapi kelayakan terbang pesawat itu setiap tiga bulan sekali minimal diperiksa. Apakah masih layak atau tidak. Mulai dari pilot hingga pesawatnya,” tandasnya.

Untuk itu, imbuhnya, harus dilakukan pemeriksaan rutin oleh Dinas Perhubungan atau Kementerian Perhubungan dan hasilnya dipublikasikan agar publik tahu seperti apa, dan bagaimana kelayakan perusahaan penerbangan swasta dan misionaris yang melayani masyarakat.

Jangan sampai nanti pesawat jatuh baru dicek penyebabnya. Mestinya mengikuti standar yang berlaku dalam penerbangan di Papua untuk memberikan jamian kepada masyarakat yang menggunakan jasa penerbangan misionaris maupun swasta agar jangan terus terjadi kecelakaan pesawat.

 

“Kemudian pengaturan frekewensi penerbangan juga dalam memberikan informasi cuaca. Ini perlu. Karena saya pikir banyak pesawat berbadan kecil yang belum diperiksa dalam kelayakan terbangnya,” pungkasnya. (Rambat/mas / Koran Harian Pagi Papua)