Gubernur Soedarmo  :  Jangan Sampai Budaya Lokal Tergerser Asing

0
86
Penjabat Gubernur Papua, Soedarmo. (Erwin /HPP)
Penjabat Gubernur Papua, Soedarmo, ketika membuka kegiatan Festival Budaya Lembah Baliem di Wamena, Selasa(7/8/2018). (ISTIMEWA)
“Festival Budaya Lembah Baliem ini diharapkan memberikan kontribusi positif. Khususnya peningkatan masyarakat dan para pelaku seni dan budaya di daerah ini. Sehingga keterlibatannya dapat bermanfaat dalam pembangunan pariwisata dan ekonomi kreatif Kab. Jayawijaya dan Provinsi Papua kedepan,” ujar Penjabat Gubernur Papua, Soedarmo. (ISTIMEWA)

JAYAPURA (LINTAS  PAPUA)  –  Menghadapi era globalisasi dengan perkembangan ilmu teknologi yang terus maju, ancaman terhadap pergeseran budaya lokal dirasakan telah mulai berada di depan mata.

Sebagian besar budaya asing yang kini telah mulai diperagakkan anak negeri di seluruh Indonesia diantaranya, seperti perayaan hari valentine dan hellowen, berkurangnya penggunaan alat musik tradisional dan bahasa daerah.

Berkenaan dengan hal itu, Penjabat Gubernur Papua Soedarmo mengharapkan dilakukan pengembangan budaya lokal secara terus menerus, sehingga budaya asing dapat dikikis secara perlahan-lahan.

Dilain pihak, berbagai kegiatan festival budaya lokal yang digelar setiap kabupaten, mesti dilakukan secara terintegrasi dan berkelanjutan, dengan promosi yang lebih global serta  menjual kepada dunia luar.

“Makanya memang ini juga menjadi domain dari Kementerian Pariwisata tetapi juga pemda terkait untuk membuat satu konsep festival budaya lokal secara terintegrasi dan berkelanjutan. Harus ada kerja sama semua pihak, jangan setiap daerah terkesan kerja sendiri-sendiri, sebab hal itu tidak akan maksimal,” terang dia di Jayapura, kemarin.

Gubernur juga mengharapkan,  agar pelaksanaan festival budaya oleh pemerintah kabupaten, kedepan dilakukan secara bersamaan sehingga wisatawan yang berkunjung ke Papua tak hanya menikmati satu paket sajian saja.

Festival Teluk Humboldt 2017, Tampak sebuah pentas tarian Cenderawasih yang meriahkan lokasi festival di Pantai Hamadi pada 2017 lalu. (Eveerth Joumilena / HPP)

“Tetapi bisa menyaksikan banyak festival tanpa menunggu waktu lama dan bisa menghemat uang untuk menonton festival lain. Bayangkan kalau Festival Danau Sentani, Festival Teluk Humbolt, Festival Munara Wampasi di Biak, Pesta Budaya Asmat dan Festival Lembah Baliem digelar bersamaan,” terangnya.

Dia tambahkan, kedepan dirinya bermimpi agar semua kegiatan festival di Papua digelar pada satu daerah secara bergantian dan dikoordinir oleh pemerintah provinsi.  (Erwin / Koran Harian Pagi PAPUA)