Awalnya Pasukan keamanan TNI/Polri memperketat keamanan dan berusaha mengidentifikasi arah datangnya Serangan. Anggota Pos Yonif 755/Yalet yang melihat langsung KKSB memegang senjata langsung membalas tembakan tersebut. Tampak Situasi Aparat Keamanan di Kabupaten Nduga. (Pendam)

WAMENA (LINTAS PAPUA)  –  Sebanyak 33 orang warga sipil yang ikut mengungsi keluar dari Kenyam ibu kota Kabupaten Nduga, pasca peristiwa yang terjadi 11 Juli lalu, diterbangkan dari Merauke ke Wamena menggunakan pesawat Hercules milik TNI AU kemudian  mendarat di Apron 2 Bandara Wamena, Jumat (20/07/2018) sore.

Dari 33 warga sipil tersebut terdapat wanita dan beberapa anak-anak.

Ketua Rombongan Lepius Telengen, yang juga merupakan PNS di Kabupaten Nduga menceritakan ia dan rombongannya keluar dari kota Kenyem, akibat situasi keamanan yang tidak kondusif di sana.

Berawal dari kejadian penembakan pesawat Trigana di Kenyam dan berlanjut penembakan yang dilakukan TNI/Polri bersama Brimob dengan KKB.

“Dari kejadian penembakan pesawat Trigana, hingga terjadi situasi kemanan yang tidak kondusif akibat penembakan dari aparat, mereka masuk lakukan penembakan dan masyarakat bubar ke arah barat, timur, selatan,” ungkapnya kepada wartawan.

Ia menceritakan pada saat kejadian, masyarakat banyak yang keluar dari kota Kenyam termasuk ia dan rombongannya. Mereka langsung mengungsi ke kecamatan Sawerma dengan berjalan kaki, dan setelah itu melanjutkan perjalanan dengan longboat menuju kabupaten Agats, menginap di Agats selama dua hari, dan dilanjutkan ke Merauke.

“Jadi kami keluar dari Nduga itu hari Jumat minggu lalu, lewat Batas Batu dan menginap di kecamatan Sawerma, setelah pagi kami ke kabupaten Agats,”katanya.

Kabupaten Agats pemerintah dan masyarakat menerima mereka dengan baik, dan Dinas Sosial ikut memfasilitasi mereka selama dua hari di sana, setelah itu naik kapal ke Merauke.

Suasana masyarakat di Kenyam, Kabupaten Nduga. (Eveerth Joumilena / Koran Harian Pagi Papua)

“Di Merauke pemerintah daerah ikut mengamankan kami, dan disana kami hanya satu hari, setelah itu  diberangkatkan ke sini,” jelasnya.

Sebenarnya dalam rombongannya terdapat 43 orang tetapi sebagian menuju ke Timika dan Jayapura.

Ia dan rombongannya juga masih akan tinggal bersama keluarga di Wamena, hingga situasi dan kondisi kabupaten Nduga kembali kondusif.

“Disini kami tinggal dengan keluarga, kalau sudah aman baru kami akan kembali,” pungkasnya. (Vin/nn / KORAN HARIAN PAGI PAPUA)