SMA PGRI Ditengah Kota Jayapura,  Tak Tersentuh Dana Otonomi Khusus

0
1537
“Saya kepala sekolah orang Papua disini, menyampaikan bahwa sebagai anak Papua, saya merasa sedih, karena melihat kondisi anak-anak saya belajar tanpa didukung dengan fasilitas Laboratorium (LAB), inikan sayang sekali, kita bicara Otsus proteksi, keberpihakan dan pemberdayaan kepada orang asli Papua, namun kenyataannnya kami disekolah ini tidak diperhatikan,” ujar Kepala Sekolah SMA PGRI Kota Jayapura, Yanet Berotabui, S.Pd, MM.Pd. Tampak Pelajar SMA PGRI saat upacara bendera.
Kepala Sekolah SMA PGRI Kota Jayapura, Yanet Berotabui, S.Pd, MM.Pd. (Foto Napi /HPP)

Kepala Sekolah : “100 Persen Siswa/wi Berasal dari Pegunungan Papua”

JAYAPURA (LINTAS PAPUA)  –  Pemerintah Provinsi Papua diharapkan lebih jelih untuk turun kelapangan melihat dari dekat keberadaan atau kondisi sekolah-sekolah yang ada di Provinsi Papua. Karena sampai saat ini ada sejumlah sekolah di Papua yang tidak pernah diperhatikan dengan baik.

Padahal dana Otsus yang dikucurkan khusus untuk membiayai bidang pendidikan cukup besar. Seperti halnya SMA PGRI yang terletak di Waena Distrik Heram Kota Jayapura.

Sekolah ini berada ditengah jantung kota Jayapura, yang adalah barometer bagi provinsi Papua, namun sangat disayangkan tidak memiliki fasilitas yang cukup, untuk menunjang kelancaran proses kegiatan belajar mengajar.

Sekolah ini juga, menampung 100 persen anak-anak Papua yang berada di daerah pedalaman Papua, seperti; Yahukimo, Pegunungan Bintang, Yalimo, Nduga, Tolikara, Mamberamo, Wamena dan sejumlah kabupaten lainnya.

Kepala Sekolah SMA PGRI Kota Jayapura, Yanet Berotabui, S.Pd, MM.Pd. ketika ditemui di ruang kerjanya Senin (16/7) 2018 menuturkan, sangat sedih dan prihatin melihat kondisi sekolah yang dipimpinnya, karena sampai saat ini tidak memiliki fasilitas pendukung belajar-mengajar yang baik.

“Saya kepala sekolah orang Papua disini, menyampaikan bahwa sebagai anak Papua, saya merasa sedih, karena melihat kondisi anak-anak saya belajar tanpa didukung dengan fasilitas Laboratorium (LAB), inikan sayang sekali, kita bicara Otsus proteksi, keberpihakan dan pemberdayaan kepada orang asli Papua, namun kenyataannnya kami disekolah ini tidak diperhatikan,”terangnya.

Dijelaskannya, bagaimana sekolahnya mau bersaing dengan sekolah lain, kalau Laboratorium saja tidak punya.

“Saya kepala sekolah orang Papua disini, menyampaikan bahwa sebagai anak Papua, saya merasa sedih, karena melihat kondisi anak-anak saya belajar tanpa didukung dengan fasilitas Laboratorium (LAB), inikan sayang sekali, kita bicara Otsus proteksi, keberpihakan dan pemberdayaan kepada orang asli Papua, namun kenyataannnya kami disekolah ini tidak diperhatikan,” ujar Kepala Sekolah SMA PGRI Kota Jayapura, Yanet Berotabui, S.Pd, MM.Pd. Tampak Pelajar SMA PGRI saat upacara bendera.

“Kita bicara system online, sementara SMA PGRI satu komputerpun saja tak punya, kasihan kami ini, pemerintah Provinsi Papua harus memperhatikan nasib kami,” terang Yanet.

Ditengah situasi dan kondisi yang dialami, Yanet tetap optimis bahwa suatu kelak sekolah yang dipimpinnya akan menjadi sekolah yang bisa bersaiang dengan sekolah-sekolah lainnya.

“Puji Tuhan satu kebanggaan sukacita bagi kami SMA PGRI, baik banyak tidaknya siswa, kami selalu sukacita untuk menghadirkan anak-anak negeri kami, oleh karena itu kami himbau kepada pemerintah Kota dan Provinsi Papua, untuk melihat kebawah, nasib sekolah ini,” harapnya.

 

Pada kesempatan itu, Wakasek SMA PGRI, Totok A. Mushid. S,Pd menambahkan, pihaknya menerima anak-anak asli Papua, dari berbagai daerah untuk dibina dan dididik.

 

“Peserta didik baru tahun ini berjumlah 83 siswa, dan mayoritas berasal dari daerah pegunungan tengah Papua, sehingga ini boleh dikata ini masyarakatnya bapak gubernur terpilih Enembe.”pungkasnya.

Ditempat terpisah salah satu siswa SMA PGRI, asal pegunungan tengah Papua, Melky kepada HPP, menuturkan, merasa bangga dan senang mendapatkan kesempatan untuk bersekolah di SMA PGRI Waena.

“Saya mewakili teman-teman, khusus kami yang datang dari daerah pegunungan mengucapkan terima kasih kepada ibu Janet Berotabui sebagai kepala sekolah SMA PGRI Waena dan seluruh staf, karena telah memberikan kami kesempatan untuk belajar di sekolah ini,” katanya.

Diakuinya, SMA PGRI masih banyak kekurangan, dan selama ini dipandang oleh masyarakat sebagai sekolah yang tertinggal, namun satu hal yang membuat dirinya bersama rekan-rekannya selalu bersemangat dan bisa menyatu untuk mengikuti aktivitas kegiatan belajar adalah kebersamaan, kekompakan, kekeluargaan, disiplin yang tertanam dari seorang Ibu Kepala Sekolah yang adalah anak asli Papua yang punya hati ingin membangun anak-anak negeri Papua untuk maju bersaing dengan anak-anak Indonesia lainnya.

Suasana Upacara di SMA PGRI. Sekolah ini juga, menampung 100 persen anak-anak Papua yang berada di daerah pedalaman Papua, seperti; Yahukimo, Pegunungan Bintang, Yalimo, Nduga, Tolikara, Mamberamo, Wamena dan sejumlah kabupaten lainnya. (Napi )

“Terima kasih karena kami bisa bertemua dengan ibu kepala sekolah disini, kami merasa nyaman karena ibu kepala sekolah, selalu dekat dengan kami, baik di sekolah maupun di luar lingkungan sekolah, bahkan kalau diantara kami ada yang sakit atau ada masalah, ibu pasti cari kerumah atau kos-kosan tempat dimana kami tinggal,”paparnya.

Ibu kepala sekolah juga mengingatkan, kami untuk selalu berdoa mengucap syukur kepada Tuhan, sehingga apa yang kami inginkan cita-citakan dapat tercapai. Hal Senada juga disampaikan oleh rekannya Maria bahwa pelayanan yang diberikan oleh seorang ibu kepala sekolah yang adalah anak asli Papua sangat baik.

Ia punya hati untuk membangun masyarakat Papua.

“Ibu kepala sekolah orangnya sangat tegas, disiplin dan pekerja keras, kami selalu hormat kepada ibu karena, ibu punya hati untuk membangun anak-anak Papua, ibu selalu menempatkan dirinya sebagai ibu atau mama kami yang ada di rumah, Ibu juga bisa sebagai kakak, sebagai teman, itu yang membuat kami merasa senang,” terang Maria, Anak-anak Papua ini diajarkan untuk belajar bersama-sama saling mengisi, menasehati dan saling menghargai satu sama yang lainnya.

Tetapi juga memiliki dedikasi yang tinggi untuk bagaimana merubah imits yang berkembang di masyarakat bahwa orang Papua belum bisa, malas, tertinggal dan lain sebagainya. (Napi)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here