Puluhan Tewas di Wilayah Berbahasa Inggris Bergolak di Kamerun

0
320

YAOUNDE (LINTAS  PAPUA)  –  Lebih dari dua puluh orang tewas di salah satu wilayah berbahasa Inggris di Kamerun, kata sumber setempat, Sabtu, meskipun keadaan pasti kematian mereka belum jelas.

Kejadian di Kota Menka di wilayah barat laut Kamerun itu adalah salah satu yang paling mematikan sejak kelompok kecil berbahasa Inggris melancarkan pemberontakan pada tahun lalu terhadap pemerintah pusat, yang dikuasai penduduk berbahasa Prancis.

Agbor Balla Nkongho, pengacara dan pegiat hak asasi manusia setempat, mengatakan bahwa setidak-tidaknya 34 mayat ditemukan pada Jumat di Menka. Dia menolak mengatakan siapa pembunuh mereka.

Sumber setempat lain, yang mengunjungi Menka pada Sabtu dan meminta tidak disebutkan namanya, mengatakan melihat 29 mayat, termasuk tiga di luar sekolah, penuh luka tembak. Beberapa di antaranya perempuan dan anak-anak seusia 13 tahun, katanya.

“Mayat itu sudah membusuk dan berbau,” katanya.

Juru bicara militer Kolonel Didier Badjeck mengatakan dalam sebuah pernyataan kepada media lokal bahwa pasukan pemerintah mengepung sebuah hotel di Menka pada Jumat pagi, setelah mereka diberi tahu kehadiran para pemberontak separatis.

Baku tembak panjang terjadi dan “beberapa teroris dinetralisir”, kata Badjeck, tanpa memberikan rincian lebih lanjut.

Perwakilan dari pemberontak itu belum menanggapi permintaan untuk komentar.

Konflik bersenjata meletus pada tahun lalu di wilayah barat laut dan barat daya daerah berbahasa Inggris di Kamerun setelah pemerintah secara keras menekan unjuk rasa damai, yang dimulai pada 2016, terhadap peminggiran, yang dirasakan dari penduduk berbahasa Inggris.

Pembagian bahasa Kamerun mengingatkan kembali pada akhir Perang Dunia Satu, ketika Liga Bangsa-Bangsa membagi bekas koloni Jerman, Kamerun, antara sekutu Prancis dan pemenang Inggris..

Puluhan orang telah tewas sejak akhir tahun lalu – termasuk lebih dari 20 tentara dan polisi yang disergap oleh separatis – dan puluhan ribu pengungsi telah melarikan diri ke negara tetangga, Nigeria.

Amerika Serikat dan kelompok-kelompok hak asasi manusia telah menuduh pemerintah Yaounde membakar desa-desa dan melakukan pembunuhan terarah di wilayah-wilayah Anglophone, tuduhan yang dibantah keras oleh pemerintah itu.

Kekerasan terkini terjadi hanya beberapa bulan sebelum pemilihan umum saat Presiden Paul Biya, yang telah memerintah negara penghasil minyak Afrika Tengah itu selama 35 tahun, diperkirakan mengincar masa jabatan berikutnya. (ant/ Koran Harian Pagi Papua)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here