Dianggap Provokatif, HMI Minta Ustad Fadlan Garamatan Klarifikasi Video Dakwah

0
1003
Ketua Umum HMI Cab. Jayapura, M. Sabda Nawarisa. (Elsye Sanyi /HPP)
Ketua Umum HMI Cab. Jayapura, M. Sabda Nawarisa, dalam sebuah kegiatan. (Elsye Sanyi /HPP)

JAYAPURA (LINTAS PAPUA) – Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Jayapura meminta Ustad Fadlan Garamatan segera mengklarifikasi atas video dakwah yang tersebar viral di medsos yang mengatas namakan saudara umat lain yang berada di Papua tengah dan Selatan, antara lain kabupaten- kabupaten Wamena, Asmat dan Merauke. 

Ketua Umum HMI Cabang Jayapura, M. Sabda Nawarisa mengungkapkan, tindakan kekerasan kebencian penghinaan diskriminasi dan kejahatan kemanusian lainnya dengan dalil – dalil agama. Praktik yang demikian tentu saja telah mengubah stereotipe islam di mata dunia bahwa islam sebagai agama intoleran, anti pemikiran modern dan sinis terhadap keberagaman yang ada dalam kehidupan masyarakat.

“Disisi lain, aksi-aksi islam tidak hanya merusak citra islam di mata dunia dan indonesia namun selanjutnya akan menyuburkan pertikaian tiada usai antar umat manusia terutama antar pemeluk agama di Papua – Papua barat dan Indonesia, bahkan dalam konteks bernegara, perilaku keagamaan ini akan terus mengancam kemajumukan dan membuat tajam perbedaan identitas antarwarga negara,” jelasnya via telepon kepada HPP, Jumat (23/3).

Berangkat dari apa yang disampaikan dalam vidio tersebut, maka dirinya mengatakan perlu adanya perhatian serius pihak yang berwajib dalam hal ini, Polda Papua untuk menyelesaikan isu sensitif agama yang telah viral medsos moga apa yang menjadi, tuntuntan ini bisa menjadi solusi dalam hal penyelesaian propaganda dakwah.

Lanjutnya, sebab orang Papua telah di besarkan di Tanah, Lautan yang sama, makan daun pun yang sama maka atas itu sebagai anak muda kami meminta agar Pimpinan Agama, Pimpinan Adat, Pimpinan Pemerintah, pihak Keamanan, agar segera menyelesaikan problem sosial agama secara arif, bijaksana dan berkeadilan, agar dapat menjaga keharmonisan umat manusia dan agama. Pertiakaian pemahaman yang dapat, merusak keharmonisan.

“Maka upaya untuk mencari titik temu antara perbedaan- perbedaan yang ada pada semua ajaran agama akan menjadi semakin muda dan mulus sebagaimana mewujudkan islam yang lemah lembut, ramah, santun, adil dan humanis,” ujarnya. (Elsye Sanyi / Koran Harian Pagi Papua)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here