Menteri Yohana Yembise Prihatin Kasus Kekerasan Anak di Manokwari

0
621
Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Yohana Yembise, saat menyampaikan pemikirannya. (ISTIMEWA)
Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Yohana Yembise, saat menyampaikan pemikirannya. (ISTIMEWA)

JAYAPURA (LINTAS PAPUA) –   Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Yohana Yembise, mengaku terpukul atas kasus pembunuhan dan dugaan kekerasan seksual yang dialami seorang bocah berusia 11 tahun di Kabupaten Manokwari, Papua Barat, pada Kamis (1/3).

Yohana dalam siaran pers Mengatakan, Kementerian PPPA mengutuk keras dan menyesalkan kejadian yang dialami siswi kelas V sekolah dasar tersebut.

“Saya seorang Ibu Papua. Saya sakit mendengar terus menerus ada anak Papua yang harus meregang nyawa karena mengalami kekerasan seksual. Saya kutuk keras kejadian ini,” ujar Yohana Yembise.

Ia menyebutkan, informasi yang diperoleh Kementerian PPPA dari Kapolres Manokwari, AKBP Adam Erwindi, kuat dugaan bahwa sebelum ditemukan tak bernyawa korban mengalami kekerasan fisik dan seksual.

Sesuai hasil visum menyatakan ada luka serius di bagian kepala yang diduga dipukul menggunakan batu. Selain itu terdapat luka pada alat vital.

Saat ini, polisi telah mengantongi nama tersangka dan sedang dalam tahap pencarian.

“Saya mengapresiasi kinerja Kepolisian untuk bergerak cepat mengusut kasus ini,” sebutnya lagu.

Kementerian PPPA, lanjut Yohana, siap membantu jika diperlukan bantuan dalam hal pendampingan ataupun pengawalan penyelesaian kasus.

“Hendaknya pelaku diberikan sanksi seberat-beratnya, kebiri saja,” tegas Menteri Yohana.

Perempuan yang pernah mengenyam pendidikan di Manokwari ini mengimbau, seluruh masyarakat terlibat dan bekerjasama untuk menghentikan kasus kekerasan terhadap anak.

“Masyarakat harus bekerjasama dengan melindungi setiap anak, siapapun dia mari kita jaga,” katanya lagi.

Menurut dia, berbagai upaya perlu dilakukan diantaranya, memberi pemahaman mengenai seksualitas diri anak, terhadap apa yang boleh dan tidak boleh dilihat dan disentuh oleh orang lain.

Setiap orangtua, lanjutnya, juga harus mampu menjalin komunikasi yang penuh kasih sayang dengan anaknya, sehingga bila terjadi masalah terhadap anak, orang tua mengetahui lebih awal.

“Kepada seluruh masyarakat, terutama komunitas yang paling kecil yaitu keluarga, untuk memiliki sensitifitas terhadap anak. Apabila ada potensi kekerasan terhadap anak disekitar kita, kita harus bergerak bersama untuk melindungi anak, karena setiap anak harus dilindungi,” pungkasnya. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here