Satu Lilin Save Kaka Bas, Masyarakat Diundang Untuk Aksi Moral Bersama

0
1010

JAYAPURA (LINTAS PAPUA)  –  Sebuah Keadilan  dan Kebenaran Digiring Secara Paksa Kedalam Kegelapan Sekalipun , Ada Saatnya Akan Kembali Bersinar Di Tengah Kegelapan Tersebut, demikian masyarakat diundang dalam acara satu lilin untuk Save Kaka Bas.

Aksi moral rakyat Papua ” Save Kaka Bas ” dalam rangka menegakan Keadilan Hakiki atas Bapa Bas, sapaan Barnabas Suebu serta seluruh Orang Papua, akan dilaksanakan tanggal 27 januari 2018, jam 5 sore , di lapangan Almarhum Bapak. Theys Eluay, Sentani – Jayapura – Provinsi Papua.

Hal ini disampaikan Samuel Pakage, selaku Panitia  Save Kaka Bas, melalui undangan yang disampaikan, sekaligus menjelaskan, bahwa hal ini dilakukan dengan melihat hasil kajian putusan pengadilan kasus Bapak  Bas Suebu.

“ Para Pakar Hukum Pidana Indonesia telah menemukan bahwa : Bapa Barnabas Suebu Tidak Bersalah / Tidak Menemukan Bukti Kesalahan. Dengan demikian ini adalah bagian dari Penzoliman Negara terhadap Bapa Bas, Kriminalisasi terhadap Bapa Bas serta Bapa Bas adalah Korban Dari Satu Konspirasi Politik,” tuturnya dalam selebaran undangan yang dibagikan, Jumat (26/1/2018).

Dikatakan, postingan ini merupakan undangan resmi kepada Seluruh Rakyat Papua. Bagi yang peduli terhadap sebuah Keadilan Hakiki atas Barnabas Suebu maupun kepada seluruh orang Papua di Tanah Papua, silahkan luangkan waktu untuk hadir.

 

Dalam aksi moral ” Save Kaka Bas ” tersebut Para Pakar Hukum Pidana Indonesia yang bergabung dalam Asosiasi Pimpinan Perguruan Tinggi Hukum Indonesia ( APPTHI ) yang telah mengkaji putusan kasus Bapa Bas secara Ilmiah / Akademis akan hadir untuk menyampaikan Hasil Kajian / Hasil Eksaminasi tersebut kepada seluruh rakyat Papua.

 

Sebelumnya, sebagaimana dikutip dari inilah.com , menguraikan Putusan Perkara Nomor 7/Pid.Sus/TPK/2015/PN.JKT.PST dan Putusan Perkara Nomor 01/PID/TPK/2016/PT.DKI terhadap dugaan korupsi yang dilakukan oleh Mantan Gubernur Papua 2006-2011, Barnabas Suebu lebih banyak dipengaruhi oleh opini publik sehingga memiliki banyak kelemahan dan mengurangi kualitas putusan yang mencerminkan keadilan substantif.

Dugaan ini muncul berdasarjan hasil kajian Majelis Eksaminasi yang dibentuk oleh APPTHI (Asosiasi Pimpinan Perguruan Tinggi Hukum seluruh Indonesia).

“Bahwa opini politik cenderung berperan tinggi dalam pengambilan keputusan, namun tetaplah harus dibuktikan agar tidak hanya didasarkan pada prasangka. Dalam putusan PT, majelis hakim telah menerapkan pertimbangan dengan prasangka dan bukan berbasiskan bukti tentang hubungan korupsi yang dilakukan oleh terdakwa dengan organisasi atau kelompok yang menuntut kemerdekaan papua,” ungkap Anggota Tim APPTHI, Syamsuddin, dalam pernyataan persnya, Jumat (8/12/2017).

Pernyataan Syamsuddin tersebut muncul sebagai bagian dari kajian putusan kasus korupsi yang menjerat Barnabas Suebu. Proses peradilan kasus tersebut awalnya ditangani oleh Pengadilan Tipikor Jakarta yang menjatuhkan hukuman 4,5 tahun penjara. Kemudian atas hasil putusan tersebut jaksa mengajukan banding.

Sekilas  Barnabas Suebu

Barnabas Suebu, SH adalah pria asal dan kelahiran Sentani, 29 April 1946, merupakan Gubernur Irian Jaya periode 1988 – 1993 dan Gubernur Papua  periode 2006 – 2011.

Drinya terpilih kembali pada pemilihan kepala daerah Papua, yang hasilnya ditetapkan tanggal 3 April 2006 bersama pasangan Aelx Hesegem, dengan meraih 354.000 suara, mengalahkan Lukas Enembe yang meraih 333.000 suara.

Barnabas menikah dengan Maryam S. Tokoro dan dikaruniai 6 orang anak. Ia adalah sarjana muda hukum lulusan Universitas Cenderawasih tahun 1976 lalu lulus sarjana hukum dari universitas yang sama pada tahun 1988, selanjjtnya  lulus dari kursus reguler Angkatan XVII Lemhana tahun 1984.

Ia pernah menjabat sebagai Ketua KNPI Irian Jaya periode 1974-1975, Ketua Umum Kadin  Irian Jaya periode 1981-1987, Ketua DPRD Irian Jaya periode 1987-1988, penasihat Menteri Riset dan Teknologi, , anggota Badan Pertimbangan Pendidikan Nasional periode 1990-1998, anggota Majelis Pertimbangan Persekutuan Gereja – Gereja di  Indonesia periode 1994 – 1999, anggota MPR – RI periode 1997 – 2002, dan Duta Besar Indonesia untuk Meksiko yang membawahi Meksiko, Honduras dan Panama periode 1999-2002. Saat ini Barnabas Suebu ditahan oleh KPK atas kasus Korupsi Pembangunan PLTA di Sungai Mamberamo Tahun 2009-2010 dan saat ini ditahan di Rutan KPK di Gedung KPK Jakarta. Barnabas Adalah Bapa orang tua bagi Tanah Papua, sekiranya negara bisa adil dalam memberikan keadilan hukum dan melihat sisi keumuran serta pengabdian terhadap bangsa dan negara, sehingga ada pertimbangan hukuman untuk membebaskan Barnabas Suebu.

“Save Kaka Bas”  Save Semua Pemimpin Papua”

Sementara itu, Tokoh Intelektual Muda Papua, Samuel Tabuni mengatakan, bahwa Berhentilah melihat kelemahan pemimpin kita. Beliau adalah tokoh Papua yang darinya kita belajar konsep besar bangun kampung. Program bangun dari kampung ke kota adalah idea cerdas beliau yg hampir semua pemimpin di Indonesia sedang kampanyekan saat ini.

“Karya-karya Bapak Bas Suebu disaat beliau menjadi Gubernur Irian jaya luar biasa. Bapak Bas telah meletakkan dasar-dasar pembagunan diatas Tanah Papua. Saat itu Bapak Bas dapat meyelamatkan OAP dari kepunahan dengan menghetikan program Trasmigrasi yang kencang dibawah regime Orde Baru President Suharto,” ujar Samuel Tabuni, yang banyak berkarya memajukan Bidang Pendidikan di Papua melalui Papua Language Institute.

Anak Muda Asli Kabupaten Nduga ini pernah menjadi salah satu Delegasi Indonesia untuk YSEALI Profesional Fellow 2017 di Amerika mewakili Indonesia  berpesan, saatnya semua pemimpin Papua sekarang harus sadar dan hati-hati menggunakan kekuasaan, terutama penempatan orang dan penggunaan keuangan.

“Harus ingat. Undang  – Undang Otonomi Khusus ini tidak mengatur khusus tentang penggunaan keuangan dan sanksinya. Jangan sampai semua pemimpin di Tanah Papua masuk bui. Lalu, kami dianggap tidak mampu memimpin daerah kami selamannya- di Indonesia. Masyarakat tanpa pemimpin tidak akan pernah disegani. “Save Kaka Bas sama dengan Save semua Pemimpin Papua” Salam Damai!,” tutur Samuel Tabuni, yang ikut peduli dengan situasi yang terjadi.

Barnabas Suebu kini berusia 72 tahun dan harus menjalani hukuman delapan tahun penjara, sehingga masyarakat Papua menghendaki adanya kebijakan yang berpihak kepada tokoh Papua ini dan adanya pertimbangan keadilan dan sisi kemanusiaan dengan melihat umur dari Kaka Bas Suebu, dalam kesempatan ini, masyarakat diajak bersama untuk menandatangani petisi yang disiapakan, sekiranya menjadi pertimbangan agar Presiden Joko Widodo dapat membebaskan Barnabas Suebu, sebagai bentuk keadilan atas orang tua  dari masyarakat Papua ini, dengan klik  https://www.change.org/p/joko-widodo-bebaskan-barnabas-suebu  kita memberikan dukungan dari sisi petisi yang disiapkan.  (Eveerth Joumilena)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here