Masyarakat Merauke Akui Butuhkan Perusahan Kelapa Sawit

0
868

JAYAPURA (LINTAS PAPUA) – Pernyataan ini disampaikan Abraham Yolmen yang juga Ketua Koperasi Serba Usaha (KSU) Iska Bekai sekaligus Ketua Marga Yolmen, Simon Walinaulik dan Charles Yeimai, Yohanes Samkakai yang mewakili masyarakat yang menjadi pemilik hak ulayat di Mam, Kampung Nakias ditemui Radar Merauke di Mam, Kampung Nakias, Distrik Ngguti-Merauke.

Baik Abraham, Simon, Charles dan Yohanes ingin PT Dongin Prabhawa yang merupakan segera membuka kebun untuk masyarakat sesuai dengan ketentuan undang-undang dimana 20 persen dari Hak Guna Usaha (HGU) dikembalikan kepada masyarakat.

‘’Kami sudah menunggu perusahaan membuka kebun untuk pemilik hak ulayat tersebut. Tapi sampai sekarang perusahaan belum juga bersihkan lahan untuk bisa kami tanam kelapa sawit,’’ kata Abraham Yolmen, dalam release press yang disampaikan, Kamis (13/7).

“Awalnya kami pikir mungkin perusahaan sengaja ulur-ulur waktu,’’ katanya. Namun 2 minggu terakhir, lanjut Simon baru pihaknya mengetahui alasan perusahaan belum membuka kebun bagi masyarakat pemilik hak ulayat tersebut.

Ternyata, pihak perusahaan mendapat tekanan dari LSM seperti Mighty Earth dan AidEnvironment. Karena itu, lanjut Abraham Yolmen dan Simon Walinaulik, pihaknya tidak mau LSM itu ikut campur dan melarang atau memberikan tekanan kepada pihaknya terutama perusahaan. Karena yang akan dibuka ini adalah lahan milik masyarakat sendiri yang sudah masuk dalam Hak Guna Usaha (HGU) yang telah mendapatkan izin dari pemerintah.

Sekali lagi, kami minta LSM stop untuk melarang kami membuka kebun di atas lahan kami sendiri,’’ tandas Simon Walinaulik.

Abraham mengungkapkan, kehadiran perusahaan selama ini sangat memberikan manfaat bagi warga kampung Nakias. Tidak hanya dari sisi ekonomi tapi dari sisi pendidikan, kesehatan dan bidang lainnya.

Dulu, kata Abraham, sebelum PT Dongin Prabhawa masuk melakukan investasi, pihaknya harus bersusah payah mencari uang dan makan. Tapi dengan masuknya perusahaan, kata Abraham, semua itu tidak dilakukan lagi. Masyarakat bekerja mencari uang ke perusahaan.

‘’Dengan hadirnya perusahaan, kami rasakan sudah ada perubahan yang sangat bagus. Kami tidak mau lagi mencari buaya di kali atau rawa-rawa yang dalam sehari belum tentu mendapatkan hasil. Dulu, betul-betul kami sengsara,’’ tandasnya.

“Kami ingin seperti mereka. Mau sejahtera. Jadi LSM jangan halangi kami untuk mau berubah dari kehidupan kami yang ada sekarang ke yang lebih baik,’’ tegasnya.

Dibidang pendidikan, lanjut Abraham, anak-anak mereka bisa sekolah dengan baik. Sebab, perusahaan telah menyediakan sarana pendidikan mulai dari SD sampai SMP dan rencana akan membuka SMK Pertanian. Setiap harinya, anak-anak antar jemput dengan bus di setiap titik kumpul ke sekolah.

“Anak-anak kami bisa sekolah dengan baik. Karena ada sekolah dan bus disiapkan perusahaan,” terangnya.

Sementara di bidang kesehatan, lanjut Abraham, perusahaan juga telah menyediakan klinik kesehatan. Seperti yang disaksikan koran ini, di klinik kesehatan milik perusahaan ini telah menyiapkan 17 petugas kesehatan mulai dari mantri sampai bidan. Di klinik ini, juga diberikan pelayanan dasar mulai dari penanganan unit darurat, persalinan sampai pemeriksaan laboratorium. Ada juga ruang rawat inap bagi warga yang sakit dan harus dirawat serta tempat bersalin bagi ibu-ibu yang melahirkan.

Abraham menjelaskan sebelum perusahaan ada, pihaknya harus jalan kaki 2-3 hari ke puskesmas yang ada di Okaba untuk mendapatkan pelayanan.

‘’Tapi sekarang dengan kehadiran perusahaan, semua telah disediakan. Jika ada yang sakit dan segera mendapatkan pertolongan maka kami minta tolong dibantu untuk menggunakan mobil perusahaan diantar ke klinik untuk mendapatkan pelayanan. Kami benar-benar sangat terbantu,’’ katanya.

Tak hanya itu, jelas Abraham, perusahaan juga memberikan pelayanan gratis ke kampung-kampung. ‘’Jadi tenaga kesehatan perusahaan juga turun ke kampung-kampung memberikan pelayanan,’’ jelasnya. (***)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here