Janganlah Kita Jemu-Jemu Berbuat Baik, Karena Apabila Sudah Datang Waktunya, Kita Akan Menuai

0
137

🇰 🇮 🇳 🇬 ‘🇸 🇸 🇼 🇴 🇷 🇩
Jumat 19 Februari 2021

Bacaan Setahun:
Kel. 28
Mat. 10

“Tempalah mata bajakmu menjadi pedang dan pisau-pisau pemangkasmu menjadi tombak; baiklah orang yang tidak berdaya berkata: “Aku ini pahlawan!” Ayunkanlah sabit, sebab sudah masak tuaian; marilah, iriklah, sebab sudah penuh tempat anggur; tempat-tempat pemerasan kelimpahan, sebab banyak kejahatan mereka.”Yoel 3:10, 13

Kita pernah mendengar sebuah ungkapan yang berkata bahwa di balik mendung yang gelap selalu tersedia cahaya matahari. Atau sebuah ungkapan lain yang berkata setelah hujan yang deras selalu tersedia pelangi yang indah. Hal itu bermakna, bahwa apapun tantangan, kesulitan yang kita hadapi, itu tidak akan berlangsung selamanya, dan selalu akan kita songsong sebuah harapan, keberhasilan, dan kebahagiaan yang baru. Ungkapan ini memberi kita sebuah perspektif positif dalam menghadapi persoalan kehidupan.

Secara rohani Gembala Senior GBI Rock Indonesia, Bapak Pdt. Timotius Arifin bahkan menggambarkan bahwa masa pandemi Korona ini sebagai sebuah Akademi, yaitu Akademi Corona di mana periode ini membuat kita belajar banyak hal mengenai kehidupan ini dan meyakini bahwa pasca pandemic ini akan berlangsung Corona Revival yaitu sebuah kebangunan rohani yang besar. Tidak hanya secara rohani, dalam berbagai area kehidupan kita meyakini bahwa selalu ada harapan baru pasca pandemi ini.

Namun tentunya harapan-harapan positif ini tidak akan menjadi kenyataan dengan sendirinya, segalanya perlu respon yang benar untuk mempersiapkan diri guna meraih moment kebangkitan tersebut.
Firman Tuhan yang kita baca memberi kita gambaran bahwa Allah menyatakan rencana-Nya untuk melawat manusia yang dibaratkan seperti sebuah periode tuaian.

Hal ini juga yang dinyatakan Yesus dalam Lukas 10:2, “Kata-Nya kepada mereka: “Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu mintalah kepada Tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu.” Firman Tuhan yang kita baca menunjukkan beberapa respon yang perlu dilakukan untuk meraih masa tuaian itu, yaitu mengubah setiap mata bajak, pisau pemangkas yang secara konteks bermakna alat atau potensi untuk mencari nafkah diubah menjadi sebuah senjata, atau bermakna alat perjuangan untuk misi Allah ini.

Hal ini berarti butuh sebuah perubahan orientasi kehidupan dari hidup untuk diri sendiri kepada hidup bermakna bagi orang lain.

Yang berikutnya adalah membangun sikap mental positif berdasar kesadaran akan identitas sebagai “pahlawan”, artinya pribadi yang rela berjuang menjadi berkat bagi orang lain atau bagi sebuah kehidupan yang lebih baik bagi banyak orang. Yang terakhir adalah melakukan tindakan penuaian tersebut yaitu mengayunkan sabit menuai tuaian yang sudah tersedia.

Meskipun masih di era pandemi, siapkah kita membangun kesiapan diri kita untuk menjadi alat-Nya melakukan penuaian? Visi Allah sudah dinyatakan jelas, persiapan harus dilakukan, atau mungkin kita cuman menjadikan kebangunan rohani sebagai halusinasi? Anda mengerti? (HA)

Questions :
1. apakah Anda percaya di masa pandemi ini Tuhan akan melakukan kebangunan rohani? Bagaimana itu akan terjadi?
2. Sudah siapkah Anda menyambut kebangunan rohani tersebut?

Values :
Siapkan diri! Tuaian sudah menguning, Anda dan saya adalah penuainya.

Tanpa kesungguhan memberi diri, kebangunan rohaninya hanya jadi sebuah halusinasi diri.

“Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah.”
__ Galatia 6.9

Menjadi lelah adalah manusiawi. Dan menjadi lelah adalah bagian dari perjalanan hidup. Bahkan dalam pelayanan dan berbuat baikpun kita bisa merasakan keletihan yang amat sangat.

Tapi janji Tuhan adalah Ia akan selalu memperbaharui kita, menguatkan kita, mendukung kita dan bahkan memberikan kehidupan kepada kita. Kadang Tuhan melakukannya melalui lagu2 pujian yang kita dengarkan, kadang2 melalui khotbah atau renungan yang menguatkan kita, kadang melalui perkataan yang lembut dan menghibur dari teman-teman kita. Atau bahkan dengan melihat keberhasilan dari orang yang kita bantu.

Ketika kita dengan setia, disiplin dan berintegritas dalam melakukannya maka kasih karuniaNya selalu cukup bagi kita untuk melakukan apa yang menjadi panggilan hidup kita.

Ingatlah bahwa tidak ada kebaikan yang sia-sia; tidak peduli sekecil apapun itu. Mungkin kita tidak selalu bisa melihat hasil atau dampaknya, tapi percayalah bahwa riak dari kebaikan kecil kita akan terus meluas dan menyentuh lingkaran yang lebih besar. (**)


 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here