Cara Menyelesaikan Konflik dan Menghentikan Kekerasan Bersenjata di Papua, Oleh : Marinus Yaung

0
96
Akademisi Hubungan Internasional Universitas Cenderawasih (Uncen) Papua, Marinus Yaung. (Richard /LPC)

Cara Menyelesaikan Konflik dan Menghentikan Kekerasan bersenjata di Papua.
( Perspektif Nir Kekerasan )

Oleh :  MARINUS YAUNG

Kekerasan bersenjata terus berlangsung di Papua. Korban jiwa di kalangan sipil dan militer terus terjadi. Saling bunuh sesama anak bangsa merupakan berita yang terus menjadi tajuk utama pemberitaan media massa.

Perlu disadari bahwa PERANG saat ini bukanlah pilihan utama komunitas internasional dalam menyelesaikan isu – isu politik dan keamanan. Masyarakat dunia sudah jenuh dan lelah dengan perang. Penggunaan perang sbg intrumen kebijakan negara, sudah mulai ditinggalkan dan ditolak.

Para pihak yang menggunakan perang dan kekerasan bersenjata sbg intrumen politik dan kekuasaan, akan dimusuhi dan menjadi musuh publik. Konkritnya, komunitas internasional sudah tidak tertarik lagi dengan cara – cara kekerasan untuk mencapai tujuan dan kepentingan tertentu.

Lalu untuk tujuan apa TPN-OPM terus berperang dengan TNI dan Polri di Papua ?. Memang masing – masing punya tujuan dalam konflik bersenjata, tetapi apakah tujuan para pihak yang bertikai ini harus dicapai hanya dengan kekerasan senjata ?

Saya mencoba mengusulkan bebera poin pemikiran untuk menginspirasi setiap kita agar bersama – sama mencari solusi penyelesain konflik dan kekerasan berdarah di Papua.

1. TPN – OPM memiliki senjata mesin dan peluru dari aparat keamanan, TNI dan Polri. Karena itu, perlu ada tindakan hukum yang tegas terhadap oknum anggota yang menjual senjata dan amunisi kepada TPN – OPM. Oknum anggota TNI dan Polri yang kedapatan terlibat dalam transaksi jual beli senjata dan amunisi, ketika tertangkap, oknum – oknum tersebut DISERAHKAN KEPADA REGU TEMBAK UNTUK DITEMBAK MATI DI MUKA UMUM DI LAPANGAN TERBUKA.

2. Sekarang ini peluru dan amunisi dari anggota2 TPN – OPM di 4 wilayah konflik di Papua, sudah berkurang dan tinggal sedikit. Jangan lagi ada oknum – oknum anggota TNI dan Polri yang memanfaatkan situasi ini utk bisnis senjata dan amunisi. Mata rantai suplly peluru dan amunisi senjata harus diputuskan.

3. Para bupati, elit politik dan pemilik modal di Papua, yang selama ini sudah termonitor oleh negara, ikut memberikan uang kepada kelompok TPN – OPM, tolong JANGAN LAGI MELAKUKAN HAL TERSEBUT. Jika mengulang lagi memberikan uang kepada kelompok TPN – OPM, maka aparat keamanan harus mengambil tindakan tegas dan terukur kepada para bupati, elit politik dan pengusaha Papua tersebut. Aparat keamanan jangan ragu dan penuh pertimbangan. Harus berani tegakkan aturan dgn tegas dan terukur.

4. TNI dan Polri,baik organik maupun non organik, harus bisa menangkan hati dan pikiran rakyat Papua. Caranya bagaimana ? Pertama, harus belajar dari sejarah. Kirim pasukan TNI dan Polri yang dibesarkan di lingkungan pesantren atau minimal dekat dgn kehidupan masjid. Jangan kirim pasukan TNI dan Polri yang berasal dari Islam abangan.

Sejarah penumpasan pemberontakan Kahar Muzakar di Sulawesi Selatan sudah jadi contoh. Pasukan TNI islam abangan berpotensi menghambat proses2 perdamaian di Papua. Mereka memiliki perilaku moral yang rusak dan tidak menghormati simbol – simbol agama di Papua.

Mereka sering menciptakan permusuhan dgn rakyat di lapangan. Kedua, Pasukan TNI dan Polri harus memiliki data lengkap tentang para pendeta, hamba Tuhan, para misionaris, di wilayah – wilayah operasi.

Jadikan kelompok strategis ini mitra dialog dan bangun komunikasi intensif dgn mereka. Kelompok strategis ini sebenarnya adalah aktor dominan untuk proses – proses perdamaian di Papua.

Ketiga, setiap pasukan TNI dan Polri yang ditempatkan di satu wilayah operasi, harus ada warisan yang ditinggalkan disitu dan warisan tersebut bermanfaat bagi masyarakat setempat.

Misalnya bangun gedung gereja atau bangun rumah untuk pendeta atau hamba Tuhan. Atau bisa juga adopsi dua atau tiga anak – anak dari daerah itu untuk biaya sekolah mereka. Keempat, sekali – kali prajurit yang kristen, ikut ibadah di gereja lokal dan sumbang pujian.

Di tengah – tengah pujian, sampaikan permohonan maaf kepada Jemaat jika selama ini ada tindakan2 aparat keamanan yang menyakiti dan melukai hati jemaat, maka TNI Polri minta maaf. Lakukan pendekatan2 humanis seperti ini.

5. TNI dan Polri sudah waktunya menggandeng para antropolog untuk dilibatkan di wilayah – wilayah konflik di Papua. Hasil – hasil riset para antropolog dikolaborasikan dgn pedoman keamanan dan ketertiban dari TNI dan Polri, untuk kemudian dirumuskan dan dijadikan rujukan tindakan operasional di lapangan.

Beberapa poin – poin ini adalah bagian dari pendekatan Nir Kekerasan untuk penyelesain kasus – kasus kekerasan bersenjata di wilayah2 konflik Papua seperti di Intan Jaya, Nduga dan Puncak Jaya. Pendekatan Nir Kekerasan butuh waktu dan proses yang tidak mudah. Butuh dukungan dan keterlibatan kita semua. (Penulis Adalah Dosen Hubungan Internasional di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Cenderawasih)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here