NEW CULTURE

0
108

🇰 🇮 🇳 🇬 ‘🇸 🇸 🇼 🇴 🇷 🇩
Rabu 2 Desember 2020

Bacaan Setahun:
Neh. 8-9
Kis. 21

NEW CULTURE
“Sebab Kerajaan Allah bukanlah soal makanan dan minuman, tetapi soal kebenaran, damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus.”Roma 14:17

Apa yang membuat budaya Kerajaan berbeda dengan budaya dunia? Secara lahiriah setiap budaya memiliki ciri khas tersendiri misalnya dalam hal berpakaian, gaya rambut, kebiasaan-kebiasaan, bahasa dan hal-hal lain yang menjadi ciri khas budaya tersebut.

Namun ada hal yang lebih penting dari itu semua yaitu kualitas-kualitas batin seperti karakter, nilai-nilai, norma, etika dan moralitas. Dalam Markus 7:1-13 dituliskan bahwa pada suatu hari orang-orang dari golongan Farisi dan ahli-ahli Taurat datang dari Yerusalem dan berkumpul bersama Yesus.

Mereka memperhatikan beberapa murid Yesus sedang makan tanpa membasuh tangannya terlebih dahulu sesuai dengan aturan dari nenek moyang mereka. Karena menurut pendapat mereka, dengan begitu murid-murid Yesus sudah menjadi najis di hadapan Allah. Memang semua orang Yahudi umumnya mengikuti aturan-aturan nenek moyangnya, orang-orang dari golongan Farisi sangat kuat berpegang kepada semua peraturan itu. Mereka tidak boleh makan sebelum membasuh tangannya dan kalau pulang dari pasar, mereka harus mandi dengan cara khusus sebelum mereka makan.

Banyak juga aturan lain dari nenek moyang mereka, dan semua aturan itu mereka lakukan, seperti cara mencuci cawan, kendi dan alat-alat dapur lainnya.

Lalu orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat bertanya kepada Yesus, “Kenapa murid-muridmu tidak mengikuti aturan nenek moyang kita? Tetapi Yesus menjawab, “Benarlah nubuat Yesaya tentang kamu, hai orang-orang munafik! Sebab ada tertulis: Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku. Percuma mereka beribadah kepada-Ku, sedangkan ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia. Perintah Allah kamu abaikan untuk berpegang pada adat istiadat manusia.” (Markus 7:6-7) Yesus menempatkan budaya Kerajaan Allah bukan berfokus kepada masalah makanan dan minuman atau hal-hal lahiriah, tetapi berfokus kepada hidup di dalam kebenaran, damai sejahtera dan sukacita yang dikerjakan oleh Roh Kudus.

Setelah kita menerima Yesus sebagai Tuhan dan juru selamat kita harus sadar bahwa kita memiliki dua kewarganegaraan, artinya kita hidup di dunia sebagai warga negara dunia, tetapi kita berpikir, berespon, bertindak dan melakukan segala sesuatu di dunia ini dengan cara berpikir, berbudaya, bernilai-nilai dan berprinsip sebagai warga Kerajaan Allah. Kita memiliki “L.I.G.H.T” (Love-Kasih, Integrity-Integritas, Grace-Kasih Karunia, Humility-Kerendahan hati dan Truth-Kebenaran).

 

Nilai-nilai dan budaya kerajaan Allah inilah yang harus kita teruskan kepada generasi kita selanjutnya. sehingga budaya Kerajaan dapat mentransformasi budaya dunia. Yesus menegaskan bahwa: ”Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga.” Anda mengerti? (RSN)

Questions :
1. Masihkah kita berpegang pada adat istiadat nenek moyang kita?
2. Bagaimana kita menyikapinya ketika kita tahu bahwa kita adalah warga Kerajaan Allah?

Values :
Yesus menempatkan budaya Kerajaan Allah bukan berfokus kepada hal-hal lahiriah, tetapi kepada kualitas-kualitas batin (spiritual).

Nilai-nilai dan budaya Kerajaan Allah harus kita teruskan kepada generasi selanjutnya agar dapat mentransformasi budaya dunia ini.
“Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada.”
__ Matius 6.21

Mencintai harta duniawi adalah akar dari segala jenis kejahatan, yang dapat menyebabkan orang percaya menyimpang dari kabar baik Injil kasih karunia. Hal tersebut dapat menyebabkan kita kehilangan banyak dari berkat melimpah yang Tuhan sediakan bagi kita.

Marilah kita menghargai hal-hal yang berasal dari Tuhan, dan tanpa henti mengejar kebenaran dan kesalehan, iman dan kasih, ketekunan dan kelembutan, kerendahan hati dan sukacita di dalam Tuhan – karena ketika harta kita berakar dan didasarkan pada Yesus, maka hati kita bersandar pada Batu Karang Keselamatan kita yang kekal. (***)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here