BUDAYA DAN KEBIASAAN BARU

0
107

🇰 🇮 🇳 🇬 ‘🇸 🇸 🇼 🇴 🇷 🇩
Kamis 3 Desember 2020

Bacaan Setahun:
Neh. 10
Kis. 22

BUDAYA DAN KEBIASAAN BARU
“Lalu Nuh mendirikan mezbah bagi TUHAN; dari segala binatang yang tidak haram dan dari segala burung yang tidak haram diambilnyalah beberapa ekor, lalu ia mempersembahkan korban bakaran di atas mezbah itu.”Kejadian 9:20

Pasca situasi lockdown total selama 1 tahun 10 hari di dalam bahtera karena seluruh bumi alami bencana alam hujan dan banjir yang menutupi seluruh bumi, maka Nuh dan keluarganya akhirnya bisa kembali keluar dan menikmati kebebasan bergeraknya . Bahkan Nuh dan keluarganya memiliki sebuah kesempatan untuk menjadi generasi pertama yang menentukan standart perilaku generasi sesudahnya.

Hal yang bisa kita refleksikan adalah, jikalau pandemic ini berlalu dan kita menikmati kembali kebebasan kita, maka pertanyaan pentingnya adalah standart kualitas hidup apakah yang kita munculkan sebagai sebuah gaya hidup baru dalam kehidupan kita? Firman Tuhan mencatat beberapa perilaku penting yang dilakukan Nuh yang dapat menjadi sebuah tonggak kebiasaan baru dan jika dilakukan secara terus menerus akan menjadi sebuah nilai budaya (culture) baru.
Hal pertama yang dilakukan Nuh adalah mendirikan mezbah bagi Tuhan, atau dengan kata lain Nuh melakukan tindakan perdana saat keluar dari situasi lockdown itu dengan menetapkan kebiasaan menyembah Tuhan atau membangun keintiman dengan Tuhan.

Tentu tindakah Nuh ini bukanlah sekedar respon spontan karena keluar dari bahtera, melainkan sebuah tindakan yang lahir dari kebiasaan selama mereka berada di dalam bahtera. Saat masyarakat diberi kesempatan untuk beraktivitas dalam standart protokol kesehatan, maka hal yang sering kita jumpai mereka langsung menyerbu berbagai mall, tempat wisata, restoran, café, reunian, dan sebagainya, sebagai ekspresi kebebasan yang dialami. Seluruh hal ini disebabkan karena selama masa lockdown orang memendam perilaku untuk mencari hiburan dan kesenangan diri.

Standart kebiasaan kedua yang ditunjukkan Nuh adalah ia bersama dengan keluarganya kembali rajin bekerja, dan pekerjaan pertama yang dilakukan adalah menjadi petani kebun anggur. Kejadian 9:20, Nuh menjadi petani; dialah yang mula-mula membuat kebun anggur.

Sebagai generasi pertama kembali, maka seolah-olah seluruh bumi menjadi milik Nuh, artinya seluruh kesempatan menjadi miliknya. Alih-alih bermalasan dengan semua yang dimiliki, Nuh justru mengambil pilihan untuk menjadi pribadi yang rajin.
Standart ketiga yang ditunjukkan Nuh adalah sebuah standart relasi untuk hidup dalam sikap penuh hormat atau respect. Satu situasi yang dicatat secara jujur di Alkitab adalah bahwa Nuh suatu kali mabuk hingga dalam keadaan telanjang. Saat Ham anaknya melihat keadaan itu, Ia justru menertawakan dan bahkan justru menceritakannya kepada orang lain.

Sedangkan dua anak yang lain yaitu Sem dan Yafet, mengambil sikap justru tidak memandang dan bahkan berusaha menutupi ketelanjangan Nuh. Salah satu ciri kita menghargai orang adalah bukan sekedar bermulut manis, atau membungkuk hormat, melainkan sikap tidak memviralkan kelemahan orang lain. Anda bersedia? (HA)

Questions :
1. Kebiasaan baru apa yang patut kita contoh dari kisah Nuh setelah keluar dari bahtera dan memulai kehidupan baru?
2. Apa yang akan Anda lakukan jika pandemi ini dinyatakan berakhir?

Values :
Sebagai warga Kerajaan, seharusnya sudah membiasakan budaya untuk memulai kehidupan selalu diawali dengan membangun keintiman dengan-Nya.

Hidup berkualitas selalu lahir dari sebuah standart kehidupan yang berkualitas.
“Dan kepada Salomo, anakku, berikanlah hati yang tulus sehingga ia berpegang pada segala perintah-Mu dan peringatan-Mu dan ketetapan-Mu, melakukan segala-galanya dan mendirikan bait yang persiapannya telah kulakukan.”
__ 1 Tawarikh 29.19

Ayat tersebut menunjukkan kisah Raja Daud berdoa bagi anaknya, untuk mempersiapkannya sebagai penggantinya menjadi Raja bagi Israel.

Dimanapun kita ditempatkan, dari keluarga mana kita dilahirkan, dan dengan siapa saja kita dipertemukan, tidak ada yang ‘kebetulan’. Semua sesuai rancanganNya bagi kehidupan kita. Kita berdampak bagi mereka yang diijinkan Tuhan ada dalam kehidupan kita, baik yang selama ini menetap, ataupun mereka yang pernah datang dan kemudian pergi dari kehidupan kita. Tidak hanya dengan tindakan yang kita lakukan melainkan juga dengan doa yang kita panjatkan. (**)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here