Pekerja Swasta Pembuang Bayi Terancam Hukuman Sembilan Tahun Penjara

0
122

Kapolres Jayapura, AKBP Victor Dean Mackbon, SH, S.IK, MH, M.Si, didampingi Kasat Reskrim Polres Jayapura AKP Sigit Susanto, S.IK, saat menggelar press release terkait kasus pembuangan bayi dengan menghadirkan pelaku yang merupakan ibu kandung dari bayi yang malang tersebut (Irfa /LPC)

JAYAPURA (LINTAS PAPUA) – Perempuan pembuang bayi ke semak-semak di daerah Doyo Baru, Distrik Waibhu, Kabupaten Jayapura terancam hukuman 9 tahun penjara.

Pelaku RF (22) diketahui merupakan ibu bayi malang tersebut. Ia merupakan pekerja swasta di wilayah Kabupaten Jayapura.
Kapolres Jayapura AKBP Victor Dean Mackbon, SH, S.IK, MH, M.Si, mengatakan RF (22) dijerat Pasal 76 huruf c Jo Pasal 80 ayat 3 dan Undang-Undang (UU) Nomor 35 tahun 2014 tentang perubahan atas Undang-Undang (UU) Nomor 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak dan juga Subsider Pasal 305 KUHP Jo Pasal 36 ayat 2 dan Jo Pasal 307 dengan ancaman hukuman penjara selama sembilan (9) tahun. Kemudian, ada tambahan sepertiga bagi orang tua yang melakukan.

“Jadi ada hukuman pemberatan bagi orang tua yang melakukan kepada anak kandungnya sendiri,” kata AKBP Victor Mackbon didampingi Kasat Reskrim Polres Jayapura AKP Sigit Susanto, S.IK, saat menggelar press release di Aula Obhe Ready May (Rumah Perdamaian) Mapolres Jayapura, Doyo Baru, Distrik Waibhu, Kabupaten Jayapura, Senin (23/11/2020).

Pelaku adalah seorang pekerja swasta yang tega membuang bayinya sendiri ke semak-semak yang berjarak 200 meter dari tempat tinggalnya.
Bayi itu, lanjut Kapolres Jayapura dilaporkan pertama kali oleh warga Doyo Baru pada tanggal 6 November 2020 lalu.

Menurut AKBP Victor Mackbon, bayi malang itu ditemukan dalam keadaan mengenaskan tanpa kepala.

“Saat ditemukan di semak-semak, bayi itu tanpa kepala. Namun tidak jauh dari lokasi TKP awal, tim identifikasi Polres Jayapura berhasil mendapati kepala bayi,” ujarnya.

RF (22) tega membuang bayi yang dia lahirkan itu. Kepada polisi, RF mengaku melakukan tindakan tersebut lantaran malu dan takut diketahui kedua orang tuanya.

“Motif yang dilakukan pelaku membuang bayinya adalah untuk menutupi aibnya. Karena berdasarkan saksi ahli, bayi yang normal 9 bulan sekian hari, namun yang bersangkutan malu maka bayi itu terlahir di kamar mandi dan dibuang ke lokasi TKP awal yang berjarak 200 meter dari rumah pelaku,” katanya.

RF yang melahirkan bayinya di kamar mandi, lalu bayinya itu dimasukkan ke dalam ember. Kemudian, dia membawa bayinya keluar rumah dan membuangnya ke semak-semak.

“Setelah pelaku ini melahirkan bayinya, lalu dimasukkan ke dalam ember dan membuangnya ke semak-semak,” ucapnya.

“Bayi tersebut merupakan hasil hubungan gelapnya dengan seorang laki-laki yang saat ini kami jadikan saksi dalam kasus pembuangan bayi ini. Di mana, saksi tidak tahu bahwa pelaku dalam keadaan hamil dan pelaku juga tidak pernah memberitahukannya,” sambung Kapolres Victor.

Pihak kepolisian juga berhasil mengamankan barang bukti berupa satu buah ember yang dijadikan pelaku untuk mengisi bayinya, kemudian ada alat petunjuk lain seperti bukti visum dan keterangan saksi ahli.

“Dari penuturan saksi ahli dokter yang mengatakan bahwa, bayi ini lahir dalam keadaan sehat. Karena kurang lebih tiga hari tidak diberikan asupan makanan atau ASI, sehingga bayi ini meninggal. Sedangkan kondisi bayi saat ditemukan sudah dalam keadaan meninggal dengan kondisi yang mengenaskan yaitu, tanpa kepala,” tukas mantan Kapolres Mimika ini. (Irf)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here