🇰 🇮 🇳 🇬 ‘🇸 🇸 🇼 🇴 🇷 🇩 : RIYA DAN SYIAR

0
62

🇰 🇮 🇳 🇬 ‘🇸 🇸 🇼 🇴 🇷 🇩
Rabu 14 Oktober 2020

Bacaan Setahun:
Yer. 44-45
Mzm. 13
Yer. 46-47

RIYA DAN SYIAR
“Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.”Matius 5:16

Riya dan syiar. Dua kata ini mungkin terdengar asing bagi telinga kita. Ya, kata-kata ini hampir tidak pernah dipakai oleh pengkhotbah saat memberikan ceramahnya di gereja maupun perkumpulan Kristen lainnya. Riya dan syiar lebih familier dipakai oleh saudara-saudara kita yang muslim. Namun, tentu bukan berarti kita tidak boleh mengucapkannya bukan?

Pengertian riya dan syiar bisa jadi sering kita dengungkan setiap saat. Kata-kata seperti ‘jangan sombong’ sebenarnya sama pengertiannya dengan jangan riya.

Riya bisa diterjemahkan sebagai memperlihatkan ibadah (tindakan baik) dengan maksud mendapatkan pujian dari orang lain, atau pamer. Sedangkan syiar memiliki arti membesarkan atau memuliakan, dalam hal ini terkait dengan sebuah misi pewartaan sesuatu, misalkan saja kita sedang syiar (membesarkan, memuliakan) pewartaan Injil Kabar Baik dengan kesaksian hidup kita sehari-hari.

Ayat renungan kita hari ini mengingatkan siapa posisi kita di dunia ini. Bahwa kita adalah terang dunia. Itu berarti, kegelapan akan mendapatkan lawannya. Ya, kita adalah lawan bagi dunia yang penuh dengan kegelapan. Dunia gelap oleh perbuatan dosa manusia, kejahatan manusia-manusia licik yang egois, yang mementingkan dirinya sendiri tanpa mempedulikan hak-hak orang lain.

Sebagai orang Kristen yang adalah terang dunia, jangan terjebak oleh istilah riya dan syiar. Sebagai contoh ketika kita hendak melakukan hal baik, sebut saja membantu orang lain dengan mengorbankan hak-hak kita seperti uang kita, waktu kita, tenaga kita, sering kita terhakimi dengan kata-kata: jangan sombong (riya)! Lantas kita menjadi ‘menutup diri’ untuk tidak terekspos.

Moment yang bisa kita jadikan sebagai syiar (memberitakan Kabar Baik) pun bisa hilang begitu saja. Tentu saja kita harus berhati-hati dalam hal ini, karena antara riya (sombong/pamer) dan syiar hanya Tuhan dan Anda sendiri yang mengetahuinya. Tetapi sekali lagi, sebagai terang dunia, seharusnya kita bisa memanfaatkan ‘perbuatan baik’ kita untuk syiar Kabar Baik kepada orang-orang sekitar kita, bahwa kita memiliki Tuhan Yesus yang luar biasa, yang bisa mengubahkan karakter buruk menjadi baik.
Jadi, sebagai terang dunia, berlomba-lombalah untuk men-syiarkan Kristus melalui sikap hidup kita.

Melalui apa yang sudah Tuhan percayakan kepada kita, kekayaan, waktu, tenaga, bahkan mungkin juga nyawa kita. Sebab hidup yang kita jalani bukan untuk kemuliaan diri kita sendiri, melainkan Tuhan Yesus yang hidup di dalam diri kita. Siapkah Anda melakukan syiar hari ini? Tapi jangan riya ya. Tuhan memberkati. (HB)

Questions :
1. Menurut Anda apa itu riya dan syiar?
2. Sudahkah Anda syiar tentang Tuhan melalui kehidupan baik Anda? Bagaimana respon sekitar Anda?

Values :
Setiap kita bisa memanfaatkan moment perbuatan baik kita untuk men-syiarkan Kristus yang hidup di dalam diri kita.

Kadang kita menutupi kegagalan kita dalam syiar dengan alibi takut riya. (***)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here