Dukung Pelestarian Keanekaragaman Hayati,  PT. Freeport Indonesia Mereklamasi 1000 Hektar Area Tailing di Timika

0
123
Manajer Senior Departemen Lingkungan PT Freeport Indonesia, Gesang Setyadi menjelaskan bahwa pemanfaatan tailing sebagai media tanam adalah bagian dari riset yang dilakukan oleh Freeport Indonesia agar nantinya masyarakat bisa bercocok tanah di lahan tailing pada saat pasca tambang. Tampak Peekrja Freeport saat memegang melon yang ditanam di tanah tailing. (Foto / Istimewa)

TIMIKA (LINTAS PAPUA) –  Hingga tahun 2020, PTFI telah mereklamasi lebih dari 1.000 Ha area tailing di Mimika, menjadikan area reklamasi ini sebagai ekosistem yang mendukung pelestarian keanekaragaman hayati.

The Ajkwa Deposition Area (ADA) is bounded by the area potentially disturbed by mine tailings flow. Map created in QuantumGIS 2.12 (www.qgis.org) with cartographicfigure finishing for all figures conduct (http://www.nature.com)

“Melalui kegiatan pemantauan yang dilakukan secara berkala, PTFI mencatat bahwa area reklamasi lahan tailing telah mampu menjadi ekosistem yang berfungsi bagi lebih dari 500 jenis tumbuhan, 116 jenis burung, 64 jenis kupu-kupu, 22 jenis reptil, serta 11 jenis mamalia yang hidup melalui proses suksesi alami,” ujar Vice President Corporate Communications PT Freeport Indonesia, Riza Pratama, yang dibenarkan Manager External Communications  Corporate Communications PT Freeport Indonesia, Kerry Yarangga, dalam keterangan pers yang diterima lintaspapua.com , dari Tiimika, Senin, 21 September 2020.

 

Dikatakan, bahwa  sebelumnya Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) bersama Fakultas Pertanian (FAPERTA) Universitas Papua telah menyelesaikan penelitian mengenai pemanfaatan ekstrak tailing PTFI sebagai komponen pupuk formula.

 

“Penelitian yang dilakukan sejak tahun 2015 ini menemukan bahwa kandungan unsur hara mikro[1] pada ekstrak tailing PTFI dapat meningkatkan kesuburan tanaman, termasuk di antaranya adalah tanaman keladi atau talas yang termasuk kategori bahan makanan pokok di Papua,” jelasnya.

 

 

Sementara itu, Senior Manajer Lingkungan Hidup PTFI Gesang Setyadi mengatakan,  bahwa Penelitian yang dilakukan oleh FMIPA dan FAPERTA UNIPA telah membantu PTFI agar dapat terus menjalankan komitmen untuk tidak hanya mengurangi dampak kegiatan operasi perusahaan terhadap lingkungan.

 

“Kolaborasi dengan dunia pendidikan tinggi akan terus kami lakukan agar upaya pelestarian lingkungan yang kami lakukan dapat dimanfaatkan secara maksimal, tidak hanya bagi lingkungan namun juga bagi masyarakat Mimika,” ungkapnya menutup pembicaraan. (Dhoto / CorCom PTFI)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here