🇰 🇮 🇳 🇬 ‘🇸 🇸 🇼 🇴 🇷 🇩 : MENUNTUT

0
115
Perumahan BTN Joko Indah ketika memperingati HUT RI Ke 75 tahun 2020. (ISTIMEWA)

🇰 🇮 🇳 🇬 ‘🇸 🇸 🇼 🇴 🇷 🇩
Jumat 14 Agustus 2020

Bacaan Setahun:
2 Taw. 24-25
Mzm. 106

MENUNTUT

“Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui? Bagaimanakah engkau dapat berkata kepada saudaramu: Biarlah aku mengeluarkan selumbar itu dari matamu, padahal ada balok di dalam matamu.”Matius 7:3-4

Suatu malam, hujan deras turun disertai angin kencang. Telepon seorang dokter berdering. “Halo, Dokter Adi di sini,” kata si dokter. ”Maaf mengganggu, Pak dokter” kata si penelepon dengan nada tergopoh-gopoh, “Saya minta tolong, istri saya tiba-tiba mendapat serangan jantung. Saya mohon, Pak Dokter mau datang dan memeriksanya. Tolong kami, Pak!” Si penelepon terdengar sangat mendesak. “Baik, saya akan datang, namun, maaf, bersediakah Bapak menjemput saya? Kebetulan, mobil saya sedang berada di bengkel” jawab Sang dokter. ”Apa? Saya harus menjemput Bapak? Saya harus keluar tengah malam begini? Gila!” kata si penelepon dengan nada marah, lalu menutup telepon.


Apakah Anda pernah bersikap seperti penelepon di atas? Menuntut orang lain melakukan apa yang Anda minta? Menuntut adalah hal yang mudah dilakukan oleh semua orang.

Saking mudahnya, sampai-sampai kita Iupa bahwa sebenarnya kita belum tentu bisa melakukan hal yang kita tuntut. Menuntut adalah sikap memuaskan diri sendiri dengan memaksakan kehendak. Menuntut adalah sikap yang egois. Biasanya, kita sering menuntut orang lain untuk berubah, untuk menjadi lebih baik, menjadi lebih sabar, lebih pengertian, dan sebagainya. Padahal, yang seharusnya berubah adalah diri sendiri.

Terkait hal ini, Tolstoy mengatakan bahwa sebagian besar orang hanya mempunyai ide tentang bagaimana mengubah orang lain, hanya sedikit orang yang mempunyai ide tentang bagaimana mengubah diri sendiri.

Sebelum menuntut orang lain, mari kita terlebih dahulu merenungkan: apakah kita bisa melakukannya? Apakah kita mampu melakukan hal yang kita minta? Jika kita tidak mampu melakukan hal yang kita minta, maka sebaiknya kita tidak lagi menuntut orang lain untuk melakukan sesuatu.

Sebelum menuntut orang lain untuk berubah, akan lebih baik jika kita melakukan perubahan terhadap diri sendiri. Saat kita berubah menjadi lebih baik, orang lain akan melihat dan belajar dari perubahan kita secara nyata. Sebelum menjadi garam dunia, hendaknya kita sudah diasinkan terlebih dahulu. Bagaimana caranya untuk menjadi garam? Miliki sifat-sifat Kristus yaitu, kasih, kesabaran, kelemahlembutan, kemurahhatian, pengampunan dan kerendahan hati. (JB)

Questions :
1. Menurut Anda, apakah benar jika kita menuntut orang lain melakukan sesuatu yang kita sendiri tidak mampu melakukannya?
2. Menurut Anda sebaiknya atas dasar apakah kita bisa menuntut seseorang untuk melakukan sesuatu yang baik?

Values :
Sang Raja memiliki sifat-sifat baik yang memungkinkan Dia untuk meminta kita juga mengikuti teladan-Nya, di antaranya kasih, kesabaran, kelemahlembutan, kemurahhatian, pengampunan dan kerendahan hati.

Ukuran yang kita berikan pada orang lain harus terlebih dahulu kita ukurkan pada diri kita sendiri.

“Dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri”
‭‭__ Filipi‬ ‭2:3‬ ‭TB‬‬

Hidup kita bukan tentang kita; melainkan melakukan kehendak Bapa.
Pemimpin yang dewasa adalah mereka yang rendah hati dan tidak menyombongkan diri ataupun merasa diri lebih hebat dari orang. Pemimpin yang dewasa tidak mengecilkan atau merendahkan orang lain; melainkan melihat potensi unik dalam diri orang lain dan membantu orang tersebut mencapai kepenuhan potensinya.

Apakah kehidupan kita sudah menjadi berguna bagi orang lain? Ataukah kita masih fokus pada diri sendiri?

(Disadur Dari Sharing WhatsApp)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here