🇰 🇮 🇳 🇬 ‘🇸 🇸 🇼 🇴 🇷 🇩 : SAMPAH DI RUMAH SAJA

0
268

🇰 🇮 🇳 🇬 ‘🇸 🇸 🇼 🇴 🇷 🇩

Bacaan Setahun:
2 Taw. 10-12
Mzm. 53

SAMPAH DI RUMAH SAJA
“Jikalau seseorang memberi jawab sebelum mendengar, itulah kebodohan dan kecelaannya.” Amsal 18:13

Ada guyonan orang yang mengatakan, ‘sarapan di Jakarta, makan siang di Hongkong dan makan malam di Tokyo’ yang menggambarkan kehidupan orang yang super sibuk, orang penting dan tentu saja sulit ditemui.

Setiap hari dilewati dengan penuh kesibukan entah karena memang banyak yang harus dikerjakan atau karena sengaja menyibukkan diri, entahlah. Namun yang jelas, orang tipe ini pasti jarang di rumah.

Konon kabarnya, ada orang yang dalam setahun hanya beberapa jam saja di rumah dan pergi lagi sehingga rumah hanya sebagai tempat persinggahan sementara saja.

Namun mendadak akibat covid-19 orang-orang yang selama ini sibuk, sekarang berdiam di rumah saja.

Tiba-tiba saja semua aktivitas selama ini berhenti dan menjadi orang biasa lagi sama seperti yang lainnya.

Hal ini seharusnya baik sehingga sekarang ada banyak waktu menikmati kebersamaan di rumah bersama keluarga dan membangun kedekatan satu sama lain yang selama ini terabaikan akibat kesibukan tiada akhir.

Namun sayangnya ada banyak laporan keluarga yang bermasalah, sehingga berujung kepada keretakan dan kehancuran rumah tangga. Dilaporkan telah terjadi banyak KDRT sehingga di salah satu kota di Indonesia pejabat setempat mendesak pihak gereja segera menyelenggarakan ibadah offline agar setidaknya jemaat mendapatkan siramkan rohani untuk menenangkan emosi.

Mengapa demikian? Jawabannya sederhana, akibat miskomunikasi. Banyak waktu di rumah, banyak waktu untuk berkomunikasi tetapi tanpa disadari selama ini tidak terbangun komunikasi yang baik, lalu membiarkan miskomunikasi menjadi sampah yang bertumpuk-tumpuk dari hari ke hari.

Setiap kali berbicara, tidak dapat dipahami oleh pasangannya yang juga ingin berbicara karena selama ini jarang berbicara akibat kesibukan. Semua orang ini berbicara dan butuh didengar tetapi tidak ada yang mau mendengarkan lalu terjadilah pertengkaran.

Orang berpikir bahwa komunikasi yang baik adalah kepandaian dalam berbicara tanpa menyadari bahwa justru banyak berbicara banyak kesalahan seperti yang tertulis dalam Amsal 10:19, “Di dalam banyak bicara pasti ada pelanggaran, tetapi siapa yang menahan bibirnya, berakal budi.”

Dari Firman Tuhan kita dapat belajar bahwa komunikasi yang baik dimulai dengan memberikan waktu untuk mendengarkan. Karena itu mulailah membersihkan sampah-sampah selama ini dengan menjadikan pasangan kita lebih penting untuk didengarkan.

Jangan menjadi orang penting yang selalu harus didengarkan. Semoga di rumah saja kita belajar menjadikan orang lain lebih penting dari diri sendiri dan berhasil membersihkan sampah miskomunikasi yang selama ini menumpuk. (LS)

Questions :
1. Bagaimana komunikasi Anda dengan keluarga Anda, sudahkah terjalin baik?
2. Mana yang penting bagi Anda, memahami orang lain atau dipahami orang lain?

Values :
Jangan biarkan ‘sampah’ miskomunikasi menumpuk di dalam rumah Anda, jika ingin hubungan rumah tangga Anda baik-baik saja.

Dengan belajar mendengarkan, adalah langkah awal untuk seseorang punya keahlian memilih dan memilah kata sehingga menjadi orang bijak.  (Disadur Dari Sharing WhatsApp)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here