Agustinus Aru, salah satu anak negeri pemuda Sorong Selatan. Richard (LPC)
Agustinus Aru, salah satu anak negeri pemuda Sorong Selatan. Richard (LPC)

SORONG (LINTAS PAPUA) – Penjadwalan dan perhelatan Pemilihan Umum Kepala Daerah (Pilkada), yang dijadwalkan, pada 9 Desember 2020 mendatang. Namun pesan terhadap para calon kepala daerah itu, terus berdatangan, mulai dari kalangan aktivis, mahasiswa, hingga pemuda, terhadap calon kepala daerah yang baru, yang nantinya memimpin di Kabupaten Sorong Selatan, Papua Barat.

Salah satu Pemuda Sorong Selatan, Agustinus Aru mengatakan, masyarakat di Sorong Selatan, penyanga hidup sehari-hari mereka adalah air, sebagaimana sumber air yang mengalir di sungai Kohoin, yang berada di pusat Ibu Kota Sorong Selatan, Timinabuan. Dan juga beberapa sungai besar lainnya, yang memberikan kehidupan kepada masyarakat.

“Siapa pun yang nantinya, memipin Sorong Selatan, tolong!, menjaga air sungai, sebab air sumber kehidupan, tapi juga tersimpan satwa airnya, seperti udang dan ikan, untuk kebutuhan makan, tapi juga untuk pendapatan ekonomi masyarakat,” kata Agustinus Aru, kepada LintasPapua.Com di Jayapura, Senin, 27 Juli 2020.

Disingung soal potensi sungai yang harus dijaga?, tegas Agus, potensi sungai harus dijaga, dan pengelolaan dari sumber air sungai harus dikelola dengan baik. Dan dibuat Peraturan Daerah (Perda) perlindungan sempadan sungai.

,”Rujukan pembuatan Perda tentang penyelamatan air sungai, telah diatur dalam Undang-undang Nomor 7 tahun 2004 tentang Sumber Daya Air (SDA), dan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 38 Tahun 2011 tentang sungai. Artinya produk ini bisa menjadi landasan dan mengakomadir potennsi yang ada di Sorsel, utamanya air,” ujar Pemuda Sorong Selatan itu.

Sembari, Agus berpesan, dimomen hari sungai nasional ini, 27 Juli 2020, mari kita bersama-sama menjaga sungai kita, agar jangan tercemar, perambahan di sempadan sungai, yang nantinya merugikan kita, karena banjir.

“Sorong Selatan sudah ada sejak 16 tahun lalu, kini tenggah gencar-gemcarnya pembangunan, namun samangat pembangunan itu, harus berbasis lingkungan, dan perlu keterlibatan masyarakat adat sebagai pemilik hak ulayat dalam tujuan pembangunan, tapi juga sungai yang sudah menjadi bagian dari hidup mereka turun-temurun,” pungkasnya. (Richard/Lintas Papua)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here