Dr. Murpin Josua Sembiring, S.E., M.Si. (Associate Profesor Rektor Universitas Ma Chung, Malang). Richard (LPC)
Dr. Murpin Josua Sembiring, S.E., M.Si. (Associate Profesor Rektor Universitas Ma Chung, Malang). Richard (LPC)

MALANG (LINTAS PAPUA) — Hampir tiga bulan pandemi corona ditambah pula dengan kebijakan PSBB dibeberapa kota besar telah meluluh lantahkan setiap aspek kehidupan manusia, termasuk masa depan dunia usaha dan industri, ekonomi bangsa dan negara, juga daya beli masyarakat terpuruk. Pertumbuhan ekonomi kuartal I/2020 hanya 2,97 persen dari proyeksi semula 4,5 persen (data BPS: 5 Mei 2020).

Prediksi para ekonom masuk pada situasi berat pertumbuhan ekonomi pada 2,4 persen dan kondisi sangat berat bisa terjun bebas di -0,4 persen. Jika pertumbuhan ekonomi pada posisi minus 0,4 persen maka dapat dikalkulasikan potensi pengangguran bertambah sekitar 5,4 juta orang. Angka makro ekonomi ini sudah bisa dibaca dampak negatifnya. Sangat luar biasa kerusakannya terhadap pembangunan ekonomi Indonesia dan juga rakyatnya, karena perlambatan yang sangat dalam.

Kehidupan Sosial Ekonomi

Pelaku usaha baik mikro maupun makro tertatih-tatih, bangkrut seketika tidak berdaya menghadapi dampak pandemi corona. Diprediksi pertumbuhan sektor perdagangan melambat ke 1,6 persen dari 5,21 persen, sektor pertanian dari 1,82 persen ke 0,02 persen, sektor Industri 2,06 persen dari 3,85 persen. Rentetan karyawan yang ter-PHK semakin besar, banyak usaha kecil menengah (UMKM) gulung tikar, Industri parawisata terdiam sepi, para pekerja informal yang mencari uang untuk kebutuhan sehari-hari (sopir angkutan, bus, ojeg dan lain-lain) lumpuh total.

Pemerintah berpikir keras memutus mata rantai penyebaran virus serta menyelamatkan kehidupan sosial ekonomi masyarakat agar tetap kondusif. PSBB di beberapa wilayah berkontribusi terhadap terpuruknya perekonomian, dan durasi pendemi covid-19 sangat menentukan situasi perekonomian kita. Di lapisan masyarakat paling bawah tak kalah pusingnya dengan pemerintah, banyak dari mereka yang kehilangan pencarian, sudah dan terancam pemutusan hubungan kerja, dan tentu saja terancam kesehatan ekonomi dan dampak ikutannya.

Tidak terbayangkan sebelumnya, mikroorganisme bernama corona dengan diameter 500 mikrometer ini aktornya, hingga semua kegiatan sosial, ekonomi, pendidikan, bahkan politik dibuat tidak berkutik.  Bukan oleh dominasi ekonomi atau kekuatan militer negara maju yang menekan negara berkembang. Pandemi ini telah memberikan tsunami ekonomi berskala tinggi yang mengoncangkan kehidupan manusia dalam ketidakpastian kapan berakhirnya.

Memasuki Era Baru

Dunia seperti apa pasca pendemi Covid-19, apakah balik sediakala atau terjadi kenormalan yang baru (new normal)? Hipotesanya sebagai berikut:

Dunia mengalami banyak perubahan sosial terutama dalam pola interaksi sosial. Traumatic dengan physical distancing dan social distancing: PSBB/karantina wilayah/lockdown. Orang akan lebih berhati-hati/fobia untuk lakukan aktivitas kontak sosial seperti semula. Mungkin saja kendaraan/angkutan umum menjadi sepi karena orang lebih memilih kendaraan pribadi (mobil maupun sepeda motor, cash maupun kredit dan dealer mobil/motor ramai kembali). Hal ini terjadi di kota Wuhan China yang saya pernah kunjungi dua kali tahun 2018.

Rasa cemas yang masih menghantui masyarakat membuat mereka lebih peduli terhadap kesehatan diri sendiri. Walau pendemi dinyatakan berakhir, namun potensi masyarakat akan tetap laksanakan prosedur tetap (protap) pencegahannya (jaga jarak, cuci tangan, hand sanitizer, pakai masker dan lain-lain). Kepedulian masyarakat terhadap kesehatan dan kebersihan meningkat, dan peluang bisnis sanitizer, masker masih terbuka.

Aktifitas virtual menjadi primadona untuk pelbagai kegiatan informal dan resmi: meeting, seminar, kebaktian, studi banding virtual, kunjungan kerja virtual, pelatihan, proses belajar mengajar, wisuda virtual, pelantikan virtual, dan lain-lain. Transformasi pola virtual ini lebih efisien dari segi waktu dan biaya.

Hilangnya Nilai Kebersamaan

Covid-19 memaksa dunia bertransformasi dibanyak aspek kehidupan, mencari bentuk dan cara baru untuk eksistensi baru, serta keseimbangan hidup yang baru (the new normal life) hampir tidak bisa 100 persen kembali normal seperti sediakala. Paling menonjol dan segera berkembang serta dibutuhkan adalah semua industry terkait teknologi virtual, teknologi IoT (Internet of Things) dan Big data pada setiap aktivitas bisnis dan manusia. Akhirnya cara konvensional dengan perangkat-perangkatnya akan banyak ditinggalkan.

Sebab itu fenomena disrupsi teknologi yang tengah dan akan terjadi setelah pandemi corona perlu ditata agar tidak menimbulkan kerusakan baru di masa depan, hilangnya nilai-nilai kebersamaan/kemanusiaan (social relationship), social distancing potensi menimbulkan kerenggangan sosial , distorsi keguyuban, ke-engganan saling silaturahmi, bisa berlanjut sekalipun covid-19 sudah berakhir dengan dasar ekstra kehatian-hatian individual dan saling curiga.

Teknologi untuk Peradaban Manusia

John Naisbitt dalam bukunya “High tech high touch” telah mengingatkan kita jangan sampai perkembangan teknologi baik virtual dan non virtual akan menghilangkan rasa kemanusiaan yang hakiki, karena harusnya teknologi diciptakan sebagai alat bantu meningkatkan kemuliaan peradaban manusia sang designer teknologi itu sendiri.

Recovery ekonomi karyawan yang ter-PHK (tiga juta pekerja PHK: data Kemanaker 4 Mei 2020), para pencari uang sehari untuk kebutuhan sehari sama sekali tidak berpenghasilan memunculkan daftar orang miskin baru, dimana covid-19 aktornya. Orang yang tidak berpenghasilan sangat potensial memunculkan kerawanan sosial dan kriminalitas yang sasaran utamanya adalah orang-orang kaya. Karena itu pemerintah dengan segala unsur terkait dan masyarakat harus memikirkan dan men-design pelatihan-pelatihan vokasi singkat (upgrading skill) dan terapan hingga bernilai keekonomian bagi rakyat miskin baru tersebut. Keluaran pelatihan vokasi/kompetensi dapat bekerja kembali maupun membuka usaha sendiri.

Menjadi pelajaran berarti bagi pemerintah dan rakyat Indonesia untuk mulai lebih super serius membangun semua aspek fundamental ekonomi, khususnya peran dunia perguruan tinggi wajib di dorong dan di dukung penuh agar proses hilirisasi hasil riset-risetnya bisa bersinergi dengan dunia usaha dan industri yang betul-betul tepat guna untuk masyarakat luas (mekanisasi dan modernisasi hasil pertanian, perkebunan, pertambangan, perikanan dan seterusnya) yang mampu melahirkan kedaulatan ekonomi yang kuat.

Maka jika ada masalah bencana sedahsyat apa pun, ekonomi bangsa kita cepat bangkit kembali. Untuk itu kita bisa belajar kesuksesan hilirisasi hasl riset-riset di China yang bernilai ekonomi tinggi. Apa yang kita rancang hari ini untuk hari esok, apa yang terjadi besok tergantung dengan apa yang kita lakukan saat ini: Tomorrow is today. (Richard/Lintas Papua)

“Allahku akan memenuhi segala keperluanmu menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya dalam Kristus Yesus” (Filipi 4:19).

Penulis: Dr. Murpin Josua Sembiring, S.E., M.Si. (Associate Profesor Rektor Universitas Ma Chung, Malang)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here