Proses Pemulangan Warga Saireri di Jayapura terdampak Lockdown akibat Pendemi Covid-19 hingga kini masih berlangsun Khususnya yang berasal dari Kabupaten Kepulawan Yapen. (Andrew)

JAYAPURA (LINTAS PAPUA) – Proses Pemulangan Warga Saireri di Jayapura terdampak Lockdown akibat Pendemi Covid-19 hingga kini masih berlangsun Khususnya yang berasal dari Kabupaten Kepulawan Yapen.

Pelaksanaan pada Jumat (3/7/2020) bertempat di Kediaman Anggota DPR Papua, Boy Markus Dawir, di Entrop Kota Jayapura, dimana sebanyak 10 Orang Petugas Medis dari Dinas Kesehatan Provinsi Papua melakukan Rapid Test dengan ketersediaan alat Rapid sebanyak 500 alat untuk melakukan Rapid kepada Warga Kabupaten Yapen, yang masih tersisa di Jayapura.

Suasana pada Jumat (3/7/2020) bertempat di Kediaman Anggota DPR Papua, Boy Markus Dawir di Entrop Kota Jayapura, sebanyak 10 Orang Petugas Medis dari Dinas Kesehatan Provinsi Papua melakukan Rapid Test. (Andrew)
Proses Pemulangan Warga Saireri di Jayapura terdampak Lockdown akibat Pendemi Covid-19 hingga kini masih berlangsun Khususnya yang berasal dari Kabupaten Kepulawan Yapen. (Andrew)

Dari hasil pemeriksaan yang diperkirakan kurang lebih limaratus warga Cuman 379 warga yang mengikuti Rapid Tes di Kediaman BMD,dan Hasilnya 11 orang Reaktif, mereka ini akan dibawa oleh tim guna pemeriksaan Lebih lanjut di Labkesda Provinsi Papua dan mereka siap untuk di Periksa Kesehatannya demi mendapat Peluang untuk berangkat, ke Kampung halaman.

Sedangkan untuk saat ini yang memperoleh Tiket Dari Pelni untuk berangkat Selasa mendatang baru mencapai 310 warga, kemungkinaan ada penambahan tetapi sedang di Proses,”  ujar Ifan Torobi, kepada Wartawan, Jumat (3/7/2020).

Sementara itu di sela selah melakukan Rapid Tes Marsellina Taran Wanita Paru bayah yang telah memiliki cucu ini menyebut bahwa dirinya ke Jayapura untuk menghadiri sang anak wisuda dan itu sejak 14 Maret hingga kemarin. Namun karena ada pembatasan akses penerbangan dan Kapal laut akhirnya ia dan masyarakat dari Distrik Teluk Ampimoi banyak yang tertahan tak bisa pulang.

“Jangan larang-larang, anak saya yang SMP selalu telepon menangis tanya saya. Belum mereka yang punya anak dan suami. Disini kami makan sangat Kurang dan tak ada pendapatan karena tak bisa bekerja, jadi pulangkan kami semua,” katanya

Senada juga disampaikan Kristina Merasi yang meminta jangan dibatasi. “Kalau mau batasi itu mahasiswa sebab mereka pulang tidak ada kepentingan sedangkan kami disana anak anak dan suami yang harus kami urus, jadi jangan batasi kepulangan kami seenaknya,” cecar Kristina. Ia meminta Bupati Yapen, Toni Tesar untuk berjiwa besar menerima kedatangan masyarakatnya. Apalagi mereka juga siap untuk dilakukan karantina kalaupun akhirnya dalam perjalanan terjadi perubahan kondisi kesehatan dan dinyatakan reaktif.

“Karantina silahkan saja, kami siap. Mau 14 hari atau 30 hari kami siap, yang penting kami pulang ke kampung,” beber Kristina.

Silviana Kaiba juga menyampaikan pesan serupa. “Sulit hidup di Jayapura, tidak bisa apa apa dan kami kesini bukan untuk main – main, tapi ada hal yang harus diselesaikan sehingga kalau ada pembatasan pemulangan itu kami sulit menerima, pemerintah di Serui harus memahami ini dan jelek jelek begini kami ini yang memiliki bupati dan wakilnya sekarang jadi harus ikut berfikir kesulitan kami,” tambah Kaiba.  (Andrew)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here