Indikasi Proyek Mubazir, Di Keerom Kali Tempat Cuci Piring Dibuatkan Dermaga

0
417
Kondisi dermaga atau tempat tambatan perahu yang dibangun tahun 2019 oleh Dishub Kab. Keerom di Dusun Maket, Kampung Terpones, Distrik Towed. Tokoh masyarakat Terpones, Moses Kelami dan beberapa tokoh masyarakat yang tinggal di sekitar dermaga. (Arief /LPC)

Dibangun Tahun 2019 Bernilai Miliaran Rupiah Terkesan Proyek ‘Sangat Mubasir’

KEEROM (LINTAS PAPUA) – Sungguh suatu ironi. Sebuah proyek pembuatan dermaga atau tempat tambatan perahu di Dusun Ofbet/Maket, Kampung Lules, Distrik Towe, yang diperkirakan mencapai Rp. 1 Miliar lebih, justru hadir ditengah lokasi yang nyaris tak layak, tidak pas, dan menjadi perbincangan masyarakat di Towe.

Bagaimana tidak? Sebuah Dermaga atau tempat tambatan perahu yang seharusnya hadir di sebuah sungai atau laut, di Keerom, justru hadir di sebuah kali kecil yang sehari-hari masyarakat menggunakan kali kecil tersebut sebagai tempat cuci piring tempat cuci baju bahkan, maaf, tempat babi mencari makanan.

Wartawan Lintaspapua.com pun mengunjungi lokasi tersebut pada Sabtu siang secara tak sengaja. Saat itu ketika sedang melakukan liputan kegiatan Bawaslu di Terpones, masyarakat pun memberikan laporan tentang keberadaan dermaga atau tempat tambatan perahu

‘’Bapak tolong cek lokasi dermaga yang Dishub ada bangun tahun lalu (2019, red) dibangun diatas kali kecil tempat cuci piring dan tempat makan babi, disana tidak ada sungai besar, dan perahu tidak pernah lewat tapi dorang buat dermaga besar,’’ujar  Tokoh masyarakat di Terpones, Moses Kelami.

Tokoh masyarakat di Terpones, Moses Kelami, saat memberikan keterangan kepada media. (Arief /LPC)

Atas laporan tersebut, akhirnya kami mengunjungi tempat dimaksud. Kami menuju ke lokasi yang tak jauh dari kampung terpones itu. Ternyata menuju ke lokasi dermaga, kami harus berjalan setapak dan tak ada tanda-tanda adanya sungai disana.

Kami makin terkaget, saat melihat tempat tambatan perahu yang masyarakat sebut dengan dermaga itu berada di samping kampung ofket atau maket. Benar seperti laporan masy, dermaga tersebut berada disamping kali yang sehari-hari hanya digunakan untuk tempat cuci piring, cuci pakaian dan tempat babi mencari makan dan minum.

Dicek dari kondisi bangunan terbuat 100 persen dari kayu beratap seng. Terdiri dari beberapa bagian, diantaranya gedung kayu yang kemungkinan nantinya digunakan sebagai kantor atau secretariat, ada bagian untuk ruang tunggu dan bagian lain terdiri dari 2 tempat penambatan perahu.

‘’Saya minta Dishub yang bangun dermaga disini untuk tanggungjawab karena ini lokasi dermaga salah, disini tak ada aliran sungai dan tak ada perahu yang lewat, tapi dibuatkan dermaga. Supaya dermaga ini tidak sia-sia, mungkin sekalian dibuatkan pengadaan sungai dan perahu agar bisa lewat di dermaga ini,’’ujarnya agak kesal.

Ia sangat menyesalkan adanya proyek yang tak layak dan terkesan asal-asalan. ‘’Kami minta pemerintah, pengawas dan pihak terkait untuk perhatikan ini,’’pungkasnya.

Sementara tokoh pemuda yang berada di kampung sekitar dermaga, Mathias seba dan Lukas dou, memberikan pernyataan serupa.

‘’Menurut saya tidak layak ada dermaga disini. Saya juga Tanya waktu mereka bikin dermaga saat itu, kenapa ada dermaga disini, katanya ini sudah dirapatkan di kantor dan harus dibangun, ini sungguh tidak layak, karena saat itu kami juga sudah bilang bahannya biar kami masyarakat bikin rumah saja, tapi mereka tetap bangun, jadi seperti ini,’’ujar Matias Seba.

Sementara Lukas Dou mengemukakan, karena sudah terlanjut ada dermaga, maka saat ini masyarakat fungikan dermaga tersebut untuk sarana bersosialisasi, tempat bermain, dan menjemur pakaian hasil mencuci di samping dermaga, ya, disbuah kali yang kecil tadi.

‘’Kalau bisa pemerintah juga pengadaan solar sel dan lampu ka, supaya masyarakat bisa pakai dermaga untuk tinggal,’’pesannya. (arief/lintaspapua.com)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here