Wakil Wali Kota Jayapura Apresiasi Warga Kelurahan Yabansai Melawan Covid-19, tampak saat melihat dari dekat. (HUMAS)

JAYAPURA (LINTAS PAPUA)  –  Apakah ini sudah tugas atau bukan, namun Oknum Polisi masih saja kedapatkan melakukan berbagai pertanyaan dan bertindak sedikit arogan.  Hal ini sebagainana dialami wartawa media onlione lintaspapua.ccom, sehingga hal ini telah dikonfirmasi langsung kepada Kapolres Jayapura Kota.

Kali ini sikap arogansi personil kepolisian tersebut pun memakan seorang korban wartawan yang sedang berada di Jalan Baru Tembus Melati Kompleks Abepura, Kelurahan Yobe, Distrik Abepura, Jumat (22/5/2020) sore.

Tak ada asap tak ada api, dua orang pria pakaian lengkap berwarna hitam yang sebagai anggota Polri tiba-tiba mengeluarkan arogansinya dan marah-marah sambil mengomel ditengah jalan di wilayah Pasar Lama Abepura yang usai berpatroli dan stay di tengah jalan raya di depan Pasar Lama Abepura.

Muhammad Irfan salah seorang wartawan media online lokal Papua yang menjadi korban arogansi serta korban pengancaman tersebut mengatakan, “Saya pada saat itu sedang mau pulang ke rumah saya, usai pulang kerja dan sudah tiba dirumah lalu saya kembali keluar rumah. Karena ibu saya menyuruh saya untuk ke rumah keluarga saya yang jaraknya tak jauh dari rumah saya guna mengambil keperluan makanan tuk berbuka puasa”. Ujarnya.

Setelah selesai mengambil keperluan makanan untuk berbuka puasa, saya pun menuju pulang untuk membawa keperluan makanan ke rumah saya guna persiapan berbuka puasa dan berkumpul bersama keluarga saya menunggu bedug Maghrrib.

Masih kata Ivhan sapaan akrabnya, pada saat hendak belok menuju rumah saya, tiba-tiba dua oknum polisi itu menghampiri saya tuk memutar arah dan kedua pria itu belakangan diketahui berjaga di Pos Saga serta ada di depan posko Covid-19 wilayah Pasar Lama Abepura usai berpatroli menanyakan dan mengurusi soal profesi saya.

Oknum polisi (pria) : Kau balik
Ivhan : Saya rumah di dalam situ pak
Oknum polisi : Saya tau kau wartawan, jangan banyak alasan, kau wartawan malah tidak tau aturan lagi. Kau putar balik sana!
Ivhan : Mau putar balik gimana pak, saya punya rumah di dalam sana?. Bahkan saya ini keluar rumah karena disuruh orang tua (mama) saya dan saya juga ikuti protokol kesehatan dengan menggunakan masker.
Oknum polisi: Tidak, saya tau kau wartawan. Kau wartawan tidak tau aturan, kko yang sering tulis aturan malah kau langgar aturan. Pokoknya ko putar balik sana.

Sambung Ivhan seketika itu saya sudah tidak menghiraukan lagi ucapan dia, karena saya sedang berpuasa dan tiba-tiba ada salah satu petugas Covid-19 Distrik Abepura yang merupakan Ketua RW dan tetangga saya. Dan ketua RW itupun menyampaikan kepada petugas, bahwa ini warga saya. Namun kedua oknum polisi tersebut tidak mengizinkan saya tuk melintas masuk ke arah rumah saya. Bahkan mereka bilang, kami ini petugas yang sedang berjaga dan melawan Covid-19.

“Saat itu juga saya langsung melintas dan langsung menuju rumah saya. Usai tiba di rumah, saya sempat keluar ke posko Covid-19 yang ada depan jalan raya tersebut,”

“Saya wartawan pak, saya juga sama dengan bapak ikut bertugas dan melawan wabah pandemi Corona ini. Salah saya apa pak, sampai bapa sampai sebut-sebut sa pu profesi yang tidak-tidak dan juga sebut sa yang sebagai wartawan tidak tahu aturan. Inilah yang menjadi aneh bagi saya, karena saya keluar kan pakai masker, apakah saya tidak tahu aturan. Kemudian kalau soal berperang melawan Covid-19 juga saya ikut dalam melawan Covid-19 teersebut dengan membuat berita-berita dari tim gugus tugas Covid-19 baik di Kabupaten Jayapura maupun di Kota Jayapura,” tegas Ivhan.

Setelah itu, kata Ivhan, tiba-tiba ada salah satu petugas yang berada di posko itu menyampaikan ke saya, bahwa orang itu bukan tugas di posko ini. Namun mereka tugas di depan Saga Abe.

“Gini pak, bapak gak usah ngomel dan ngoceh disitu. Kalau bapak mau tahu dia tinggal datang saja ke Saga Abe, karena tadi mereka kasih tahu kalau bapak mau cari dia langsung saja ke Saga Abe,” kata salah satu petugas yang ada di depan posko Covid-19 di Pasar Lama Abepura.

Tak lama kemudian dibalas Ivhan. “Saya kesini cuma mau sampaikan, bahwa ada pernyataan dari pak Wakil Walikota selaku Ketua Tim Gugus Tugas Covid-19 Kota Jayapura bahwa wartawan tidak boleh dicegat atau ditahan, karena sama-sama ikut membantu tugas pemerintah melawan Covid-19”.

“Ini bapak, siapa yang mau bicara dengan pak Wakil Walikota. Karerna sekarang ini saya sedang bicara dengan pak Wakil Walikota. Namun petugas disitu tidak ada yang mau bicara dan baku pingpong untuk bicara dengan pak Wakil Walikota yang saat itu sedang menunggu dibalik telepon saat saya menghubunginya lewat telepon seluler,” akunya.

Soal masker, Ivhan mengatakan, “Saya sudah gunakan masker saat keluar rumah dan berkendara. Lagian saya sudah ikuti anjuran pemerintah dan ikuti protokol kesehatan, kenapa ssaya harus dikasih begitu dengan sebut-sebut profesi saya yang tidak-tidak, apa saya tidak tahu aturan itu dimana salahnya, lagian saya sudah pakai masker,” papar Ivhan.

Kalau soal keluar rumah lagi, kata Ivhan, “Itu karena saya disuruh dengan mama saya, untuk mengambil makanan yang siap tuk disantap saat berbuka puasa nanti. Sebenarnya mama saya sudah suruh adik saya, namun adik saya bilang tidak bisa karena banyak petugas di depan sana. Kebetulan saya yang sudah tiba di rumah, dan mendengar itu langsung mengiyakan apa yang disuruh oleh mama saya”.
“Usai mengambil makanan buka puasa dan saat belok menuju rumah saya, malah ada oknum petugas yang marah-marah dan sampai sebut-sebut profesi saya. Disaat itu juga saya tidak terima, karena saya merasa profesi saya inikan selalu bermitra dengan tim gugus tugas Covid-19 dan juga ikut dalam memutus mata rantai penyebaran Covid-19 dengan pemberitaan-pemberitaan dari tim gugus tugas Covid-19,” katanya.

“Lagian saya keluar rumah itu karena memenuhi perintah orang tua saya, dan bukan untuk mengurusi apa pekerjaan orang lain, saya datang ke rumah keluarga saya itu untuk memenuhi perintah orang tua saya dan untuk mengambil keperluan buka puasa bagi keluarga saya di rumah. Tidak ada haknya dia untuk sebut-sebut profesi wartawan dengan bilang kita tidka tahu aturan,” tegasnya lagi.

Apa seperti itu Polisi yang di agungkan untuk melayani, melindungi dan mengayomi masyarakat. Saya ini wartawan kan masyarakat juga, saya warga Negara Indonesia, saya juga setiap hari tulis berita dari tim gugus tugas Covid-19 terkait tugas-tugas pemerintah daerah dalam memutus mata rantai penyebaran Covid-19 dan juga menulis berita soal pemerintah dalam memenuhi kebutuhan masyarakat dalam bentuk bantuan sembako maupun Bansos,” imbuh Ivhan.

Bahkan kejadian itu bukan pertama kali dialami oleh pria yang juga kontributor di beberapa media online lokal Papua ini, seperti yang terjadi pada diri saya itu saat di depan Zipur, yakni ada petugas Covid-19 dari oknum Polisi yang memeriksa saya lalu saya menunjukkan id card wartawan saya hingga saya memberikan id card yang berada dalam gantuan id card saya. Bahkan oknum itu sampai mengeluarkan kata-kata, kenapa meliput jauh-jauh di Sentani sana dan ko tinggal di Abe sini”.

“Sehingga saya menjawabnya, karena memang tugas peliputan saya dari kantor media sudah menugaskan saya di Sentani dan itu saya sudah lalui kurang lebih dari delapan tahun lalu. Tidak lama lagi oknum itu balas jawab, ingat hari ini saya kasih lewat, tapi besok tidak ada pengecualian biarpun itu wartawan. Saya yang lagi puasa hanya membalasnya dengan iya dan menganggukkan kepala saya di depan oknum polisi itu,” sambungnya.

Usai beberapa kejadian yang dialaminya, Ivhan lantas menghubungi Ketua Tim Gugus Tugas Covid-19 yang juga Wakil Walikota Jayapura Ir. H. Rustan Saru, MM, mengatakan, “Nanti begini saja, itu sudah kita bilang petugas semua kalau wartawan itu cukup tunjukkan id card dan kasih lewat begitu. Saya sudah bel (telepon) pak Kapolres sama Wakapolres untuk beritahukan kepada petugas agar jangan begitu sama wartawan. Dia tidak tahu itu, ungkin dia gak tahu itu. Sudah kita kasih tahu itu, dan sudah selesai karena saya sudah telepon pak Kapolres,” ucapnya.

Kemudian saat pria yang juga kontributor di beberapa media online lokal Papua ini, sempat menghubungi Kapolresta Jayapura AKBP Gustav R. Urbinas, namun tidak diangkat.

Tapi, soal kejadian ini sudah dikonfirmasi oleh pimpinan media LintasPapua.com ke Kapolre Jayapura Kota, AKBP Gustav Urbinas via pesan WhattsApp. “Selamat sore Kaka Kapolres ijin mau konfirmasi ada rekan media yang suka ditahan dan ditanya banyak baik di Pos depan Denzipur maupun yang ada di Pasar Lama Abepura dan katanya media tidak boleh keluar meliput katanya, dia wartawan saya di LintasPapua.com, atas nama Irfan kebetulan pulang pos liputan dari Sentani”.

Kemudian dijawab oleh Kapolresta Jayapura lewat pesan WhattsApp juga, “Segera saya akan luruskan,” tukasnya. (Irf)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here