Eddy Way (Pemerhati Masalah-masalah Sosial). Richard (LPC)
Eddy Way (Pemerhati Masalah-masalah Sosial). Richard (LPC)

JAYAPURA (LINTAS PAPUA) — Rakyat teriak tentang adil. Teriak tersebut dengan intonasi dalam deretan tangga nada paling tinggi!. Bukan tanpa alasan teriak. Dalam dekade yang berganti teriak tersebut diperankan berganti. Esensi terhadap teriak adalah sama tentang keadilan. Rakyat berupaya menjelaskan kepada negara tentang definisi keadilan!. Tentang penjelasan ini, terbalaskan oleh negara, dan negara menjelaskan pemikiran baru tentang defenisi keadilan, bahwa keadilan versi negaralah yang memaksa wajib terikuti oleh rakyat!.

Seolah rakyat dibuat pura-pura untuk tidak mengingat lagi kepada definisi keadilan yang sebenarnya. Rakyat terancam dalam teriak keadilan, rakyat dipaksa bungkam agar menerima secara paksa defenisi keadilan dari negara.

Negara bukannya hadir dalam mengayomi namun kehadirannya semakin memburukkan hubungan rakyat terhadap negara!. Macamnya negara gagal dan keadaan semakin menunjukkan bahwa ada kesamaan simpulan berpendapat bahwa negara memang gagal. Jika negara tidak tersebutkan gagal, mestinya negara tampil dalam pendekatan moderat, menerima teriak dan memberi jalan terbaik sebagai alternatif terbarukan.

Keadaan tersebutkan diatas, merubah maksud moderat dengan represif bahkan penuh dengan tindakan-tindakan kejahatan kemanusiaan. Tidak tahukah negara bahwa tindakan kejahatan kemanusiaan adalah perbuatan melawan kesepatan dunia tentang hak hidup.

Dalam melihat keadaan ini, bukan tersoroti bahwa ada pertarungan bebas rakyat dengan rakyat, namun ruang terhadap pertarungan tersebut sengaja tercipta oleh negara!.

Negara sedang menunjukkan bahwa hidup bukanlah sebuah alasan terutama yang mesti dihargai dan dihormati, namun negara sedang merendahkan kemewahan hidup!. Kemudian negara datang memberi respon atas bertindak dengan menggunakan hukum sebab-akibat dan memberi tendensi terhadap akibat seolah-olah akibat adalah sebab untuk melakukan upaya represif.

Negara tampil sebagai pengadil untuk memberi keadilan, namun tampilan negara diresponi sebagai upaya meniadakan rakyat dari keberadaannya. Rakyat kembali lagi dipaksa menerima kesepakatan sepihak negara dan diberi tawaran pasti, ketika rakyat berupaya menanggih kembali keadaan yang dibuat berbeda, rakyat akan ada dalam penuh anggapan bahkan tertuduh sedang berupaya melakukan gerakan pikir dan tindakan membangun perlawanan terhadap negara.

Rakyat bukan tidak paham, namun keadaan buatan yang memaksa rakyat tidak paham sehingga menimbulkan semacam resistensi total dari rakyat terhadap negara.

Dengan segala peralatan yang termiliki oleh negara dikerahkan untuk kembali membungkam suara teriak rakyat. Negara sedang memainkan perannya melalui pesan dalam ringkas sebutan demagogi atau pula hipokrit.

QRakyat diajarkan dengan paksa untuk mendukung kepentingan negara dan berupaya membangun perlawanan baru antara sesama rakyat dengan keterangan-keterangan penuh hasutan dan kebohongan. Ketersediaan berbagai peralatan dipakai negara untuk membenarkan berbagai hasutan dan kebohongan untuk diterima sebagai kebenaran sebenarnya.

Betapa tidak bertanggung jawab!. Keadaan rakyat yang original dibelah oleh kebijakan buatan negara!. Pembelahan tersebut telah meninggalkan bekas diingatan dan rasa dikalbu yang tersimpulkan sebagai kejahatan negara terhadap rakyat.

Teriak rakyat tentang kejahatan negara, dianggap adalah kebohongan atau paling sering terucap oleh negara bahwa teriak tersebut adalah segelintir rakyat dan tidak ada legitimasinya. Tidak tahukan negara, bahwa negara itu secara lahiriah terbentuk dari kumpulan orang yang melebur menjadi kesatuan dan tersebutkan sebagai rakyat. Aneh dan ajaib, demi memuluskan niat penguasaan totalitas negara, kembali negara mempersepsikan menurut negara tentang legitimasi.

ATerdeteksi bahwa negara sedang tidak berakal, sehingga dengan kehendak bebas dan disertai oleh dorongan nafsu penuh kebiadaban, dilancarkan berbagai taktikal untuk memuluskan tujuanya.

Kerendahan terhadap akal telah memaksa banyak rakyat harus mengalami berbagai keterputusan dan keterhubungan. Keadaan kekiniaan seolah menunjukkan negara sudah menang dari upaya mendaratkan definisiq keadilan dan membangkitkan persepsi baru tentang legitimasi.

Telah terpotret sebagai kesesatan negara, dan kesesatan tidak akan dibiarkan merajalela bahkan tumbuh. Kendati kesesatan tetap dipaksa tumbuh, akan teribaratkan seperti ilang-ilang, akarnya tidak dalam dan mudah dicabut.

Negara sedang pura-pura lupa, bahwa bekas ingatan dan goresan dikalbu akan terus menjadi pemicu untuk mengkonsolidasi kekuatan dalam teriak yang sama kembali dan berulang, bahwa negara sedang melakukan berbagai kejahatan terhadap rakyat, itulah akar sebanarnya pada rakyat.

Negara sedang menikmati kesenangan diatas pura-pura hebat, namun senyatanya rakyat yang sedang tersakiti sedang melakukan berbagai perundingan-perundingan untuk memaksa negara mendengar tagihan dari rakyat.

Jangan dibungkam tentang teriak, negara mesti kembali introspeksi, merubah kehendak bebas dan nafsu kebiadaban agar dituntun oleh jalan pikiran yang benar dan terbenarkan sesuai pengakuan kebenaran sedunia, bahwa hak hidup rakyat mesti dilindungi.

Jika negara tidak mampu melindungi, maka biarkan rakyat yang tampil untuk melindung hak hidupnya. Negara tidak perlu pakai dalih rasa aman, sebelum negara ada, rakyat telah ada dalam solidaritas dan soliditas sebagai kesepakatan alami yang saling diterima dan diakui.

Oleh ambisius yang terpendam, maka kehendak bebas dan nafsu kebiadaban menjadi tontonan seperti adegan film, seolah kejahatan itu adalah segalanya, bahkan kebenaran dan keadilan dibungkam oleh kerakusan untuk terakui kepada pemegang kekuasaan tunggal.

Framing kejahatan, bahkan framing itu dipaksa sebagai internalisasi pada pikir rakyat dan seluruh rakyat mesti menerimanya. Negara mestinnya sadar, dan pergi kembali kepada hakekat kehadirannya. Keadaan tentang teriak keadilan adalah fakta, cerita film hanya adegan penuh rekaan untuk mengajak penikmat turut menikmatinya. Ageda dibalik layar adalah keadaan sebenarnya, adegan itu pula yang mesti diperlihatkan, namun kembali lagi demi persepakatan atas nama kejahatan, semua adegan keadilan dan kebenaran dibungkam.

Keadilan akan mencari-cari ditengah ketidakadilan dan keadilan akan pergi kepada setiap yang membutuhkan keadilan. Dari yang membutuhkan keadilan akan menjadi kumpulan-kumpulan yang melebur dalam semangat memperjuangkan keadilan. Ketidakadilan yang ada pada ruang dan tempat ini, adalah keadaan keadilan yang dibungkam, maka menjadi semangat yang sama keadilan harus dikembalikan pada ruang dan tempatnya.

Kumpulan keadilan hendak teriak mengetarkan penganut ketidakadilan, saatnya kembalikan keadilan. Berbagai permufakatan jahat telah membuat pesakitan begitu dalam dan saatnya obat keadilan mesti ditegakkan untuk mengobati kesakitan atas ketidakadilan dalam kurun waktu yang lama dan panjang. Pemilik keadilan menegaskan dalam teriaknya, inilah ruang dan kesempatan alamiah tentang keadilan. Pergi saja, pergi saja!. Pesan kata-kata bukan untuk mengusir sebagai balasan, namun pesan kata-kata membalaskan sebagai pembukktian bahwa saatnya keadilan rakyat ditegakkan.

Penulis : Eddy Way (Pemerhati Masalah-masalah Sosial)

(Richard/Lintas Papua)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here