Dampak Ekonomi Dalam  Gempuran Virus Corona ( Menyoal Kebijakan-II), Oleh : Alfons Awoitauw, S.IP, M.KP

0
229

Dampak Ekonomi Dalam  Gempuran Virus Corona
( Menyoal Kebijakan-II)

Oleh : Alfons Awoitauw, S.IP, M.KP. (Kepala Dinas Perhubungan (Kadishub) Kabupaten Jayapura)

 

Secara ekonomi, dalam menghadap keadaan tertentu ada dua “peran” yang dihadapi negara-negara di dunia saat pandemi global virus corona meyebar ,yakni melawan virus itu sendiri dan berusaha mengendalikan krisis ekonomi.

Serangan wabah virus Corona diperediksi bakal memukul ekonomi global. Di Indonesia sendiri, lewat mentri keuagan mengatakan bahwa Coved-19 akan memperburuk ekonomi indonesia, bahakan pertumbuhan ekonomi diprediksi bakal hanya sebesar 2,5 persen bahkan bisa mencapai 0 persen.

Melihat situasi ini, dalam sebulan terakhir,pemerintah pusat telah mengeluarkan serangkeian kebijakan (paket stimulan) baru dibidang ekonomi demi berupaya memperkecil dampak pandemi virus corona terhadap perekonomian dan dampak sosial baru secara keseluruhan.

Paket stimulan satu dan dua sebesar RP 401,1 triliun adalah suatu langka strategis negara terhadap apa yang sedang dan akan dikerjakan sekarang. Sehingga akan memberikan semacam garansi kepada semua kebijakan negara terkait kebutuhan publik.
Garansi kebijakan dalam paket tersebut dirincikan kedalam beberapa sasaran antara lain;
• Rp. 75 triliun untuk bidang kesehatan
• Rp. 110 triliun untuk jaring pengaman sosial
• Rp.70,1 triliun untuk insentif perpajakan dan stimulus kredit usaha rakyat
• Rp.150 triliun untuk program pemulihan ekonomi
• Dan ada tambahan anggaran secara mandiri dilakukan oleh para kepala daerah propinsi,kota dan kabupaten.

Dalam status kedaruratan kesehatan dan menerapkan pembatasan sosial bersekala besar akabat epidemi virus corona.

Pemerintah kita mengunakan hal ini sebagai usaha membangkitkan perekonomian yang memang mulai lesu sejak wabah virus corona diumumkan.

Tetapi penting untuk dicatat bahwa sebagian besar intervensi ini adalah pembayaran satu kali atau berulang kepada orang-orang yang terkena dampak, sementara ekonomi kemungkinan besar akan menderita dalam jangka waktu yang lama. Apakah pemerintah siap menghadapi konsekuensi nyata dari orang yang kehilangan pekerjaan?, dengan merujuk pada potensi meningkatnya pengangguran setelah pandemi selesai.

Memang dalam paket stumulus tersebut akan ada subsidi upah bagi perusahaan antara 25-75 persen bagi semua pekerja lokal untuk menyelamatkan pekerjaan, selain menjaga penduduk lokal tetap bekerja ditengah wabah virus corona, sehingga di harapkan kepada para pengusaha untuk tetap mempertahankan pekerja.

Dengan kondis seperti diatas, maka perhatian kita diarahakan kepada pemerintah daerah,apabila kasus pandemi ini berlanjut dalam tiga bulan ke depan apa langka-langka antispatif yang dilakukan dalam mengendalikan sektor ekonomi. Yang ideal dilakukan adalah, menghitung matang sisa sembilan bahan pokok dan mengendalikan diastribusi serta harga. Hal ini untuk menghindari gejolak sosial baru akibat serbuan pandemi Corona.

Kita semua tahu bahwa,Virus corona sudah menyebar di 155 negara dan sudah dinyatakan sebagai pandemik global. Yang menarik ketika bangsa kita masuk dalam kondisi tertentu akibat penyebaran pandemi virus, suasana kabatinan para pimpinan negara sangat terusik (hidup dalam ketidaktenagan) bahkan nyaris terkoyak argumen rasional mereka. Mengapa? karena ada beberapa penjabat negara setingkat mentri juga terpapar dengan virus ini dan banyak petugas medis yang relah merengut nyawanya demi kemanusian dan penaganan pasien coved-19.

 

 

Publik merasa Miris dengan melihat ada petugas kesehatan ikut terseret dalam kondisi ini. Apakah himbauan WHO dan Pemerinta untuk setiap kita termasuk para tenaga medis untuk tidak melakukan “ social distancing dan phisical distancing serta mengunakan Alat Pelindung Diri (APD) pada saat menagani pasien positif diabaikan?. Kalau melihat cara penaganan coved-19 pada negara kita termasuk daerah-daerah terkasus, kita jujur prokol pemerintah bersikap pasif dan hanya menunggu partisipasi dari masyrakat untuk menahan laju penyebaran wabah virus Corona.

Dari protokol tersebut, tidak ada upaya pemerintah untuk menjemput bola atau berperan aktif menelusuri siap-siapa yang telah terjangkit, pemerintah hanya menunggu.

Kalau dengan melihat isi protokol berbunyi; “ jika anda merasa tidak sehat dengan krateria: demam lebih dari 38c, batuk/pilek/nyeri tenggorokan, disarankan istrahatlah yang cukup dirumah atau minum air yang cukup.

 

Kemudian, bila tetap merasa tidak nyaman, keluhan berlanjut, atau disertai dengan kesulitan bernapas sesak atau napas cepat, segera memeriksakan diri ke fasilitas pelayanan kesehatan (FASYANKES).

Dari isi protokol itu, kita bisa melihat tanggung jawab pemerintah memang sedikit santei, masyarakat disuruh datang sendiri layaknya mengalami sakit sebagaimana mestinya.

Hal ini tidak bisa berlanjut lama,karena bukan penaganan penyakit biasa, Corona ini pandemik,menular. Jadi pemerintah harus proaktif dengan cara penaganan yang berbeda, serta merevisi isi protokol penaganan corona jika tidak ingin kondisi kita jauh lebih terpuruk.

Penulis adalah Kepala Dinas Perhubungan (Kadishub) Kabupaten Jayapura, Alfons Awoitauw, S.IP, M.KP (Irfan / LPC)

Apabilah Protokol ini tidak segera dirubah dengan semagat menjemput bola, maka pada awal april dan seterusnya wabah corona akan menjangkit ribuan orang dalam hitungan per minggu (menurut saya) , sehingga diperlukan desain Strategi penaganan yang cepat dan tegas dibutuhkan untuk menghadapi pandemi, sehingga dampak ekonomi dari wabah Coved-19 terhadap perekonomian kita akan sangat ditentukan oleh kebijakan dan keseiapan pemerintah untuk mengatasi wabah tersebut. semoga “Salam sehat. (@lfa-72)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here