Kepala Dinas Perhubungan (Kadishub) Kabupaten Jayapura, Alfons Awoitauw, S.IP, M.KP (Irfan / HPP)

Antara Utopia dan Covid-19 (Sebuah Kutipan Dalam Pandangan Global)

Oleh : Alfons Awoitauw, S.IP, M.KP. )*

 

Abad 21 merupakan suatu abad yang didasarkan pada Kalender Gregory serta dimulai pada tahun 2001 sampai tahun 2100 pada abad ini tegnologi berkembang dengan dhasyat. Perkembangan teknologi yang pesat ini berdampak pada persaingan berbagai bidang yaitu ekonomi, politik sosial dan budaya serta membuat keterkaitan suatu negara dengan negara lain yang disebut juga globalisasi.

Dalam persaingan globalisasi yang fundamental menimbulkan friksi ketegangan antar manusia di belahan dunia. Untuk memberikan kesadaran baru dari ambisius para kapitalistik perlu di format ulang kalimat penanda yang memberikan semacam tekanan pembatas ( Limiting Presure-@).

Limiting presure yang bisa di format ulang,adalah format “Utopis dan Covid-19”, kedua istilah mampu untuk menyihir orang – orang yang memiliki ambisius apsolut.

Menarik dicermati, pendapat Paulo Freire, bahwa hal mengerikan apabilah kita merasahkan ketidak adilan,kelaparan,kekerasan dan ketidak pastian, tetapi tidak berani membayangkan dunia lain yang lebih baik.
Kondisi dan bayangan ketakutan kekenian ( Shandow of Fear-@) merupakan hal yang sangat mengerikan apabila kita berani bermimpi tentang dunia lain yang lebih baik sebagai suatu proyek namun tidak bersunggu-sunggu untuk mewujudkanya secara swadaya.

Sebagai suatu kutipan, tentu rentan mengandung masalah. Ada cela untuk meyesatkan, kehilagan konteks karena tidak utuh membaca setuasi kekenian yang terjadi.

Apabila kita mencermati utopia vs covid-19 keduanya mewakili hal yang negatif, benar-benar tidak bertempat. Artinya, tidak ada ruang untuk tempat yang ideal (lock down/stay home) bagi para ambisius mungkin juga kita.

Krisis saat ini dalam paham neoliberalisme, telah menyeret harapan, mimpi dan imijinasi ke dalam jurang yang terjal. Freire dalam Pedagogy of Freedom (2003) mengatakan bahwa paham neoliberalisme tidak hanya sekedar sitem ekonomi yang adidaya, juga ideologi fatalalistik dan pragmatis yang mengatakan bahwa keadaan dunia saat ini adalah keadaan yang memang semestinya, satu-satunya yang ada dan yang mungkin ada. Tidak ada ruang untuk membayangkan dunia lain yang lebih baik.

Adanya pandemi Covid-19 telah menegasikan paham neoliberalisme,karena apa yang telah dipertantangkan oleh sebagaian kelompok manusia lain untuk mewujudkan peradaban yang paripurna sepertinya mengambang dan mengisahkan ketidak nyamanan.
Kita semua pasti punya harapan ketika pandemi covid-19 berakhir. Karena, Harapan merupakan dorongan manusia nuntuk menuju masa depan yang lebih baik.

Michel Foucault berujar “ Kekuasaan yang mengubah masyarakat bukanlah daya otoritatif yang seolah-olah dimiliki penguasa atau oknum – oknum, kekuasaan juga bukanlah entitas yang dimiliki sesorang melainkan dinamika permainan antara Harapan, pengetahuan yang umum(Episteme), pengambil keputusan dan kesadaran-kasadaran individu.

Sudah seharusnya kita memberi ruang penaganan secara masif pada utopia dan covid-19, tentu bukan berkepanjangan dan dibarenggi dengan aksi. Tidak ada salahnya bagi kita untuk bekerja keras untuk kehidupan yang lebih baik.

Semua orang saat ini bekerja untuk dunia yang lebih baik. Kita juga dapat menjadi kuat,memperolh kepenuhan melalui simpati ketika lingkungan dimana kita berada dapat memberikan ekspresi yang humanis.

Saya berharap suatu ketika saat berakhirnya pandemi corona, orang-orang lain tidak menganggap orang lain sebagai orang yang berbeda dari dirinya karena imbas dari; Local Lock Down, Kelamaan Diruma,Jaga J@rak,Tidak Berkumpul dan lainya yang bersifat sosial interaksi.semoga.! t” Impossible dream? No. Covid-19 A possibility. (@lfa 5 April 2020)

(* Penulis adalah Warga Masyarakat Kabupaten Jayapura, yang menjabat sebagai Kepala Dinas Perhubungan pada  Pemerintah Kabupaten Jayapura. )

 

)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here