JAYAPURA (LINTAS PAPUA) — Tanggal 22 Maret 2020 lalu, Papua digemparkan oleh kabar mengejutkan. Seorang Pasien Dalam Pengawasan (PDP) yang dirawat sejak 16 Maret 2020 di RSUD Merauke dinyatakan positif terinfeksi virus Corona atau Covid-19. Pasien pertama ini diumumkan setelah pihak rumah sakit menerima hasil pemeriksaan sampel yang dikirim beberapa hari sebelumnya ke Balitbangkes RI di Jakarta.

Sejumlah media memberitakan, pasien 01 Covid-19 Papua ini adalah seorang warga Kabupaten Mappi. Sebelum sakit dan dinyatakan positif terinfeksi Corona, ia baru saja pulang dari Sentul, Bogor menghadiri Seminar Bisnis Syariah (Tanpa Riba), 25-28 Februari 2020. Sebelumnya, sejumlah peserta seminar yang sama yang berasal dari DIY, Solo dan Kalimantan Timur ini sudah dinyatakan positif. Bahkan, 2 pasien di Solo sudah meninggal.

Kondisi pasien 01 Covid Papua yang saat ini masih dirawat di RSUD Merauke dikabarkan dalam kondisi baik. Tetapi bagaimana dengan nasib keluarganya di Keppi, Kabupaten Mappi?

Dalam video singkat yang dibagikan Wakil Juru Bicara Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 Provinsi Papua dr. Aaron Rumainum, M.Kes, Jumat, 27 Maret 2020 di whatsappgroup “wartawan khusus Covid-19”, tertera pesan disertai himbauan singkat tertulis yang mengharukan dan menggugah kemanusiaan.

Video singkat berdurasi 1,34 menit itu memperlihatkan hal tak lazim. Dokter Aaron tampak berbicara santai dengan empat keluarga pasien 01 Covid Papua itu tanpa memakai Alat Pelindung Diri (APD) dalam jarak yang sangat rapat. Ada seorang wanita paruh baya berjilbab hitam, diapit gadis kecil berjilbab ungu, dan seorang bocah laki-laki berbaju merah. Di samping Aaron, seorang pria lansia dengan rambut sudah memutih.

“Kepada teman-teman medis di mana saja berada. Saya sedang bersama-sama dengan istri, anak dan keluarga pasien positif pertama di Papua yang sekarang dirawat di RSUD Merauke. Saya sekarang berada di Kepi, Ibukota Kabupaten Mappi. Mereka sekarang dalam keadaan sehat-sehat saja. Tadi sudah dilakukan proses pengambilan sampel untuk diperiksa. Tetapi faktanya mereka sehat-sehat saja dan kita bersyukur kepada Tuhan.

Kita tidak boleh menganggap remeh, tetapi kita juga tidak boleh takut yang berlebihan. Sekarang mereka tidak ada batuk, tidak ada pilek, nyeri tenggorokan maupun demam. Tetapi kami akan memberikan obat kepada mereka.

Faktanya sekarang bahwa mereka tidak ada gejala sakit apapun dan mereka juga tidak stress. Bukan begitu bapa, ibu anak-anak? Oke tetap kuat, maju bersama melawan Corona dengan cara menjaga jarak, menghindari kerumunan, tetap di rumah dan selalu mencuci tangan pakai sabun,” demikian pesan dr Aaron dalam video itu.

Sebenarnya, ada 7 orang anggota keluarga pasien 01 Covid Papua. Hanya saja, tiga orang lain tak tampak dalam video singkat yang diambil. Sudah sepekan lebih, mereka menjalani karantina mandiri di rumah karena menyandang status Orang Dalam Pemantauan (ODP) sesuai protokoler penanganan wabah mematikan ini.

Merasa tersentuh oleh keberanian dr Aaron, papuabangkit.com menghubunginya via telp. Berbagi cerita pengalamannya menghadapi dilema: antara “kepanikan” akan bahaya yang mengancam bercampur sisi simpati mendalam merasakan “kejamnya” masyarakat men-judge atau memberi stigma negatif pada keluarga pasien itu.

“Saya memang sengaja meminta dibuat video itu dan mereka juga setuju. Mereka dikucilkan oleh warga sekitar. Sejak suami ibu ini dirawat sebagai PDP di RSUD Merauke 16 Maret 2020 dan dinyatakan positif Covid pada 22 Maret 2020, secara psikis mereka tentu tersiksa. Media sosial menghakimi mereka. Mereka jalani karantina rumah. Bahkan makanan untuk mereka ditaruh di depan pintu. Petugas kesehatan hanya memantau mereka via telp, tak berani bertemu,” ujar dr Aaron Rumainum, Jumat malam (27/03/2020).

Pada 24 Maret 2020, Satgas Penanganan Covid-19 Papua di bawah pimpinan Dokter Aaron bersama 3 anggota satgas lainnya turun ke Kepi. Mereka mengambil sampel untuk diperiksa, manager training, sekaligus melakukan penguatan kepada kepada para petugas medis di RSUD Mappi.

“Ada 21 ODP, 7 orang adalah keluarga pasien, 2 dokter dan 10 perawat yang sempat merawat pasien ini di RSUD Mappi, dan 2 penumpang yang satu pesawat dengan pasien. Pasien ini tanggal 4 Maret tiba di Kepi, tanggal 5 sakit dan masuk RSUD Mappi, tanggal 9 berangkat ke Merauke, lalu tanggal 16 Maret masuk RSUD Merauke,” urai dr. Aaron.

Aaron mengisahan, saat mereka masuk ke rumah keluarga pasien itu, dua anggota Satgas Covid-19 Papua yang berasal dari Labkesda Papua lengkap mengenakan pakaian astronot sebagai Alat Pelindung Diri. Sedangkan ia dan salah seorang anggota satgas lainnya hanya menggunakan masker. Beberapa petugas kesehatan di Mappi yang ikut ke rumah pasien, malah tak berani masuk rumah. Aaron memaklumi ketakutan mereka akan bahaya penyebaran virus ini.

“Tetapi setelah kami masuk dan saya lihat mereka sehat, ya saya lepas masker dan cerita seperti biasa dengan mereka. Saya bukan meremehkan virus ini, tetapi tujuan saya adalah memberi penguatan kepada mereka agar mereka tidak merasa dikucilkan. Mereka ini punya toko besar di Kepi. Kami mendengar, di media sosial, di facebook, mereka dibully, dikucilkan. Dan awalnya, karena dibully, istrinya mengaku sempat sesak nafas,” kata Aaron.

Dengan ini, Aaron ingin menegaskan bahwa dirinya tidak menunjukkan sikap sok jago atau sembrono menghadapi ancaman potensi penularan dari keluarga pasien yang berstatus ODP itu.

“Tujuan lain, saya ingin menguatkan para petugas medis, kalau saya yang lepas masker saja berani, kalian yang pakai baju astronot harusnya lebih berani untuk berkomunikasi dengan pasien. Untuk apa? Untuk membangkitkan semangat dan harapan hidup bagi mereka secara pelan-pelan,” tegasnya.

Tanggal 25 Maret 2020, dr Aaron dan Tim Satgas Covid Papua mengambil sampel dan swab dari 21 ODP ini. Sampel ketujuh ODP keluarga pasien dilakukan di rumah. Sedangkan untuk para dokter, perawat dan penumpang pesawat, dilakukan di ruang isolasi RSUD Mappi.

Pada Kamis, 26 Maret 2020, kabar gembira datang. Berdasarkan hasil pemeriksaan yang dilakukan Litbangkes Papua di Jayapura menggunakan PCR (Polymerase Chain Reaction), ke-21 ODP yang merupakan jejak pasien 01 Covid-19 Papua ini, dinyatakan negatif.

“Oleh karena itu, saya minta, setelah mereka sudah terima hasil negatif, masyarakat tidak perlu kucilkan dan bully keluarga pasien ini lagi. Saya perlu tekankan bahwa dalam kasus Corona, penguatan itu penting, psikoterapi itu penting. Karena itu demi menjaga daya tahan tubuh pasien. Anjuran pemerintah sesuai protokel kesehatan tetap kita jalankan. Tetapi kita tidak boleh takut yang berlebihan. Kita juga jangan menghakimi orang yang positif corona dan keluarganya. Karantina rumah tetap dipatuhi tapi jangan kucilkan atau bully mereka,” pinta Aaron. (Gusty Masan Raya)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here