Kali ini diputarkan di Rumah Bakau Jayapura tempat berkumpulnya komunitas lingkungan di Jayapura dan disaksikan oleh puluhan anak-anak muda dari berbagai latar belakang. (ISTIMEWA)

JAYAPURA  (LINTAS PAPUA) – Film dokumenter Hutan Perempuan atau Tonotwiyat berhasil tembus dan diputarkan dalam ajang Festival Film Indonesia 2019 akhirnya kembali diputarkan di Jayapura.

Kali ini diputarkan di Rumah Bakau Jayapura tempat berkumpulnya komunitas lingkungan di Jayapura dan disaksikan oleh puluhan anak-anak muda dari berbagai latar belakang. Film berdurasi 1 jam 32 menit ini menceritakan soal aktifitas kaum perempuan yang menjadi kerang atau bia di hutan mangrove, Kampung Engros.

“Ini buah kolaborasi antara Rumah Bakau Jayapura dengan Imaji Papua dan kami senang karena sutradaranya bisa ikut hadir dan membuka ruang diskusi untuk kami,” kata Theresia, salah satu koordinator Rumah Bakau Jayapura, Sabtu (16/2/2020).

Film Dokumenter Produksi Imaji Papua dengan judul Tonotwiyat (Hutan Perempuan). Lolos Kurasi dan masuk nominasi Festival Film Indonesia 2019. (https://www.youtube.com/watch?v=2BeetG4BTys)

Diakui dari film ini banyak yang baru pertama kali melihat kondisi Kampung Engros dan persoalannya terutama di kawasan hutan mangrove dan tak sedikit yang mengapresiasi. “Ternyata masalah sampah yang kita buang di kota bisa berdampak sampai ke teluk dan dalam film itu juga dikeluhkan” kata Butet Lumbangaol, mahasiswi Uncen.

Ia pun kini memahami jika hutan mangrove memiliki peran besar bagi masyarakat yang berada di teluk. Lainnya disampaikan Leonardo yang melihat hutan mangrove menjadi dapur bagi masyarakat di teluk. Banyak manfaat yang diberikan dan hasil yang didapat tidak hanya untuk keluarga tapi juga dijual.

“Saya melihat film ini ril dan memang sangat menggugah,” katanya. Pemutaran film ini juga disaksikan oleh salah satu produser sekaligus sutradara film lainnya, Muhammad Iam Murda. Ia berpendapat bahwa penting untuk mengangkat isu tertentu di Papua. Apakah menyangkut lingkungan maupun sosial budaya.

“Ada banyak hal lain yang perlu kita angkat dan saya memberi apresiasi untuk film ini,” kata Dosen ISBI ini. Sementara Sutradara, Yulika Anastasya menyampaikan bahwa film Hutan Perempuan ini diangkat setelah melihat ada isu yang perlu disuarakan. Persoalan hutan perempuan yang terus mengalami degradasi. “Prosesnya cukup panjang karena mulai riset pada tahun 2018 kemudian mulai diproduksi pada Februari – Maret 2019,” jelasnya. Mantan wartawan Papua Tv ini membenarkan ada banyak tantangan terutama soal peralatan. “Hanya satu kamera tapi puji Tuhan semua lancar,” jelasnya. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here