“Status Seorang Anak”
Lukas 15:11- 32.

🙏”Sebab anakku ini telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali. Lalu mulailah mereka bersukaria”.( Lukas 15: 24)🙏

Setiap kita menyandang status seorang anak. Bahkan setelah kita menikah dan menjadi tua, kita tetaplah anak dari orang tua kita. Pertanyaannya: Sebagai seorang anak mengerti kah kita akan posisi kita di hadapan bapak?

Perikop hari ini menggambarkan dua anak yang keliru memosisikan dirinya. Si bungsu memosisikan diri sebagai salah seorang pewaris harta kekayaan ayahnya (ayat 12). Pada hari ia meminta haknya ia menganggap kalau statusnya sebagai anak sudah berakhir. Karena itu setelah ia menghabiskan harta bagiannya, ia tidak lagi menganggap dirinya sebagai anak bapanya (ayat 18-19). Berbeda dengan adiknya, Si sulung memosisikan diri sebagai hamba ayahnya. Setiap hari ia berfokus kepada upah. Karena itulah ketika ia menganggap dirinya sudah bekerja keras dan lalu tidak mendapat upah, ia menjadi kecewa dan marah (ayat 29-30). Bagaimana dengan bapak?. Rupanya, fokus bapa tertuju kepada pribadi anak-anaknya. Bapa rindu anak-anaknya ada bersama-sama dengannya. Ketika si bungsu pergi setiap hari bapa memikirkannya pulang kembali. Dan ketika anak itu kembali, walaupun ia masih jauh, bapa telah melihatnya (ayat 20).

Banyak orang belum memosisikan diri dengan benar sebagai anak-anak Allah. Seperti Si Bungsu, mereka fokus pada berkat. Atau seperti Si Sulung mereka mengharapkan upah pelayanan. Jika kita pun berpikir demikian, mari mencoba memahami kerinduan hati Bapa. Dibanding berkat ataupun upah, kasih Bapa sungguh tak terkira!.

✍️KERINDUAN HATI BAPA ADALAH KITA SELALU MEMANDANG WAJAH-NYA DAN BUKAN TERUS MEMPERHATIKAN APA YANG ADA DI TANGAN-NYA✍️

Selamat hari Minggu,
Selamat mencari wajah-Nya!
Nikmati Kasih-Nya !

(Oleh Ketua Jemaat GKI Betania Dok IX Kali, Pdt. Ester Wanda)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here