ROMA (LINTAS PAPUA) –  Pada abad ke-3 di kota Roma, Italia, hiduplah seorang biarawan Katolik bernama Valentinus (nama asli Latin yang kemudian lebih lazim dipakai versi Inggrisnya Valentine. Dalam bahasa Italia disebut Valentino). Valentine terkenal gagah berani dan sangat dekat dengan kaum muda.

Pada masa hidupnya, Kaisar Claudius II yang berkuasa, melarang percintaan antara kaum muda, karena hematnya, Roma yang sedang dalam situasi terancam oleh musuh, tidak akan kuat dan menang kalau kaum mudanya yang sewaktu-waktu harus bertempur di medan perang, malah larut dalam ikatan cinta dan perasaan romantisme belaka. Roma masa itu kerap mendapat ancaman dari bangsa Gaul, Hun, Slavia, Mongolia dan Turki.

Valentine melihat derita cinta banyak kaum muda yang ibarat menepuk sebelah tangan. Diam-diam Valentine mengumpulkan mereka dan melakukan pendampingan rohani. Dia bahkan kerap memberikan Sakramen Pernikahan. Kaisar Claudius II marah besar. Valentine dipenjara atas tuduhan melawan aturan kaisar. Dia juga menolak mengakui dewa-dewa Romawi. Oleh karena itu dia dijatuhi hukuman mati.

Selama di dalam penjara, Valentine bersahabat dengan seorang petugas penjara bernama Asterius. Asterius memiliki seorang putri yang menderita kebutaan sejak lahir. Namanya Julia. Valentine berusaha mengobati kebutaannya dengan doa. Valentine juga mengajari sejarah dan agama kepada Julia. Ketika Valentine menjelaskan dunia semesta, Julia seakan-akan melihat dunia terbentang di depannya. Suatu waktu terjadi percapakan ini:

Julia bertanya, “Apakah Tuhan sungguh mendengar doa kita?”
“Ya anakku. Dia mendengar setiap doa kita.”
“Apakah kau tahu apa yang aku doakan setiap pagi? Aku berdoa supaya aku dapat melihat. Aku ingin melihat dunia seperti yang kau ceritakan kepadaku.”
“Tuhan melakukan apa yang terbaik untuk kita, jika kita percaya pada-Nya,”sambung Valentine.
“Oh, tentu. Aku sangat mempercayai-Nya,” kata Julia.
Lalu, mereka bersama-sama berlutut dan memanjatkan doa.

Julia tidak kunjung sembuh hingga pada hari Valentine dihukum mati. Valentine tidak sempat bertemu dengan Julia untuk mengucapkan salam perpisahan. Valentine lalu menuliskan pesan singkat di atas sebuah kertas. Bunyinya kurang lebih seperti ini: Julia, jadilah semakin dekat dengan Tuhan. Di akhir tulisannya Valentine menuliskan kata terakhir: “Dengan kasih, Valentine-mu”.

Keesokan harinya, ketika membuka surat itu, Julia terkejut luar biasa. Dia bisa melihat huruf dan warna-warni di atas kertas. Julia kini bisa melihat. Dia sembuh. Doa dan kasih dari Valentine sudah menyembuhkannya.

Valentine meninggal pada tanggal 14 Pebruari 269 dan dimakamkan di Gereja Praksedes yang saat ini terletak hanya puluhan meter dari Basilika Santa Maria Maggiore, Roma. Pada tahun 496 atau akhir abad ke-5, Paus Gelasius I menetapkan tanggal 14 Pebruari sebagai hari peringatan Santo Valentinus, Martir.

Dewasa ini dikeluhkan di mana-mana bahwa makna asli Valentine’s Day atau Hari Valentine sudah semakin kabur. Banyak yang salah paham dan mereduski keindahan serta keagungan perayaan ini ke dalam aksi-aksi cinta dangkal dan pesta-pesta lainnya yang tidak pada tempatnya. Bisnis Valentine’s Day tidak ketinggalan.

Menariknya, di Roma dan Italia, tempat lahir Santo Valentino dan budaya Valentine’s Day tidak ramai. Bisa-biasa saja. Anak-anak muda cuma spontan saja saling bersalaman, terutama mereka yang bertunangan. Sebagian kecil pasangan suami-istri yang kebetulan ingat, saling memberikan salam syukur dan terima kasih. Nampaknya upaya komersialisasi masih bisa diredam. Mudah-mudahan tidak berlebihan di masa depan sehingga orang digiring kepada budaya baru tanpa pijakan sejarah.

Maka hendaknya kita kembali kepada makna sejati Valentine’s Day. Saat ini kaum muda tidak sedang berada di dalam situasi gawat darurat seperti pada abad ke-3. Tidak ada perang. Tidak ada penguasa yang melarang mereka merajut tali kasih. Tidak ada lagi teori bahwa relasi cinta hanya melemahkan semangat heroik berperang. Biarlah kaum muda kita merajut tali cinta secara natural ketika saatnya tiba, seperti sudah selalu terjadi, tentu saja sambil menghormati tata aturan agama, hukum dan adat istiadat yang berlaku di tempat mereka masing-masing.

Tetapi satu ini yang paling indah untuk dilakukan pada hari Valentine’s Day: Berdoa dan membagi kasih untuk anak-anak buta. Ada banyak “Julia” di sekitar kita. Sesungguhnya “Kita telah mengenal dan telah percaya akan kasih Allah kepada kita. Allah adalah kasih, dan barangsiapa tetap berada di dalam kasih, ia tetap berada di dalam Allah dan Allah di dalam dia” (1 Yohanes 4:16). Dan “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku” (Mat 25:40).

Salam sejahtera dalam kasih Tuhan kita Yesus Kristus melalui hambaNya Santo Martir Valentinus. Selamat Hari Valentine yang sejati!

Roma, 14 Pebruari 2020
Padre Marco SVD

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here