Dr. Dolfinus Yufu Bouway, S.KM, M.Kes(Epid) adalah anak bungsu dari 8 bersaudara dan dari pasangan orang tua bapak Nico Joseph Bouway (alamrhum) Pensiunan Seksi P2M Kanwil Kesehatan Irian Jaya 1987 dan ibu Lintje Wangguway (almarhuma) berasal suku Yokari kampung Bukisi Kabupaten Jayapura. Selamat yah. (ISTIMEWA)

JAYAPURA (LINTAS PAPUA) –  Epidemiologi adalah salah satu disiplin ilmu Public Health, akan tetapi relevan untuk ilmu kedokteran klinis (Gordis,2000). Karena perannya sangat sentral bagi kesehatan masyarakat maka epidemiologi disebut sebagai “The mother science of public health (Blakley.1990) atau “The core science of public health” (Gerstman.1998),

Sumbangsih dan peren ahli epidemiologi di negara-negara Eropa dan Amerika yaitu memberi masukan-masukan berdasarkan fakta lapangan, kemudian menghasilkan kebijakan dan intervensi masalah kesehatan.

Dr. Dolfinus Yufu Bouway, S.KM, M.Kes(Epid). (ISTIMEWA)

Pendidikan formal jenjang S1 dan S2 Epidemiologi menyembar secara merata di seluruh Indonesia, lewat lembaga PTN (Perguruan Tinggi Negeri), PTS (Perguruan Tinggi Swasta) dan setara STIKES (Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan).

Universitas Cenderawasih sejak tahun 2000 telah memiliki Program Studi Ilmu Kesehatan Masyarakat, saat itu Program Studi IKM masih dibawa pengawasan menagemen FMIPA, kemudian tahun 2005 Fakultas Kesehatan Masyarakat lahir dan memiliki 6 Peminatan termasuk salah satunya Peminatan Epidemiologi.

 

Lulusan yang dihasilkan Prodi IKM sampai menjadi FKM di Uncen dari tahun 2002 – 2019 lebih kurang 1800-an alumnus. Keterbatasan tenaga dosen serta keterlambatan dalam penyiapannya membuat FKM Uncen yang telah berdiri selama 15 tahun belum memiliki Program Studi S2 Ilmu Epidemiologi.

 

Dolfinus Yufu Bouway panggilan akrabanya Yubo adalah salah satu Dosen FKM yang disiapkan dan diberikan kesempatan oleh Unversitas Cenderawasih mengikuti proses pembelajaran (Tugas Belajar) tahun 2014 di Prodi S3 Epidemiologi FKM UI telah menyelesaikan masa studinya yaitu tepat pada tanggal 14 Januari 2020 Promosi Doktor Ilmu Epidemiologi dengan hasil sangat memuaskan dan berhasil mempertahankan penelitian Disertasi yang berjudul “Hubungan tingkat mobilitas beserta faktor terkait dengan kejadian HIV di Kabupaten Mimika Provinsi Papua”.

Dolfinus Yufu Bouway panggilan akrabanya Yubo adalah salah satu Dosen FKM yang disiapkan dan diberikan kesempatan oleh Unversitas Cenderawasih mengikuti proses pembelajaran (Tugas Belajar) tahun 2014 di Prodi S3 Epidemiologi FKM UI telah menyelesaikan masa studinya. ISTIMEWA)

Dr. Dolfinus Yufu Bouway, S.KM, M.Kes(Epid) adalah anak bungsu dari 8 bersaudara dan dari pasangan orang tua bapak Nico Joseph Bouway (alamrhum) Pensiunan Seksi P2M Kanwil Kesehatan Irian Jaya 1987 dan ibu Lintje Wangguway (almarhuma) berasal suku Yokari kampung Bukisi Kabupaten Jayapura.

 

Yubo Bouway panggilan akrab lahir 43 tahun yang lalu di Jayapura dengan alamat Jl.Jangkar No 8 Dok IX Atas Kelurahan Imbi Distrik Jayapura Utara adalah salah satu orang asli Papua pertama yang menjadi Doktor pada bidang Ilmu Epidemiologi di FKM UI Harapan Yubo Bouway:

Tanah Papua yang jumlahnya 3 kali luas Pulau jawa, percepatan pembanguna khususnya penyiapan SDM OAP harus seimbang dalam berbagai bidang Ilmu, sehingga kajian akadamik, intervensi dan pengawasan kebijakan pembanguan berjalan sesuai dengan pertumbuhan SDM OAP yang merata pada disiplin ilmu yang diembaninya.

 

Ketika berbicara pembangunan berbasis wilayah adat secara moralitas anak dari wilayah adat akan mengungkapkan kajian yang terukur dan dapat dipertanggungjawabkan secara rasional dan memiliki nilai ilmiah yang berkualitas.

 

Wilayah adat Mamta telah memiliki Doktor Epidemiologi, jangka menengah dan panjang Wilayah Adat Domberai, Boomberai, Lapago, Mepago, Saireri dan Anim-H harus menyiapkan dan memiliki Doktor Epidemiologi. (itu ringkasan nanti Doto edit dan tambah sesuai dengan tujuan pemberitaan) Kutipan diskusi dengan dokter spesialis saraf Indrajaya Manuaba yang bertugas di Wamena Selamat dan sukses, Yubo. GBU

 

Dalam program kemenkes menyangkut “kelompok penyakit terabaikan”, tidak ada program intens mengatasi Taeniasis (solium); banyak wilayah yang tahun 60an endemik, kini telah jarang ditemukan (propinsi Bali sebagai contoh; Sulawesi Utara juga, mungkin NTT masih lumayan endemik)..; namun, Papua Gunung masih hiper-endemik sampai saat ini, dan akibatnya yg terburuk adalah infeksi telur parasit tersebut di jaringan otak, sehingga kasus epilepsi di gunung sangat tinggi, begitu pula berikut luka bakar yg dialami penderita.

 

Rumitnya, mengatasi atau eradikasi taeniasis berikut NCC (neurocysticercosis) tidak sesederhana malaria, elephanthiasis, ataupun leprae, sebab membutuhkan sinkronisasi multisektoral (sanitasi kampung, edukasi baik kultural maupun formal, peternakan, pengawasan daging di pasaran). Yang krusial adalah sanitasi kampung (jamban, selokan, dll.), serta kultural seperti ternak babi di kandang, “bakar batu standar higienis”. Ironinya, dana kampung tidak fokus dan bervarian tidak penting, habis begitu saja.

 

Papua urgen memerlukan “revolusi” pembangunan kampung yang terarah diseluruh Papua, terutama wilayah gunung.

 

Ini beban yang harus segera diatasi, demi menopang generasi baru OAP yang sehat dan cerdas. Selamat yah dan sukses serta siap berkarya membangun bangsa dan negara serta Papua secara khusus. Tuhan memberkati. (Eveerth Joumilena dari Berbagai Catatan Dr. Dolfinus Yufu Bouway, S.KM, M.Kes(Epid) )

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here