Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEBUI) mendapat gelar doktor di usia 31 tahun setelah menyelesaikan program S3 dengan nilai disertasi memuaskan (A Minus). (ISTIMEWA)

SENTANI (LINTAS PAPUA) – Seorang putra asli Papua berhasil meraih gelar Doktor di usia muda, yaitu, Jean Richard Jokhu.

Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEBUI) mendapat gelar doktor di usia 31 tahun setelah menyelesaikan program S3 dengan nilai disertasi memuaskan (A Minus).

Putra asli Papua asal Sentani, Kabupaten Jayapura ini dinyatakan lulus program Doktor di FEBUI setelah menempuh sidang disertasinya yang berjudul “Faktor-faktor yang Mempengaruhi Proses Pengambilan Keputusan Stratejik Secara Heuristik Terhadap Project Output (Studi Empirik pada UKM Konstruksi di Papua.”

Sebagai lulusan progra, Doktor FEBUI, Jean Richard Jokhu juga sebagai dosen tetap jurusan Ekonomi Internasional di President University, Cikarang, Bekasi.

Jean mengakui, bahwa keterbatasan informasi dari masyarakat lokal yang repressive, serta lingkungan yang dinamis tidak menjadi alasan perusahaan UKM untuk tidak melakukan proyek di Papua atau terbengkalainya proyek di Papua.

“Jadi, proyek yang dikerjakan itu bisa diambil berdasarkan pengalaman daripada dia repot bilang ada masyarakat lokal yang suka palang-palang (menghambat) kegiatan proyek. Dia suka bilang, kalau Pemerintah suka menggerogoti. Kenyataannya dilapangan tidak seperti itu. Selama pekerjaan itu pernah dilakukan, perusahaan bisa menyelesaikannya, tenaga kerja yang diperlukan pun bisa ditemukan, selama dia pernah memiliki pengalaman dan memiliki keyakinan bahwa ia mampu menyelesaikan,” ujar Jean, Senin (13/1/2020) lalu dalam rilisnya yang dikirim ke wartawan ini.

Pria asal Sentani, Kabupaten Jayapura itu menyebutkan, latar belakang dirinya mengambil penelitian tersebut karena dia mendapat informasi bahwa mayoritas perusahaan UKM konstruksi di Papua, jengah dengan masyarakat lokal karena selalu palang kegiatan proyek dan harga bahan baku yang tidak kompetitif. Sehingga itu yang menjadi alasan para perusahaan UKM khususnya konstruksi berhenti atau tidak mau mengambil proyek di Papua.

“Padahal kenyataannya, kemampuan mereka mengambil proyek di Papua ditentukan oleh pengalamannya. Selama dia mampu menyelesaikannya harusnya bahan baku yang ditemukan di pulau lain pun bisa di dapatkan dan itu tidak menjadi beban. Karena kemampuan peruahaan itulah yang menjadi daya saingnya dia,” ujarnya.

Apa itu Palang? Palang adalah bentuk penolakan dari masyarakat pribumi dilaksakanannya proyek tersebut dilokasi, sehingga diberi Palang. Alasannya bervariasi intinya belum koordinasi dengan masyarakat setempat.

“Padahal itu bisa diatasi dengan cara menjalin hubungan komunikasi dengan ketua adat setempat. Mempekerjakan orang-orang lokal daripada dari pulau seberang,” katanya.

Sementara itu ditempat yang sama, mantan Aggota DPR RI Periode 1992-2009 Simon Petrus Morin menganggap disertasi Jean Richard Jokhu menarik karena mengangkat persoalan-persoalan yang dihadapi oleh pengusaha UKM khususnya kontraktor di Papua. Dari disertasi ini diharapkan ada pemecahaan permasalahan yang dihadapi pengusaha-pengusaha lokal di Papua sehingga mereka bisa ikut berperan dalam pembanguan daerah.

“Disertasi ini mencoba mengungkap, persoalan apa yang harus kita perbaiki sehingga dengan demikian mereka (pengusaha) semakin terlibat di dalam proyek-proyek yang akan dikembangkan di Papua,” tutur Simon.

Simon mengakui, dunia konstruksi di Papua merupakan sesuatu dunia yang baru, dimana tenaga-tenaga yang ahli di bidang konstruksi masih terbatas.

“Makanya dia (Jean) tadi mengatakan, soal decision making sebuah proyek pengusaha lokal kecil dan menengah menemui kesulitan ditambah minimnya sumberdaya yang bisa membantunya terbatas. Kedepan pemerintah diharapakan bisa membantu pengusaha lokal yang mengalami kesulitan tanpa harus memungut yang macam-macam,” katanya.

Karena korelasinya, sambung Simon, minimnya sumberdaya manusia yang mumpuni akan membuat si decision maker menunda-nunda dalam mengambil keputusan. Dampaknya proyek bisa terbengkalai sehingga menyebabkan penilaian terhadap pengusaha lokal itu negatif.

Sidang Akademik Universitas Indonesia dalam rangka upacara promosi Doktoral dalam Ilmu Manajemen Kekhususan Manajemen Stratejik di pimpin oleh Prof Susijati B Hirawan, dengan penguji diantaranya Prof. Firmanzah, Dr. Anton W. Widjaja, Sari Wahyuni, Ph.D, Riani Rachmawati, Ph.D, Dr. Setyo Hari Wijanto dan Dr. Mohamad Hamsal.

Dengan dikukuhkannya, Doktoral Jean Richard Jokhu, menjadikan dirinya akademika ke- 281 yang menyandang Doktoral di UI. Sebelumnya, Jean telah melalui ujian proposal, ujian riset, publikasi dan ujian promosi Doktoral. (Irf)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here