Salah satu yang muncul dan mendapat reaksi positif dari masyarakat adalah Billy Mambrasar. Namanya masih terdengar baru di Wilayah Indonesia Barat, akan tetapi rekam jejaknya, dan malang melintangnya dalam dunia Pendidikan di Papua, telah membuatnya cukup di Kenal di Wilayah Indonesia Timur. Tampak Ditengah bersama kedua adik - adik yang menjadi binaanya dalam membangun sumber daya manusia Papua. (ISTIMEWA)

BILLY MAMBRASAR DIANTARA DILEMA “BERUNTUNG” ATAU BEKERJA KERAS

Selamat ber-apa saja untuk kamu semua, di seluruh Nusantara….

Untuk Menjawab komentar nyinyir bahwa Billy Mambrasar is just lucky because coincidently : He was born Papuan.

Pertama-tama saya tegaskan: Job Title saya adalah: Staf Khusus Millenial Indonesia. Jadi Harus diingat bahwa Saya bukan Staf Khusus Presiden untuk Urusan Papua. Saya adalah Putra Indonesia yang kebetulan berdarah Papua (Mambrasar), yang ditunjuk berpikir untuk menggunakan Teknologi dan Inovasi dalam membangun Indonesia.

 

Akan tetapi, karena Saya lahir dan dibesarkan oleh Tanah Papua sehingga selain sebagai Staf Khusus Milenial Indonesia, saya akan juga terus melanjutkan pelayanan yang sudah saya kerjakan selama 9 tahun terakhir untuk membangun Tanah Papua selain juga membangun seluruh Indonesia.

Untuk asumsi nyinyir di paragraf pertama diatas, Here is the thing:

Ada 2.5 juta penduduk Papua dan dengan perhitungan presentase matematika sederhana, sekitar 30% saja anak2 seusia saya, atau berada pada my demographic age. Menggunakan presentasi matematika tersebut, dari 2.5 juta tersebut, berarti ada 750ribu anak Muda Papua selain saya. Artinya untuk menjadi anak Papua yang terpilih, mereka semua, adalah saingan / kompetitor saya, ada 750ribu anak muda Papua.

Muncul argument berikutnya lagi, mungkin karena Billy adalah anak Papua yang beruntung memperoleh pendidikan tinggi dan memadai? Sementara yang lainnya Tidak?

Founder dan CEO @KitongBisaEnterprise @BillyMambrasar, saat membawakan materi dalam kegiatan diskusi publik di Kota Sorong, 24 April 2019 lalu. (Foto Pribadi Billy Gracia Mambrasar)

Here is my response: saya BUKAN beruntung, tetapi saya memang bekerja keras untuk meraih pendidikan setinggi tingginya. Saya sendiri adalah anak Papua yang lahir dari keluarga ekonomi menengah ke bawah, bisa dikatakan sangat miskin. Saya jualan kue, dan hidup di rumah tanpa listrik, sampai saya SMP. Orang tua saya sampai berlinang air mata, ketika melihat mimpi besar saya untuk berkuliah ke ITB, karena terinspirasi kisah Sukarno, President pertama Indonesia, yang sukses menjadi insinyur sipil setelah berkuliah di ITB.

Ibu saya berkata: :Nak, mama hanya jual2 kue di Pasar, penghasilan setiap hari tidak sampai 50 ribu… bagaimana mungkin mama dan papa sanggup bayar SPP Kamu untuk kuliah lagi?”

Untuk memenuhi ambisi anaknya bisa sekolah setinggi-tingginya, Papa saya mengemis, memegang nokennya, dia, dari satu dinas ke dinas lain, memohon bantuan agar saya bisa terbang dan bersekolah ke Tanah Jawa.

Tuhan menjawab Doa kami, Saya dibantu oleh Dr. James Modouw, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Papua saat itu dengan uang 5 juta rupiah, untuk menerbangkan saya bisa berangkat kuliah ke Bandung.

Saya ikut test masuk ITB, dan berhasil lolos. Akan tetapi tidak ada biaya utk makan, akan tetapi SPP sudah ditanggung oleh Beasiswa Otonomi Khusus dari Pemerintah Provinsi Papua. Saya juga berjualan-berjualan kue, dan mengamen dari Kafe ke Kafe, dan dari acara pernikahan ke acara pernikahan lainnya, untuk dapat uang buat makan. Saya berusaha keras untuk memperoleh pendidikan, saya bukan beruntung!.

S1 saya cuma di dalam Negeri, ga kayak beberapa anak2 Pejabat atau orang kaya lain, yang sudah bisa sekolah di Luar Negeri dari S1, mau buat bisnis atau social movement tinggal minta modal ke orang tuanya.

Mari kita fokus ke demografik Papua kelas menengah ke atas! Ambil saja 10% dari young demographic Papua tadi (750rb orang), artinya ada 75ribu anak Muda Papua lain memiliki resources lebih dari saya, yang merupakan saingan saya. Still, I have to beat those 75ribu anak muda Papua lain, to be the “Chosen one”.

Argumen nyinyir lain muncul lagi. Fakta yang Selalu dibawa-bawa adalah bahwa: Pemerintah dan stakeholders lain, we choose Billy karena dia punya karya nyata dalam social entrepreneurship, dan pendidikan. Artinya, publik yang nyinyir berargumen bahwa mungkin 75ribu anak2 saingan saya itu belum memiliki atau memulai karya – karya ?

Salah satu yang muncul dan mendapat reaksi positif dari masyarakat adalah Billy Mambrasar. Namanya masih terdengar baru di Wilayah Indonesia Barat, akan tetapi rekam jejaknya, dan malang melintangnya dalam dunia Pendidikan di Papua, telah membuatnya cukup di Kenal di Wilayah Indonesia Timur. (ISTIMEWA)

Pertanyannya: mengapa mereka dengan kelebihan dan sumber daya berlebih, tidak terpikir utk membuat bisnis, social movement, serta karya2? Mungkin mereka memutuskan seperti itu, dan mereka tidak bisa disalahkan juga, karena mungkin bukan passion, hobi dan kesenangan mereka.

Kesimpulan yang bisa saya sampaikan, bahwa mungkin ada Faktor2 lain seperti , ada faktor: Kerja Keras, Keberuntungan, dan Berkat Tuhan disitu. Juga ada faktor: Mengambil resiko dalam hidup dan menghindari zona nyaman. Saya anti kenyamanan hidup, dan saya selalu terbeban menolong orang lain, juga sangat nasionalis ingin membangun bangsa Indonesia.

Waktu kuliah sarjana dulu, Saya memilih untuk aktif ikut kompetisi bisnis, bolos2 kuliah utk ikut lomba nyanyi dan seni utk mengasah kreatifitas saya, dan hampir Drop Out dari ITB, teman-teman ITB pasti tau, betapa saya sangat nyeleneh semasa kuliah. Saya bahkan pernah memilih meninggalkan kampus selama 1 Semester untuk mengikuti Kompetisi Indonesian Idol, saya juga pernah meninggalkan skripsi saya, dan alhasil lulus diatas 5 tahun, karena saya memilih ikut pertukaran siswa ke Amerika Serikat, di Harvard University kala itu. Pulang-pulang, teman-teman seangkatan sudah lulus semua, dan sudah mulai pada kerja-kerja di top companies. Saya tertekan secara psikologis dan sempat malu. Mungkin dalam bayangan mereka: Yah kurang fokus siiiih.. jadi lama lulus. Ilmu tambang juga pasti dia gak ngerti?? Kata beberapa teman yang lain.

Saya memang sulit utk hidup mengikuti jalur monoton, predictable, dan tersusun. Saya anti kenyamanan, saya memang orangnya nyeleneh, dan selalu mencari ide baru.

Banyak pilihan2 nyeleneh lain yang saya buat, yang sulit dipahami, dan selalu di luar dari jalur normal yang dipilih teman-teman ITB kala itu. Saya memahaminya, dan saya mengambil resiko dalam membuat pilihan tersebut. Bahkan setelah lulus dari ITB, Banyak sekali pilihan2 beresiko lain yang saya pilih, yang mungkin tidak diambil oleh anak-anak lain.

Setelah lulus dari ITB dan bergabung dengan Multinational Corporation (MNC), Perusahaan Minyak Inggris: BP selalu muncul komentar-komentar seperti : dia ketrima karena dia anak Papua. Terlepas dari kemampuan saya menjawab pertanyaan2 terkait Industri Hidrokarbon dengan gape, bahasa Inggris saya yang kata Bos saya orang bule inggris kala itu ke saya: “You speak like a native speaker, you sound british!”… tetap orang akan berasumsi tertentu dan tetap nyinyir.

Selama di BP pun prestasi demi prestasi yang saya peroleh selalu dinafikan orang lain sebagai: “Billy Mambrasar is just lucky”, which made me just smile responding to them.

Saya mau bilang bahwa, seperti karakter saya selalu, Saya menolak utk menikmati kenyamanan hidup. Banyak hal2 nyeleneh yang saya buat, bekerja lebih dari, bahkan di luar tanggung jawab saya, seperti mendorong program pemagangan anak-anak lokal di BP, atau keluar masuk kampung sekitar area operasi BP, karena saya ingin tau, seperti apa budaya dan cara hidup orang2 Papua dari Suku Sebyar, Irarutu, Sumuri, Sekar Pikpik, dan Fakfak. Saya ingin menolong mereka juga! Mereka hidup di sekitar daerah operasi migas tersebut. Bos saya sampe tegur saya: “kamu ngapain beraktifitas ekstrakurikuler di luar tugas dan tanggung jawab kamu sebagai insinyur? Kalau kamu mau jadi Bos disini, kamu harus Fokus”.

Saya lalu memulai Social enterprise saya: Kitong Bisa, dan itu memakan banyak waktu saya. Saya tidak fokus berkarir. Saya ingin menjadi manusia yang berdampak. Karena sering Bolos, saya dimarahi bos saya, dan dibilang tidak fokus. Dia selalu bilang: km klo mau sukses menjadi manager seperti saya, harus fokus bekerja.

Karena konflik yang terus menerus dengan Bos saya, dan saya juga memilih untuk menciptakan dampak yang lebih besar lagi, saya memilih keluar dari BP, keluar dari perusahaan yang kata orang-orang: Bergaji besar dan berfasilitas mewah. Ibu saya saking stress karena keputusan saya, sampe sakit 3 hari, stress karena takut tidak ada sokongan dana lagi.

Resign dari BP, saya fokus ke social enterprise saya. Hasilnya: banyak orang yang saya tolong, dan presetasi demi prestasi saya raih. Orang mulai mengenal dan memberikan penghargaan, dan saya mulai menikmati hidup saya. Mulai dari Bertemu presiden Barrack Obama, berbiara di Gedung PBB, diundang bertemu pemenang Nobel Prize 2019: Muhammad Yunus, Fellow di WIFE, Duta Pembangunan Berkelanjutan Indonesia, dll.. dll.

Selain sifat tidak menyukai kenyamanan, saya selalu tidak berhenti bermimpi besar. Saya memutuskan untuk bolak balik Inggris menyelesaikan master kedua saya, setelah berhasil lulus dari Australian National University (ANU), dengan gelar master dan penghargaan rektor sebagai: Student of the Year 2015. Tujuan saya menempuh pendidikan setinggi-tingginya ini adalah untuk menginspirasi anak miskin seluruh Indonesia, bahwa: Billy Mambrasar, seorang Putra Indonesia miskin, anak penjual kue di Pasar, mampu menyelesaikan pendidikan setinggi-tingginya dengan beasiswa penuh. Orang miskin Indonesia juga memiliki hak penuh untuk hidup sukses dan Bahagia. Kisah saya telah menjadi kisah inspiratif untuk anak-anak Indonesia agar percaya pada mimpi-mimpinya lagi.

Semua orang akan tetap nyinyir, semua orang akan tetap berkomentar. Mentor saya pernah berkata: “Embrace both praise and criticism, they are equally important!”. Saya menerima dengan hati terbuka kritikan pedas, nyinyir dan sindiran-sindiran. Semua itu adalah cambuk untuk saya tetap maju dan berkarya.

Terpilih sebagai Stafsus Presiden bukan sebuah privillege dan prestise, itu adalah Tanggung Jawab. Saya bertanggung jawab terhadap 260 juta Rakyat Indonesia, saya berutang janji dan memegang beban untuk membantu peningkatan kesejahteraan bangsa ini. Jabatan bukan Privillege, Jabatan adalah Tanggung jawab dan amanah, oleh sebab itu, Jabatan ini harus diikuti dengan komitment tinggi untuk saya ikut membangun Negara. Mohon Doa dan Dukungannya!

Saya rasa kita semua bisa dan akan memiliki kesempatan yang sama. Mari kita maju dan menciptakan karya-karya hebat bagi bangsa kita! Kita jangan berambisi mengejar jabatan, kekuasaan, atau ketenaran. Kita cukup berkarya dan fokus menolong orang lain. Hal2 seperti kekayaan, kekuasaan, dan ketenaran, hanyalah Bonus dari TUHAN SEMESTA ALAM, apabila pelayanan kita diberkati oleh yang Maha Esa.

Nusantara, 22 November 2019
Putra Saireri: Billy Mambrasar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here