Jika pada tahun 2013 angka melek huruf sebesar 67,08 persen, tahun 2014 meningkat menjadi 69,10 persen. Dengan kata lain masih terdapat 30,90 persen penduduk yang masih buta aksara di kabupaten Yalimo. Tampaknya peningkatan angka melek huruf terjadi pada penduduk muda yang masih/ baru saja mengenyam pendidikan. Tampak saatr foto bersama dengan Tim dari Uncen. (ISTIMEWA)

Pelaksanaan Kegiatan Pengentasan Buta Aksara di Kabupaten Yalimo :  Tim Pengabdian LPPM Universitas Cenderawasih (UNCEN) Tahun 2019

 Oleh : Lazarus Ramandey dkk

 Latar Belakang

Pendidikan keaksaraan merupakan program pendidikan dalam rangka memberantas buta aksara supaya menjadi melek aksara (huruf). Seseorang dikatakan melek huruf jika orang tersebut tidak mampu membaca dan menulis huruf latin atau huruf lainnya. Pendidikan dasar berkaitan dengan kinerja pendidikan dasar bagi kelompok usia sekolah. Program ini dilakukan supaya tidak terjadi kelompok buta aksara baru baik sebagai akibat adanya anak usia 7- 12 tahun yang tidak mendapat pendidikan dasar, maupun anak putus sekolah pendidikan dasar.

Selain pada pendidikan dasar, pendidikan keaksaraan juga diperuntukkan bagi orang dewasa (adult education) untuk penduduk usia dewasa (15 tahun ke atas). Indikator-indikator yang biasa dijadikan ukuran keberhasilan pendidikan keaksaraan di antaranya adalah angka melek huruf, dan pendidikan yang ditamatkan penduduk. Program pemberantasan buta huruf di Kabupaten Yalimo mulai mengalami peningkatan ke arah yang diharapkan. Meskipun peningkatannya tergolong lambat, persentase penduduk dewasa (usia 15 tahun ke atas) yang melek huruf kian bertambah.

Jika pada tahun 2013 angka melek huruf sebesar 67,08 persen, tahun 2014 meningkat menjadi 69,10 persen. Dengan kata lain masih terdapat 30,90 persen penduduk yang masih buta aksara di kabupaten Yalimo. Tampaknya peningkatan angka melek huruf terjadi pada penduduk muda yang masih/ baru saja mengenyam pendidikan.

Sementara bagi penduduk yang telah lama meninggalkan dunia pendidikan atau bahkan yang belum pernah tersentuh pendidikan sangat sulit dilakukan pendidikan keaksaraan (kelompok tersulit dalam masyarakat untuk diberikan pelayanan pendidikan keaksaraan). Hal ini diduga menyebabkan laju peningkatan angka melek huruf bergerak sangat lambat. Kelompok tersulit tersebut antara lain adalah penduduk usia tua (45 tahun ke atas), penduduk yang tinggal di daerah terpencil, komunitas-komunitas khusus, dan penyandang cacat. Kelompok penduduk ini sulit untuk dijangkau pelayanan pendidikan disebabkan baik oleh faktor internal seperti kemampuan dan keinginan belajar yang sudah menurun dan factor eksternal seperti terbatasnya ketersediaan pelayanan pendidikan keaksaraan bagi mereka. Data mengenai pendidikan terakhir yang ditamatkan penduduk semakin menegaskan bahwa tingkat buta aksara di Yalimo cukup tinggi. Berdasarkan hasil Susenas 2014 tercatat sebanyak 60,28 persen penduduk Yalimo yang tidak memiliki ijazah. Sedangkan hanya 18,31 persen penduduk yang berhasil menamatkan pendidikan sampai sekolah menengah ke atas. Kebanyakan mereka adalah yang tinggal di ibukota kabupaten atau distrik terdekat dengan kabupaten induknya Jayawijaya, karena mengingat secara fasilitas lebih mendukung dibanding pada distrikdistrik lain, (Bappeda Kabupaten Yalimo 2019).

Data nasional menunjukan bahwa penyandang buta aksara di Kabupaten Yalimo cukup Tinggi. Menurut data BPS berasarkan Sensunas tahun 2014, penyandang buta aksara di kabupaten tersebut sebesar 62,28%, sedangkan hanya 18,31 persen penduduk yang berhasil menamatkan pendidikan sampai sekolah menengah ke atas. Kebanyakan mereka adalah yang tinggal di ibukota kabupaten atau distrik terdekat dengan kabupaten induknya Jayawijaya, karena mengingat secara fasilitas lebih mendukung dibanding pada distrikdistrik lain. dari total jumlah penduduk yang ada. Penyandang buta aksara tersebut masih berusia produktif yaitu 20-45 tahun sehingga. Sasaran utama dari kegiatan buta aksara di Kabupaten Yalimo adalah warga masyarakat yang masih berusia produktif dan usia lanjut.

Pemberantasan buta huruf di Kabupaten Yalimo tergolong lambat, terdapat 30,90 persen penduduk yang masih buta aksara di kabupaten Yalimo. Sementara bagi penduduk yang telah lama meninggalkan dunia pendidikan atau bahkan yang belum pernah tersentuh pendidikan sangat sulit dilakukan pendidikan keaksaraan (kelompok tersulit dalam masyarakat untuk diberikan pelayanan pendidikan keaksaraan).

 

Hal ini diduga menyebabkan laju peningkatan angka melek huruf bergerak sangat lambat. Kelompok tersulit tersebut antara lain adalah penduduk usia tua (45 tahun ke atas), penduduk yang tinggal di daerah terpencil, komunitas-komunitas khusus, dan penyandang cacat. Kelompok penduduk ini sulit untuk dijangkau pelayanan pendidikan disebabkan baik oleh faktor internal seperti kemampuan dan keinginan belajar yang sudah menurun dan factor eksternal seperti terbatasnya ketersediaan pelayanan pendidikan keaksaraan bagi mereka. Permasalahan buta aksara ini terletak pada masih rendahnya minat belajar masyarakat, sehingga terkadang fasiltas yang disediakan oleh pemerintah tidak termanfaatkan secara optimal.

Pelaksanaan pendidikan keaksaraan dilakukan dalam bentuk kelompok belajar sulit untuk menjangkau penduduk buta aksara di Kabupaten Yalimo yang sebagian besar wilayahnya sulit dijangkau dan rumah tempat tinggal penduduk umumnya sangat menyebar. Selain itu, kelompok tersulit lain juga terdapat pada masyarakat yang belum memahami manfaat kemampuan keaksaraan sebagai kompetensi dasar dalam meningkatkan kualitas hidup.

Pelaksanaan Kegiatan

Jalannya kegiatan Pengabdian di Kabupaten Yalimo oleh tim Pengabdian LPPM UNCEN disesuaikan dengan kebutuhan dan kapasitas SDM kelompok belajar. Metode belajar dengan menggunakan alat peraga dikhususkan bagi kelompok usia belajar 5-10 tahun. Untuk kelompok belajar usia 15-45 tahun, tanpa menggunakan alat peraga hanya menggunakan white board dan spidol, begitu pula dengan strategi dan metode pengajaran. Penggunaan alat peraga ini cukup efektif, pada kelompok belajar usia sekolah dasar 5 – 10. Sebelum peserta Mereka diperkenalkan dengan alat peraga dan

Metode belajar yang dilakukan dengan pendekatan khsus yakni menghampiri satu per satu anggota kelompok belajar untuk menanyakan apa yang menjadi kebutuhan mereka. Hal ini terjadi oleh karena anggota kelompok belajar yang merasa tidak prcaya diri dan malu saat tim memberikan kesempatan atau membuka ruang pertanyaan. Kadang tim harus menyeseuaikan diri dengan keadaan peserta belajar. Metode Latihan Mandiri Kegiatan praktik dilakukan untuk mengaplikasikan materi pelatihan yang telah diberikan. Setiap peserta yang mengalami buta aksara mempraktikkan cara membaca yang efektif. Tim pengabdi menjawab kebutuhan kelompok belajar, usia 20 – 40 tahun tidak dengan metode ceramah, karena masih ada yang belum mengenal huruf dan angka secara baik, oleh karena itu tim berusaha dengan meotode mengeja dan berusaha menanyakan anggota kelompok belajar dengan menggunakan bahasa lokal, misalnya menyebut buah, daun,  yang diawali dengan huruf “A”, “B”, “C”, didampingi oleh pemilik sanggar belajar untuk menterjemahkan mengginakan bahasa lokal kepada anggota kelompok belajar agar mereka pahami.

Bahkan kelompok belajar diatas usia 20 tahun dan kebanyakan ibu-ibu masih membutuhkan bimbingan dan strategi khusus. Tim harus melakukan metode mengajar layaknya anak-anak SD di kelompok belajar tersebut dengan cara memperkenalkan dan mengeja huruf, mengenal angka dan menghitung, bahkan menggunakan bahasa-bahasa lokal yang tentunya dilakukan oleh putra-putri asli Kabupaten Yalimo yang tergabung dalam anggota tim pengabdian LPPM UNCEN. Dengan begitu kelompok belajar tersebut cukup terbantu karena komunikasi yang terbangung cukup mengakomodir kebutuhan mereka. Namun demikian, diakui bahwa pengentasan buta aksara pada semua kelompok usia, baik usia sekolah dan dewasa tidak dapat dituntaskan dalam waktu yang relatif singkat, karena pemahaman daya serap kelompok usia tidak sama.

Tim pengabdian juga melibatkan masyarakat yang peduli terhadap pengentasan buta aksara yakni mereka yang memiliki kelompok-kelompok belajar baik kelompok belajar usia sekolah maupun usia putus sekolah, bahkan mereka bekerja sama dengan menyiapkan ruangan bagi tim dalam kegiatan belajar-mengajar. Sebelum tim pengabdian melibatkan mereka sebagai mitra kerja tim pengabdian memberikan pelatihan singkat  yang tujuannya adalah untuk memberikan tambahan pengetahuan dan keterampilan dalam rangka meningkatkan kemampuan membaca bagi kelompok belajar yang akan mereka ajarkan. Langkah-langkah dalam pelaksanakan pelatihan ini adalah merumuskan pelatihan materi yang relevan, membuat jadwal pelatihan, menyiapkan alat peraga dan bahan pelatihan, pembagian tugas instruktur, pelaksanaan pelatihan, dan melaksanakan evaluasi. Kegiatan pelatihan terdiri dari dua bentuk sebelum mereka memulaikan kegiatan belajar mengajar

 

Tim pengabdian melakukan pendampingan selama kegiatan hingga program pengabdian pada masyarakat ini berakhir (sekitar 3 bulan). Kegiatan pendampingan dilakukan selama kegiatan berlangsung yakni berada di tempat kegiatan yakni di sanggar-sanggar belajar agar berdiskusi dengan mitra terkait mengenai perkembangan kemampuan membaca, permasalahan yang dihadapi dan rencana tindak lanjut kemampuan membaca. Tim pendamping memberikan motivasi dan tambahan informasi terkait kemampuan membaca. Jumlah peserta pelatihan dalam pengentasan buta aksara adalah 5 orang yang terdiri dari 3 mahasiswa dan 2 pemilik kelompok belajar. (*)

DAFTAR PUSTAKA

Bappeda Kabupaten Yalimo, 2019, IPM Indeks Pembangunan Manusia Kabupaten Yalimo. 

Badan Pusat Statistik Kabupaten Yalimo, 2019, Yalimo Dalam Angka Tahun 2015

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here