Seorang Roaster Kopi Asal Papua, Yafet Wetipo. Richard (LPC)
Seorang Roaster Kopi Asal Papua, Yafet Wetipo. Richard (LPC)

JAYAPURA (LINTASPAPUA) – Yafet Wetipo, itulah nama anak Papua asal Wamena, Kabupaten Jayawijaya, yang tenggah mengeluti diri menjadi  seorang roaster kopi.

LintasPapua.Com, saat menjumpai Yafet Wetipo, seorang roaster atau menyangrai kopi, dalam acara Papuan Youth Festival 2019  yang diselengarakan oleh Inti Muda Papua (IMP) bertajuk  ‘Love Yourselt First’, Kamis 7 November 2019, di Hotel Horizon Kotaraja, Kota Jayapura, Papua berbagi cerita bahwa ia mulai mengenal dan menguluti dunia kopi sejak tahun 2014. Hasil karya kopinya sudah ia pasarkan ke luar Papua yakni, Bandung, Jakarta, dan Pekanbaru Riau.

“tempat saya sangrai atau tempat goreng kopi, selain saya  mensangrai kopi saya, tapi juga saya mensangrai beberapa kopi milik teman-teman. Dan hasil dari saya mensangrai kopi mereka. Kini mereka sudah berjualan kopi”, kata Yafet Wetipo.

Hasil  penjualan kopinya, sebut  Yafet dipakai untuk membina petani. Dan membina  anak-anak dari daerah penghasil kopi.

“hasil  penjualan kopi saya, saya pakai untuk membina petani. Dan membina  anak-anak dari daerah penghasil kopi seperti kurima dan Tangma”, Jelasnya.

Yafet menyebutkan salah satu produk kopi yang mereka sudah buat adalah kopi untuk buku  bekerja sama dengan Ponda de Cafe untuk membantu siswa Sekolah Dasar (SD) di Kurima, tepat saya mengambil kopi. Dalam aspek pendidikan.

“kami juga membantu pembinaan kepada petani di daerah Kurima dan Tangma. Untuk  perbaikan produksi pasca panen dan kapasitas produksi, dalam peningkatan kualitas dan perbaikan harga kopi mereka”, Sebut Yafet.

Ditanya soal prosesnya, Yafet menuturkan ia beli kopi dari Wamena dalam bentuk gabah. Kemudian  dihuller atau mengupas kopi. Diprinfit kopi hijau. Setelah itu ia produksi di Kota Jayapura.

“di tempat pengolahan kopi saya, disitu saya sangrai, sortir  dan dikemas dalam kemasan”, Ujar Roaster kopi, asal Papua itu.

Sementara  soal rasa kopi, ia menyebutkan kalau soal rasa sebenarnya hampir seluruh Papua rasa kopinya sama dari coklat. Yang membedakan itu disaat proses pasca panen. Jadi saat kami sangrai sebenarnya kami mengeluarkan rasa yang  sudah petani proses pasca panen itu.  “Kami hanya mengeluarkan rasanya, yang lebih ke fruity atau cita rasa buah dan coklat. Kalau Tangma itu ada Madu dan Kurima itu Markisa. Tergantung dimana produksi pasca panen itu,” pungkasnya. (Richard Mayor /LPC)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here