Peter Tukan: Wartawan (1983-2010). (Foto Pribadi)

ZAMAN INI TIDAK CUKUP HANYA PERSYARATKAN ORANG ASLI PAPUA

Oleh : Peter Tukan

Pengumuman dan Pelantikan para Menteri dan Wakil Menteri (Wamen) oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) sudah berakhir sekitar  dua pekan lalu. Kini, para pembantu Presiden dan Wakil Presiden itu sudah mulai “kebut” dengan program kerja  di Kementerian  masing-masing  yang diharuskan searah dengan visi  pembangunan lima tahun (2019-2024) yang  ditetapkan Presiden Jokowi dan Wakil Presiden KH Ma’ruf Amin.

Mengingat kembali “hingar-bingar” proses  pencalonan Menteri dan Wamen pada dua pekan lalu itu, kita tentu belum lupa akan terjadinya  polemik tentang representasi (keterwakilan)  masyarakat Papua di dalam gerbong Kabinet  Indonesia Maju itu.  Muncul polemik  terkait keterwakilan Papua dan keterwakilan Orang Asli Papua (OAP). Diskusi dan debat kusir soal yang satu ini, sempat  “memanas”  ke permukaan media, namun hal itu  kini berangsur dingin seiring  berputarnya jarum jam aktivitas  kehidupan umat manusia di muka Bumi ini.

Presiden Memanggil JWW

Mantan Bupati Jayawijaya, Provinsi Papua, John Wempi Wetipo yang sering dikenal dengan akronim “JWW” datang ke Istana Negara pada Jumat (25/10) sekitar Pkl.08.58 WIB mengenakan kemeja putih dan belana hitam. Dengan gagah perkasa  penuh riang gembiara,  Ketua DPD PDIP Provinsi Papua ini melangkah  memasuki Istana Kepresidenan itu.

JWW yang sering disapa dengan nama manisnya “Kaka Wempi”  merupakan satu-satunya OAP di Kabinet Indonesia Maju. Sebelumnya Presiden Jokowi sudah memilih Bahlil Lahadalia — yang katanya —  merupakan seorang putra Papua  sebagai Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) – lembaga setingkat Kementerian.

Dengan datangnya Kaka Wempi  ke Istana, publik membenarkan bahwa pada akhirnya  Jokowi memenuhi janjinya yakni bakal ada perwakilan Papua yang dipercayakan  masuk dalam gerbong Kabinet Indonesia Maju. Kaka Wempi mendapat kepercayaan menjadi  Wakil Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR).

Jokowi pernah memastikan di Kabinet barunya akan ada representasi Papua. Hal ini diungkapkan Jokowi usai menerima siswa-siswi sekolah dasar asal Papua di halaman belakang Istana Merdeka pada 11 Oktober 2019 lalu.

Pengangkatan seorang putra  Papua menduduki jabatan dalam Kabinet  Indonesia  Maju sebagai representasi Papua harus dapat diterima semua pihak di Persada Indonesia  tanpa  sedikitpun mengabaikan  putra-putri  Indonesia dari wilayah lain di Nusantara ini.

Kebijakan Presiden Jokowi mengangkat putra Papua menduduki jabatan setingkat menteri   sangatlah  wajar karena selain Tanah Papua yang sangat luas ini  (yang jika dibagi dalam  sebuah wilayah provinsi maka terdapat sekitar tujuh provinsi di Tanah Papua) memiliki Sumber Daya Alam (SDA) yang melimpah yang telah terbukti  ikut memperkuat APBN, juga karena  kekhususan sejarah kembalinya Papua ke pangkuan Indonesia –  berbeda dengan wilayah provinsi lain di Negara Republik Indonesia ini.

Namun demikian, untuk zaman ini, mengangkat seseorang putra asli Papua menduduki jabatan di lingkungan pemerintahan atau di lembaga lain dimana saja, tentunya tidak hanya karena  pertimbangan kepapuannya saja, karena jika  hanya pertimbangan kepapuannya,  maka semua orang yang terbukti sebagai OAP dapat saja menduduki jabatan penting dan strategis di sebuah lembaga pemerintaan atau swasta itu.

Pada masa lalu, mungkin masih bisa  kita menempatkan seorang putra Papua hanya pada pertimbangan kepapuannya itu lantaran pada masa itu, masih  banyak putra-putri  OAP  belum mengenyam pendidikan yang memadai dan belum  ada atau belum banyak OAP yang terbukti profesional di bidangnya.

Namun, dengan adanya banyak lembaga pendidikan dasar hingga pendidikan tinggi di Papua khususnya,  dan Indonesia pada umumnya,  malahan di berbagai belahan dunia,  dan seiring dengan perkembangan dan tuntutan zaman, maka pada hari ini sudah begitu banyak putra-putri Papua memiliki kemampuan yang mumpuni di bidang yang mereka geluti. Sudah banyak putra-putri OAP yang profesional di bidangnya. Kaum muda Orang Asli Papua sekarang, jauh lebih pintar, cerdas  dan kritis dibandingkan pada tahun limapuluhan.

Tanpa menyepelehkan wewenang Partai Politik yang menyodorkan nama calon Menteri atau calon Wamen kepada Presiden, sepertinya pengangkatan putra  Papua menduduki jabatan setingkat Menteri untuk kali ini cukup mencengangkan banyak kalangan khususnya di Tanah Papua  sendiri seolah-olah pada zaman ini  belum ada  putra-putri Papua yang memiliki kemampuan yang mumpuni untuk menjalankan tugas-tugas yang penting dan mulia di Kabinet Indonesia Maju. Malahan tidak sedikit orang berpendapat bahwa, jabatan Wakil Menteri itu harus ditempati oleh kalangan profesional. Sangat bagus jika, orang yang diambil dari kalangan Partai nPolitik (Parpol) untuk menduduki jabatan Wamen itu, selain dia adalah kader partai sekaligus juga profesional.

Seorang pekerja profesional dalam bahasa keseharian adalah seorang pekerja yang terampil atau cakap dalam bidang kerjanya. Seorang pekerja profesional perlu dibedakan dari seorang teknisi, keduanya (pekerja profesional dan teknisi) dapat saja tampil dengan unjuk kerja yang sama (misalnya: menguasasi teknik kerja yang sama, menguasai prosedur kerja yang sama, dapat memecahkan masalah-masalah teknis dalam bidang kerjanya), tetapi seorang pekerja profesional dituntut menguasasi visi yang mendasari ketrampilannya yang menyangkut wawasan filosofis, pertimbbangan rasional, dan memilikii sikap yang positif dalam melaksanakn serta mengembangkan mutu karyanya.

Tokoh Masyarakat Amungme bersuara

Terkait pengangkatan dan pelantikan Wakil Menteri PUPR, seorang tokoh sekaligus intelektual OAP asal Suku Amungme, Kabupaten Mimika, Yoseph Yopi Kilangin angkat bicara dengan nada yang cukup keras  terdengar di telinga kita semua. Dia mengritisi kebijakan pengangkatan Wamen PUPR tersebut.

Melalui sebuah media Online, Yopi Kilangin —  tanpa mengurangi sedikitpun rasa hormatnya kepada Kaka Wempi —  menyatakan kekecewaannya atas pengangkatan   Wempi  yang adalah putra OAP menjadi Wamen  PUPR yang kemudia diketahui  hasil usulan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP).

“Jujur, kami sebetulnya sangat kecewa dengan penunjukan perwakilan orang Papua yang duduk dalam Kabinet Pemerintahan Presiden  Joko Widodo dan Wapres KH Ma’ruf Amin karena terkesan hanya sebagai pelengkap saja. Tapi apa mau dikata, keputusan sudah dibuat oleh Jokowi. Kami hanya berharap Wempi Wetipo bisa melaksanakan amanat itu dengan sebaik-baiknya meskipun dia bukan dari latarbelakang teknik, tapi pariwisata,” kata Yopi Kilangin, Selasa (29/10).

Namun, mantan Ketua DPRD Mimika periode 2004 – 2009 itu, meyakini bahwa penentuan figur Menteri atau Wamen merupakan hak prerogatif Presiden Jokowi.

Yopi Kilangin menyatakan penunjukan figur yang duduk dalam Kabinet Pemerintahan, apalagi mewakili Papua, daerah yang selama puluhan tahun selalu bergejolak, harus melalui pertimbangan yang matang.

:Jangan sekedar mengeangkat seseorang supaya terkesan ada tampang Papua dalam kabinet. Apakah dia punya kemampuan atau tidak di bidangnya yang ditugaskan itu. Kalau mau pilih orang Papua duduk dalam kabinet maka pilihlah orang yang tepat, punya kapasitas serta integritas,” ujar Yoseph Yopi Kilangin.

Menceramati apa yang disampaikan Yopi Kilangin di atas sembari menyadari realitas masyarakat di Papua dan Orang Asli Papua saat ini, —  dimana sebenarnya  sudah banyak orang muda OAP yang memiliki kapabilitas, kredibiltas dan integritas  yang mumpuni namun tidak sampai tertangkap “radar Istana Presiden” —  maka orang dapat saja berandai-andai dan menduga-duga (praduga tak bersalah) bahwa,  jangan-jangan dalam penentuan seseorang untuk  menduduki jabatan Menteri dan/atau Wamen yang adalah representasi Papua  pada dua pekan lalu itu,  Persada Indonesia sedang dilanda  “musim politik  dagang sapi “  yang dengan sadar, tahu dan mau  mengabaikan tuntutan profesionalisme.

Begitu pula, jangan sampai, pada menit-menit terakhir penentuan,  siapa figur OAP yang pantas dan mumpuni memangku jabatan Menteri atau  Wamen,  pertimbangan OAP atau keterwakilan Papua hanya sebagai jaket hangat  yang menutupi sembunyinya  “udang di balik batu, batu di balik udang dan udang di balik ba’wan? ***

(** Peter Tukan: Wartawan (1983-2010)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here