JAYAPURA (LINTAS PAPUA)  –  Kamasan Jack Komboy S.AP yang pada periode ketiga dipercayakan kembali oleh masyarakat untuk masa bakti 2019-2024 untuk duduk di Dewan Perwakilan Rakyat Papua (DPRP) Provinsi Papua, menggelar pengucapan syukur dan sekaligus dirinya dinobatkan sebagai anak adat atau “MAMBRI” oleh Kepala Suku Biak yang ada di Wilayah Tabi Portumbay Kota Jayapura Yason Arwam yang berlangsung di kediamannya di Kotaraja, Sabtu siang, (02/11/2019) kemarin.

Dalam acara pengucapan syukur tersebut di Pimpin langsung oleh Bapak Pdt. S .Situmeang, M. Mis. yang di hadiri oleh kepala Dinas Kesehatan Provinsi Papua drg, Aloysius Giay M. Kes, dan Om Kandung drh Constan Karma dan warga Jemaat Dispora Kotaraja serta beberapa mantan pemain Persipura seperti, Eduard Ivakdalam dan rekan-rekan lainnya.

drh Constan Karma dalam sambutannya mengatakan, kita tahu bersama bahwa Jack Komboy mamanya ini adalah saudara kandung saya yang sudah (Almh) Monika Karma dan Ayahnya (Alm) Abner Komboy.

“Saya selaku Om kandung sangat berterimah kasih kepada kepala suku Biak yang ada di wilayah Tabi untuk prosesi adat tadi sangat baik dan adat yang dipertahankan ini adalah adat yang mendukung Rohani dan Spiritual kita kepada Tuhan,” kata drh. Constan Karma yang juga selaku mantan Wakil Gubernur Provinsi Papua saat memberikan sambutan Sabtu, (02/11/2019) kemarin.

Dirinya menjelaskan bahwa “Mambri” adalah sebuah filosofi orang Biak, mambri itu pemberani, membela kepentingan banyak orang, keluarga, tempat kerja, dia berani menghadapi apa saja untuk kepentingan banyak orang itu prinsip “Mambri”.

Constan Karma juga mengatakan pernah membaca buku dari DR. Mansoben, bahwa memang dulu itu orang Biak punya rumah adat “RUMSRAM” namanya, dan dalam upacara rumsram itu filososfi, “MAMBRI” diturunkan dari orang tua didalam rumah adat rumsram.

Tetapi Bapak dan Ibu sekalian saya telusuri dalam bacaan itu pada buku Mansoben bahwa rupanya dulu Gereja Belanda melarang “Rumsram dan Worr”.

“Saya tanya Mansoben kenapa Rumsram dilarang?. Karena rumsram di kampung-kampung di Biak itu tempat tua-tua adat untuk menasehati anak-anak muda, ajar mereka bikin kebun supaya bisa kawin orang punya anak perempuan. Untuk menyelesaikan tindak pidana ringan, denda-denda,” ceritanya.

Akan tetapi ada satu unsur lagi yang merupakan tempat penyembahan “AIBUN” atau lebih di kenal tempat penyembahan berhala. Rupanya satu inilah penyebab ini dihapus, padahal ada fungsi yang lain sehingga tidak ada lagi tempat orang tua menurunkan filosofi orang tua kepada generasi berikut. Itu sebabnya bapak kepala suku sekarang di Biak itu bergeser “Mambri” bergeser kepada “AYAKADA” (Saya Ini Sudah) kamu dengar saya nah ini bergeser dia.

Dan tidak tahu harus dikembalikan bagaimana, Constan Karma juga menceritakan terkait Ludwig Ingwer Nommensen adalah seorang penyebar agama Kristen Protestan di antara suku Batak, Sumatra Utara. yang berasal dari Jerman, tetapi lebih dikenal di Indonesia. Hasil dari pekerjaannya ialah berdirinya sebuah gereja terbesar di tengah-tengah suku bangsa Batak Toba yaitu Huria Kristen Batak Protestan. Lahir: 6 Februari 1834, Nordstrand, Jerman. Meninggal: 23 Mei 1918, Sumatra. Kebangsaan: Jerman

Nomensen yang masuk ke wilayah tanah Batak 80 tahun kemudian kemudian Ottow dan Geissler 1855 di Mansinam. Saya lihat Nomensen pengaruhnya sangat besar sekali hampir semua sekolah Nomensen di tanah batak sangat luar biasa hampir semua Hukum Pengadilan yang ada di Indonesia orang Batak. Rupanya Nomensen agak beda sedikit dia tidak melarang seperti “RUMSRAM dan WORR” tapi dia arahkan ada yang diarahkan untuk memuja Tuhan.

“Kalau dulu memuja kesitu berhala skarang kamu harus memuja ke sana Tuhan. Jadi rupanya perkembangan-perkembangan sedikit seperti ini ada perbedaan perkembangan bapak kepala suku, tapi saya pikir itu adalah proses karena budaya dan adat istiadat adalah pintu masuk untuk kita membangun sebuah kelompok masyarakat. Orang merabah-rabah membangun Papua karena tidak tahu pintu masuknya. Suku di Papua banyak, maka dulu kami membuat MRP sebagai represnteasi kultural mewakili adat-adat, walaupun perkembangannya saya lihat belum kuat sekali seperti Roh yang kita mau didalam MRP kira-kira seperti itu,” terangnya.
Dari keluarga kami menyampaikan terimakasih kepada semuanya yang telah mendukung dan mendoakan anak Jack Komboy untuk kembali,membela rakyat seperti” MAMBRI”, taruhannya apa saja, tadi ada simbol parang, tombak itu artinya dia pakai untuk membela banyak orang pesannya kepada anak terkasih Jack Komboy mengakhiri sambutannya.

Sementara itu Anggota DPRP Papua Kamasan Jack Komboy dalam sambutannya mengatakan, sangat berterima kasih kepada semua masyarakat yang sudah mempercayakan dirinya kembali.

“Yang saya hormati om kandung saya Constan Karma dan juga Bapa Pdt, Bapak Pdt. S .Situmeang, M. Mis. Majelis Jemaat Dispora yang sudah hadir dan Bapak Kepala Suku Biak di Tabi Kota Jayapura Yason Arwam, Kadis Kesehatan drg Aloysius Giay M.Kes,” ujar Mambri Jack Komboy.

Pertama kita harus dan patut mengucap syukur kepada Tuhan karena apa yang sudah terjadi di hari pelantikan dan hari ini itu semua karena Tuhan Allah sehingga saya bisa ada sampai hari ini.

“Ini kiranya menjadi sebuah tanggung jawab yang baru dan sebenarnya juga kita tinggal melanjutkan. Kita akan tetap kerja seperti biasa dan mungkin akan menambah pekerjaan yang besar karena di Tahun 2020 akan ada iven besar yaitu PON Ke-XX,” bilang Jack yang juga adalah seorang Majelis di Jemaat GKI Dispora Kotaraja tersebut.

Dan PON itu kita akan kedatangan tamu di Kota Jayapura itu hampir 15 ribu tamu yang akan datang. “Jadi saya kira kenapa harus saya bicara PON karena ini iven besar yang sudah disiapkan oleh Pemerinta Provinsi Papua,” ungkapnya. (MG)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here