JAYAPURA (LINTAS PAPUA) – Hari kesehatan jiwa sedunia yang jatuh pada tanggal 10 Oktober 2019 ini di jadikan sebuah momentum Promosi kesehatan jiwa dan cegah bunuh diri “ko sehat jiwa, ko mantap, cegah bunuh diri” oleh Rumah sakit jiwa daerah (RSJD) Abepura Jayapura.

Dalam momentum ini dikeluarkan kebijakan kawasan tanpa rokok dan pelarangan makan pinang di lingkungan rumah sakit jiwa.Rumah sakit yang menampung 60-70 pasien rawat inap ini membuat keputusan menjaga lingkungan rumah sakit tetap bersih serta sehat,
Kamis (10/10/2019).

Plt. Direktur Rumah Sakit Jiwa Daerah Abepura, dr. Anton T. Mote, menyampaikan, bahwa  tujuan pelarangan merokok dan makan Pinang dilingkungan RSJD Abepura bukan saja menjadi pedoman, tapi perlindungan bagi semua pihak.

Plt. Direktur Rumah Sakit Jiwa Daerah Abepura, dr.Anton T. Mote, menyampaikan, bahwa  tujuan pelarangan merokok dan makan Pinang dilingkungan RSJD Abepura bukan saja menjadi pedoman, tapi perlindungan bagi semua pihak. saat wawancara di dampingi sejumlah staf RSJD Abepura. (Fransisca /lintaspapua.com)

“Melindungi pasien, keluarga, pengunjung dan staf terhadap insidensi penyakit fatal, dapat menurunkan kualitas hidup akibat rokok, sebagai pedoman bertindak petugas RSJD Abepura dalam pelaksanaan kegiatan pelarangan merokok. Seluruh Anggota RSJD Abepura pengunjung dan masyarakat dapat mengerti, memahami dan mampu melaksanakan larangan merokok serta makan pinang di area RSJD Abepura,” tuturnya.

dr.Anton juga menjelaskan,  boleh makan pinang di area RSJD Abepura, dipastikan ludah pinang di buang ke wadah yang dibawa sediri, karena ludah pinang pertama biasanya mengandung kuman. Salah satu fungsi pelarangan mengenai pinang ini melindungi siapa saja terkena penyakit menular akibat ludah di buang sembarangan. Untuk pelarangan rokok total di larang di area RSJD Abepura.

Komite Medik RSJD Abepura, dr. Idawati Waromi, SpKJ,, saat diwawancara. (Fransisca /LPC)

Sementara itu, Komite Medik RSJD Abepura, dr. Idawati Waromi, SpKJ, secara langsung kasus bunuh diri RSJD Abepura dari golongan remaja-dewasa muda. Penangulangan kasus bunuh diri ini dilakukan intens dari permasalahan hingga lingkungan pasien.

“Ada kasus bunuh diri yang kami tangani secara langsung, khususnya pada anak usia remaja, dewasa muda, itu yang kami layani disini dengan terapi dan pengobatan, konseling, fisioterapi, pelayanan home visit kepada pasien dan keluarga, kami evaluasi terus, kalau pasien anak sekolah kita berkomunikasi dengan gurunya,” lanjutnya.

“Kami mencari penyebab utamanya apa? Kalau kita sudah tau penyebabnya. Bunuh diri berawal dari ide, perencanaan dan tindakan. Penyebabnya biasanya adalah hubungan pacaran,problem dalam keluarga, punya keinginan meminta kepada orang tua tidak di kasih, dengan cara begitu untuk mendapatkan sesuatu,” ungkapnya. (Fransisca /lintaspapua.com)