SENTANI (LINTAS PAPUA) – Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura (TPH) Kabupaten Jayapura, Adolf Yoku, SP, MM, menyebutkan ketersediaan lahan tidur di Kabupaten Jayapura yang mencapai ribuan hektar belum dimaksimalkan untuk dijadikan lahan pertanian produktif. Karena, kata Adolf Yoku, para petani lokal lebih memilih bercocok tanam di lahan subur.

Kepala Dinas TPH Kabupaten Jayapura, Adolf Yoku, SP, MM. (Irfan / LPC)

“Ketersediaan lahan tidur di Kabupaten Jayapura yang mencapai ribuan hektar belum bisa dimaksimalkan untuk dijadikan lahan pertanian produktif, karena ketersediaan lahan subur masih sangat luas di daerah ini. Sehingga para petani lebih memilih memanfaatkan lahan subur untuk bercocok tanam dan enggan mengelola lahan tidur, karena proses pengerjaan dan juga penyiapan lahannya memakan waktu yang cukup lama,” katanya saat ditemui diruang kerjanya, pekan kemarin.
“Apalagi petani berfikir masih banyak lahan bagus untuk ditanami, dari pada susah-susah mengurus lahan tidur,” terang Adolf Yoku menambahkan.

Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura (TPH) Kabupaten Jayapura dalam mencukupi kebutuhan pangan yang terus meningkat, sedang mengupayakan pemanfaatan lahan tidur. Lahan ini biasanya terbuka atau telah ditutupi tumbuh-tumbuhan yang tidak produktif seperti alang-alang dan semak belukar.

“Karena untuk petani di Papua cenderung mereka mencari lahan yang bagus dan produktif. Jadi, kalau lahan tidur mereka biasanya tidak sentuh itu,” beber pria yang mahir berbahasa Jepang tersebut.

Katanya, pemanfaatan lahan tidur untuk dijadikan lahan produktif telah dilakukan di tahun 2018 di wilayah Hansambe untuk produksi pertanian padi ladang, termasuk telah membangun sumber air dengan luas lahan 15 hektar. Namun usaha itu dinilai belum berhasi, sebab para petani tidak serius dalam mengelola hingga akhirnya lahan tersebut terlantar dan kembali menjadi lahan tidur.

Namun upaya pemanfaatan lahan tidur masih terus digalakkan Pemerintah Kabupaten Jayapura. Dimana pada tahun 2019, Distrik Waibhu disasar untuk pemanfaatan lahan tidur dan para petani lokal akan dibantu petani dari luar yang dinilai telah mandiri dengan harapan bisa menularkan kemampuan bertani kepada petani lokal.

“Mereka petani dari asal (suku) Bugis, mereka dari kelompok tani Bugis dengan beranggotakan 14 kepala keluarga (KK) lebih,” imbuhnya.
Adolf Yoku menambahkan, setiap anggota memiliki lahan satu hektar. Pemberian lahan tersebut merupakan bentuk pembinaan dalam rangka memproduksi tanaman sayur-sayuran. Distrik Waibu dipilih sebagai daerah pertanian, karena daerah tersebut wilayahnya dikelilingi lahan tidur dan cocok dimanfaatkan untuk dijadikan lahan produktif pertanian.

“Waibhu ini adalah wilayah terbesar dan bisa digunakan, bukan yang terbesar tapi tidak bisa dimanfaatkan,” imbuhnya.

Pemanfaatan lahan tidur tidak serta-merta dapat digalakkan pada semua tempat, ia menyampaikan tetap memperhatikan struktur tanah,karena ada beberapa wilayah yang struktur tanahnya Mediterani/tanah merah yang tidak cocok untuk ditanami Tanaman pertanian.

“Karena tanah itu punya kandungan besi tinggi, jadi kurang bagus untuk ditanami sayuran. Bisa juga ditanamkan tapi harus ada dukungan lain seperti pupuk kandang dan kapur,” papar Adolf Yoku yang pernah menjabat sebagi Kepala Sekolah SPMA Kampung Harapan.

Ditambahkannya, pengalihan lahan tidur menjadi daerah pertanian produktif secara maksimal di Kabupaten Jayapura belum bisa ditentukan waktunya kapan, melihat jumlah petani lokal di Kabupaten Jayapura masih minim dan berbanding terbalik dengan ketersediaan lahan yang masih sangat luas. (Irf)