Mengapa Allah Seakan Tersembunyi Saat Ini, Tidak Seperti Dulu di dalam Alkitab ?

0
900
Hari Pentakosta: Roh Kudus Dicurahkan (1) Baca: Kisah Para Rasul 1:1-26 "Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi." (Kisah 1:8) Setelah bangkit dari kematian, selama 40 hari Tuhan Yesus menampakkan diri kepada murid-muridNya dan juga orang-orang untuk membuktikan bahwa Dia benar-benar hidup. Dan kemudian Ia pun naik ke sorga. Namun sebelum naik ke sorga Tuhan Yesus meninggalkan pesan kepada murid-muridNya (ayat nas), dan selang sepuluh hari kemudian apa yang di janjikan Tuhan itu pun digenapiNya. Hari di mana Roh Kudus dicurahkan bagi umatNya inilah disebut hari Pentakosta. Dicurahkannya Roh Tuhan ini juga merupakan penggenapan dari apa yang disampaikan oleh nabi Yoel, "...Aku akan mencurahkan Roh-Ku ke atas semua manusia, maka anak-anakmu laki-laki dan perempuan akan bernubuat; orang-orangmu yang tua akan mendapat mimpi, teruna-terunamu akan mendapat penglihatan-penglihatan." (Yoel 2:28-29).  Adapun pencurahan Roh Kudus ini terjadi di Yerusalem. Mengapa di Yerusalem? Sebab selama berada di bumi Tuhan Yesus menghabiskan banyak waktunya untuk melayani dan juga mengajar tentang firman di Yerusalem. Hal ini juga telah disampaikan oleh nabi Yesaya ribuan tahun sebelumnya, "Mari, kita naik ke gunung TUHAN, ke rumah Allah Yakub, supaya Ia mengajar kita tentang jalan-jalan-Nya, dan supaya kita berjalan menempuhnya; sebab dari Sion akan keluar pengajaran dan firman Tuhan dari Yerusalem." (Yesaya 2:3). Itulah sebabnya Yesus melarang murid-muridNya meninggalkan Yerusalem dan menyuruh mereka untuk tinggal di situ menantikan janji Bapa tersebut. "Maka kembalilah rasul-rasul itu ke Yerusalem dari bukit yang disebut Bukit Zaitun, yang hanya seperjalanan Sabat jauhnya dari Yerusalem." (ayat 12). Ada sekitar 120 orang yang berkumpul di sebuah ruangan atas. Untuk mengalami lawatan Roh Tuhan kita tidak boleh 'meninggalkan Yerusalem', artinya harus bertekun dalam pengajaran firman Tuhan dan merenungkan itu siang dan malam. Dapatkan renungan dan ilustrasi kristen terlengkap serta update setiap hari. Download di sini: https://play.google.com/store/apps/details?id=com.kristen.renunganilustrasi. (ISTIMEWA)

Alkitab merekam penampakan Allah pada manusia, melakukan mujizat yang luar biasa dan tidak bisa disangkal, berfirman dengan suara nyata, dan melakukan hal lainnya yang tidak dapat kita saksikan pada masa ini. Mengapa demikian? Mengapa Allah begitu bersedia mengungkapkan dan membuktikan DiriNya pada masa Alkitab tetapi seakan “tersembunyi” dan terdiam pada saat ini?

Salah satu alasan mengapa Allah seakan tersembunyi pada saat ini adalah dengan adanya dosa yang tidak dipertobatkan dan disengaja. “Mereka sendirilah nanti akan berseru-seru kepada TUHAN, tetapi Ia tidak akan menjawab mereka; Ia akan menyembunyikan wajah-Nya terhadap mereka pada waktu itu, sebab jahat perbuatan-perbuatan mereka” (Mikha 3:4) – (lihat juga Ulangan 31:18; 32:20).

Dan juga, tanpa iman berkenan kepada Allah adalah hal yang mustahil (Ibrani 11:6). Kadang bukti keberadaan Allah terlewatkan oleh kaum manusia karena mereka menolak percaya (lihat Markus 6:1-6) – adalah sulit untuk memandang sesuatu jika menolak membuka mata.

Jauh dari keberadaan tersembunyi, Allah telah melengkapi sebuah rancangan pewahyuan progresif pada umat manusia. Dalam proses komunikasi-Nya melalui berabad-abad, Allah terkadang menggunakan mujizat dan komunikasi langsung dengan manusia demi mengungkapkan sifat-Nya, instruksi-Nya, dan rancangan-Nya. Di tengah komunikasi itu, ada juga kesunyian. Kuasanya tidak seberapa terlihat, dan pewahyuan baru tidak segera terungkap (lihat 1 Samuel 3:1).

Penciptaan adalah pernyataan-Nya yang pertama kepada manusia.”Langit menceritakan kemuliaan Allah, dan cakrawala memberitakan pekerjaan tangan-Nya” (Mazmur 19:1). Setelah penciptaan, Allah berbicara dengan manusia untuk menambah pewahyuan tentang DiriNya dan menceritakan rancangan-Nya.

Secara pertama Ia berbicara kepada Adam dan Hawa, dengan memberi mereka perintah yang perlu diikuti, dan ketika mereka melanggarnya, sebuah kutukan. Ia juga memastikan kepada mereka serta seluruh umat manusia bahwa Ia akan mengutus seorang Juruselamat untuk menyelamatkan kita dari dosa.

Setelah pengangkatan Henokh ke surga, terlihat seakan Allah “tersembunyi” lagi. Namun kemudian, Allah berbicara dengan Nuh guna menyelamatkan dia bersama keluarganya, dan kepada Musa dengan memberinya Hukum yang perlu dipelihara umat-Nya. Allah melakukan mujizat demi membenarkan Musa sebagai nabi-Nya (Keluaran 4:8) dan melepaskan Israel dari Mesir. Allah melakukan mujizat pada kala Yosua demi menetapkan Israel di Tanah Perjanjian dan lagi pada waktu Elia dan Elisa untuk membenarkan para nabi dan melawan berhala.

Di tengah campur tangan Allah yang begitu nyata, lewatlah bergenerasi-generasi tanpa melihat mujizat atau mendengar suara Allah. Banyak pada waktu itu yang mungkin berpikir, “Mengapa Allah begitu tersembunyi pada waktu ini? Mengapa Ia tidak mengungkapkan DiriNya?” Ketika Yesus datang ke bumi, setelah 400 “tahun sunyi” dari Allah, Ia melakukan mujizat untuk membuktikan bahwa Ia benarlah Anak Allah dan demi mengembangkan iman pada DiriNya (Matius 9:6; Yohanes 10:38). Setelah kebangkitan-Nya, Ia memampukan rasulNya untuk terus melakukan mujizat guna membuktikan bahwa mereka benar diutus oleh-Nya, sekali lagi, supaya orang akan percaya pada Yesus dan memperhatikan apa yang sedang ditulis para rasul di dalam Perjanjian Baru.

Adapun beberapa alasan mengapa, setelah waktu para rasul, Allah tidak lagi bersuara pada kita atau membuktikan DiriNya. Seperti yang kita tulis di atas, Allah telah berfirman. FirmanNya sudah ditulis, dan dipelihara bagi kita dari masa ke masa. Alkitab sudah lengkap. Pewahyuan progresif Allah sudah selesai (Wahyu 22:18).

Sekarang kita memiliki Alkitab yang lengkap, dan kita tidak lagi membutuhkan mujizat untuk “membenarkan” Alkitab, yang telah dibenarkan. Di dalam Alkitab Firman Allah menyediakan segala sesuatu yang kita butuhkan untuk “untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran” (2 Timotius 3:16).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here